Ciri-ciri Manusia Palsu yang Tak Pantas Dijadikan Teman

"Manusia palsu ialah orang yang tersenyum dan berkata teramat manis tatkala dia sedang butuh. Namun, akan membalik wajah ketika sudah terpenuhi kebutuhannya." (*Banjir Embun*)


Manusia palsu adalah individu yang mempunyai daya nalar tapi digunakan untuk mengelabui, menipu, dan memenuhi ego pribadi. Ia lebih tulus pada diri sendiri dan golongannya. Tipe manusia semacam ini bisa ditemui pada siapapun. Termasuk teman sekolah, kuliah, kerja, atau lainnya.


Ilustrasi manusia palsu (sumber gambar)


Memang sih, tidak sepenuhnya "kepalsuan" itu salah. Asal tujuannya demi membahagiakan orang lain. Di mana, hanya bertujuan menutupi aib yang dimiliki oleh orang lain. Dengan tindakan tersebut diharapkan suasana jadi lebih positif dan produktif.





Misalnya nih dengan mengatakan "kamu hari ini tampak cerah". Ungkapan itu bisa menjadi baik bila tujuannnya baik. Yakni, untuk menyenangkan hati orang yang dipuji tersebut. Tanpa ada tendensi apapun. Tulus dari hati. Tujuannya untuk menjaga suasana tetap hangat. 


Baca juga:
Ciri-ciri Individu Masuk Golongan Generazi Z 

Halaman Facebook yang Inspiratif  Namanya "Catatan Dahlan Iskan"


Namun, akan menjadi buruk ketika dibalik pujian itu ada "maunya". Bahkan ada motif "kelicikan" tertentu. Alih-alih bahagia, malah antara pujian yang diterima dengan derita sakit hati yang menimpa tidak setimpal. Sebab, di balik pujian itu ternyata ada "tusukkan" dari belakang.


Nah, yang kita bahas di sini adalah spesies yang digolongkan sebagai manusia palsu dalam arti negatif. Yakni, manusia yang tidak punya empati, tidak tulus, dan berbuat baik karena ada maunya. Sayangnya jenis manusia semacam itu sulit untuk dideteksi. Biasanya baru bisa dirasakan ketika nasi sudah terlanjur jadi bubur.


Siapa sih yang tidak mau berteman dengan manusia yang benar-benar manusia. Memiliki sifat tulus dan jujur saat menjalin hubungan. Tidak ada yang disembunyikan, bila itu memang baik dan harus diketahui bersama. Manusia yang tak bermuka dua. Apalagi menjadi ular berkepala dua. 


Kalian tak perlu khawatir lagi. Kami akan memberikan beberapa ciri manusia palsu di bawah ini. Harapannya, setelah kalian tahu bisa membuat kalian jauh lebih "care" lagi pada diri sendiri. Jangan mau lagi dijadikan alas kaki bagi mereka. Agar hidup kalian tak bakal menderita. Berikut ini ciri-ciri manusia palsu menurut *Banjir Embun*:


1. Pura-pura mendekati

Kepalsuan yang dilakukan ialah melakukan silaturahim kalau ada maunya. Bertanya kabar dan menyapa hangat karena ingin mengambil hati. Saat kebutuhannya sudah terpenuhi maka ia pergi begitu saja. Tak seberapa lama kemudian sifat aslinya muncul kembali.


Bahkan, ketika orang yang pernah membantunya balik butuh bantuan ia jadi amnesia. Mengabaikan jasa orang lain. Orang ini bukan hanya sekadar tak tahu balas budi. Malah lebih hina dari itu. Sebab orang yang tak tahu balas budi belum tentu ia sendiri yang minta pertolongan.


Sedang orang keji semacam itu sudah minta tolong, ketika diminta tolong balik malah kabur. Inilah yang disebut mental pengemis. Sebab yang namanya pengemis pasti tidak akan membalas jasa pada pemberinya. Entah gelar apalagi yang lebih buruk dari pada kata "hina" yang pantas diberikan. 


2. Beda sikap ketika menghadapi situasi beda

Ciri-ciri nomor dua ini sangat mirip dengan ciri-ciri orang munafik. Yakni, ketika diberi kepercayaan ia berkhianat. Ia dipercayai akan konsisten dalam setiap situasi. Namun nyatanya jauh dari itu. Justru kepalsuan yang ada. Bisa dikatakan orang munafik itu masuk golongan manusia palsu.  


Kalian pernah merasakan ketika ada teman yang bicaranya menyenangkan dan tampak "care" saat berdua saja maupun di chat pribadi. Namun, saat bersama yang lainnya ia tidak tunjukkan itu. Bahkan cenderung sebaliknya. Sudah jelas orang seperti itu pantas dimasukkan manusia "palsu".




