Cerita Nyata: Pemuda Mengintip Gadis Cantik lagi Mandi, Akibatnya Selalu Kepikiran Tiap Hari




Cerita ini disampaikan oleh salah satu tokoh agama dalam ceramahnya. Sebagai penggugah bertaubat dan menjaga rasa takut pada Allah SWT bagi para jamaahnya. Walaupun ada dosa, tapi tak boleh putus asa untuk mendekatkan diri pada-Nya.



Tulisan ini berkisah tentang salah satu sahabat Nabi bernama Tsa'labah bin Abdurrahman. Ia berusia sekitar 16 tahun. Rasa cinta dan takunnya pada Allah tidak hanya sekadar di lidah. Semua itu menyatu hingga seluruh tulang, otot, hingga darahnya "ikut" terbawa perasaan.


Pada suatu hari ada peristiwa yang membuat Tsa'labah merasa telah bermaksiat yang sangat besar. Saking membebani hati dan pikiran, membuatnya menjauhi Rasul dan para sahabat lain. Ia takut pada Allah SWT. Lalu memutuskan untuk menyendiri di bukit.


Bisa dibilang keimanan Tsa'labah sudah tertanam kuat. Terbukti, saat ia menuju ke padang pasir untuk menunaikan hajat ada hal yang membuatnya gundah. Perlu diketahui, pada zaman dulu orang yang buang hajat harus ditunaikan di tengah padang pasir.


Saat berjalan cepat, tanpa disadari melewati tempat mandi khusus perempuan. Di mana, tempat itu tertutup daun pohon kurma hingga menutupi atas kepala. Adapun kamar mandi untuk laki-laki bagian atasnya terbuka, sehingga kepala manusia bisa terlihat.




Waktu itu ada gadis cantik dari kalangan ansor (penduduk asli Madinah) yang sedang mandi. Perempuan itu terkenal sangat cantik dan berkulit putih bersih. Berhubung dindingnya terbuat dari pelepah kurma, sempat sedikit tersingkap terkena angin. 


Tsa'labah sempat melihat sepintas bagian tubuh gadis tersebut. Walau tak melihatnya telanjang penuh, tapi itu sudah cukup mengganggu hatinya. Padahal dia tak ada niat sengaja mengintip. Akibatnya tubuhnya kesemutan, ototnya lemas kesakitan, dan tulang-tulangnya gemetar.


Kemudian ia naik ke atas salah satu bukit tinggi di negeri Madinah. Empat puluh hari tak pernah turun. Menyendiri untuk merenung serta karena takut pada Allah. Di sana ia bertaubat pada Allah, mengerjakan salat, dan makan maupun minum. Hatinya kokoh tak mau pulang.


Di sisi lain, Nabi Muhammad SAW memiliki tradisi. Yakni, seringkali setelah salat berjamaah melihat sahabat-sahabatnya (makmum). Disebabkan Tsa'labah tak pernah di bagian barisan depan karena ia masih remaja, maka nabi tak begitu menyadari ada keganjilan.


Setelah 40 hari berlalu, malaikat Jibril memberikan kabar pada Rasul. Jibril berkata "Wahai Muhammad, Allah memerintahkan kau untuk memanggil Tsa'labah yang sedang berada di atas gunung karena dia merasa bersalah dengan dosanya." 


Lalu Nabi mengutus beberapa sahabat mencari Tsa'alabah. Singkat cerita, ia ditemukan. Dibawalah ia ke Madinah. Begitu memasuki Masjid Nabawi, keringat dingin mengalir di tubuhnya. Wajah Tsa'labah memerah. Nampak ketakutan sekali. 


Kata Rasulullah "Ada apa dengan engkau wahai Tsa'labah?"


Anak muda itu menjawab "Ya Rasulullah, saya telah melakukan maksiat yang besar sekali."


Kata Nabi "Ramhat-Nya Allah lebih luas."


Lantas iqomah berkumandang, tanda sholat berjamaah dilaksanakan. Nabi dan para sahabat mendirikan salat berjamaah. Begitu pula dengan Tsa'labah. Dalam salat Nabi membaca ayat tentang neraka. Akibatnya Tsa'labah pingsan dalam salatnya.


Sesampainya salat jamaah usia, para sahabat menghampirinya. Nabi Muhammad datang membangunkan. Setelah sadar beliau berkata "Ada apa dengan engkau wahai Tsa'labah?" 


Ia menjawab "Ya Rasulullah, saya melakukan dosa yang sangat besar bagi saya. Selama empat puluh hari saya terus diselimuti dengan ketakutan. Masalah luar biasa. Saya melihat perempuan dengan tidak sengaja lagi mandi."




Nabi berkata "Rahmat Allah luas, mohon ampunlah."


Ia masih gusar "Ya Rasulullah, tapi hati saya betul-betul masih terganggu dengan hal ini."


Tak lama setelah itu para sahabat pulang ke rumah. Menyusul kemudian, sampailah berita pada Nabi bahwa Tsa'labah sakit di rumahnya. Beliau menjenguk ke rumahnya. Beliau ingin meletakkan kepala Tsa'labah di atas paha Nabi. Namun, ia terus menjauhi Rasul.


Kata Nabi Muhammad SAW "Kenapa engkau menjauhi kepalamu dariku?"


Dia mengatakan "Ya Rasulullah, kepala saya penuh dengan dosa."


Maka Rasul berkata "Rahmat Allah luas, apa yang engkau rasakan wahai Tsa'labah?"


Ia berkata "Ya Rasulullah, semenjak saya melakukan perbuatan tersebut hati ini rasanya seperti sedang direnggut serta ditekan sesuatu, tulang-tulakang saya gemetar, otot kesakitan, dan tubuh kesemutan semuanya. Saya merasa ketakutan yang luar biasa." 


Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berkata "Apa harapanmu?"


Ia mengutarakan "Harapan saya, agar Allah memaafkan semua dosa-dosa dan kesalahan saya."


Pada saat itu juga Nabi Muhammad mendapat wahyu melalui malaikat Jibril, yang berkata "Sampaikan pada Tsa'labah wahai Muhammad, kalau Allah sudah memaafkan, bukan hanya itu, tapi semua dosa-dosanya."


Nabi memberikan kabar kepadanya "Wahai Tsa'labah, terimalah berita gembira, karena sesungguhnya Allah telah memaafkanmu, dan Jibril datang menyampaikan wahyu itu." 


Tahu akan hal itu Ia pun bergembira senyum. Secara refleks ia bertakbir lalu meninggal dunia. 


Nabi Muhammad langsung memerintah para sahabat untuk segera mengurus jenazahnya. Dimandikan, dikafani, dan disalati. Saat proses menuju pemakaman ada peristiwa gaib terjadi. Hal itu ditandai dengan jalannya nabi yang tak seperti biasa. Berjinjit-jinjit tertumpu pada ujung kaki.

Ilustrasi galian untuk pemakaman (sumber gambar)

Kata salah satu sahabat bertanya "Ya Rasulullah, kenapa Anda lalukan itu?"


Nabi memberikan alasan "Saya merasa malu dengan para malaikat, dan saya tak bisa menghitung jumlah mereka yang sedang datang melayat jenazahnya Tsa'labah."


TAMAT





Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)