Begitu pula saat ia sedang dalam situasi terhimpit. Ia akan tampak berbaik hati. Mencari tambatan gelisahnya hati. Namun, saat kondisi sudah tidak menyesakkan dada lagi ia jadi berubah. Ia menjauhi orang yang pernah merangkulnya. Malah berkumpul dengan orang-orang "seberang".


Contoh lainnya, ialah ia akan bersikap lebih hormat pada orang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan. Tapi ketika kekayaan dan kekuasaan itu hilang maka ia akan meninggalkannya. Situasi yang tidak mendukungnya itu membuatnya mudah berubah. 


3. Suka bergosip dan membicarakan kejelekan orang lain

Bergosip itu cenderung kepada tindakan fitnah. Yang benar atau salahnya belum dapat dipastikan. Baik gosip maupun membicarakan kejelekan dengan tujuan "menghancurkan" kehidupan orang yang dibicarakan, keduanya merupakan tindakan salah. Tidak patut untuk dilakukan.


Bila membicarakan kejelekan orang lain dengan tujuan untuk mengentaskan orang yang dibicarakan dari masalah yang dihadapi maka itu tak masalah. Sebab tujuannya untuk mencari solusi. Untuk mencari kebenaran tentang berita jelek itu. Dengan itu pihak yang dibicarakan tidak akan dirugikan.


Sayangnya, manusia palsu akan selalu suka membicarakan kejelekan orang lain. Sebaliknya, ia akan tersinggung bila diberi masukkan atas kejelekan dirinya. Orang seperti ini sudah jelas merupakan manusia palsu. Ia tak pantas dijadikan teman. Sebab bisa jadi kejelekan kalian juga akan dibukanya pada kesempatan lain.


4. Memberi janji palsu (PHP)

Bila kalian menemukan teman memberi janji tapi tanpa bukti nyata maka jangan lupakan itu. Beri peringatan pada diri sendiri untuk lebih berhati-hati terhadap spesies itu. Orang itu memberi janji karena motif tertentu. Misal, janji itu diucapkan hanya untuk mengamankan posisinya saja. Tanpa niat serius untuk merealisasikan.


Ketika posisi sudah aman, barang tentu ia akan melupakan janji-janjinya di masa lalu. Itu sekaligus menunjukkan ia meremehkan orang yang diberi janji. Ia menganggap orang yang diberi janji bisa dibodohi. Ia menjadikan orang yang dibodohi itu sebagai alas kaki untuk memuluskan jalannya.

Baca juga:

Clickbait: Pengeklik Link Diposisikan Sebagai Orang Bodoh

Puisi: Sampah Terhormat 


Well, manusia jenis ini omongannya jangan kalian anggep. Bayangkan saja setiap mulutnya terbuka untuk bicara adalah onta yang sedang kentut. Ia sangat pintar sekali berkelit. Membolak-balikan omongan. Cara bicaranya licin. Lebih licin dari belut yang diberi oli. Sungguh mengerikan.


5.  Melakukan pencitraan diri

Tidak ada yang salah bila ingin membangun citra diri. Itu sangat baik. Namun ketika citra yang ditunjukkan adalah bukan dari jati dirinya sendiri itulah yang akan jadi masalah. Bahkan citra diri itu dieksploitasi dengan cara berlebihan. 




Manusia semacam itu mau melakukan pencitraan dengan tujuan untuk mencari perhatian. Mereka melakukan itu demi untuk mendapat sebuah pujian atau bahkan pengakuan dari sekitarnya. Bisa juga citra itu dibangun untuk mengalahkan kepamoran kalian yang lebih dulu unggul.


Misalnya nih, kalian ke kantor membawa mobil baru karena alasan tertentu. Bukan alasan untuk dipandang "wah" oleh orang lain. Namun, teman "palsu" kalian menanggapi beda. Ia tak mau kalah dengan kalian. Akhirnya ia juga menandingi naik mobil saat datang ke kantor. Entah itu mobil siapa.



Selain 5 ciri di atas, manusia palsu juga memiliki sifat-sifat tercela. Beberapa di antaranya ialah suka mengadu domba, menghasut, menjerumuskan, memanfaatkan, memusuhi orang yang lebih unggul, acuh atak acuh, berkhianat, berbuat curang, meniru, menipu, menjilat, manipulasi, dan lain-lain.


Demikian tulisan ini dibuat. Mohon maaf atas segala kekurangan. Semoga bermanfaat. 
  




Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece

Pernah Dengar Istilah "Kotak Pandora"? Inilah Kisah di Baliknya

Cara Memecah Sertifikat Tanah Hasil Hibah, Turun Waris, dan Bertujuan untuk Bisnis Tanah Kaveling Perorangan

3 Kerugian Investasi di Perumahan Raksasa Berkonsep Kawasan Kota Mandiri

Visi dan Misi dalam Bekerja