Ulasan Film Happy Death Day 2U: Jenis Film Gak Jelas Tapi Memuaskan

Sebenarnya saya ragu mau nonton film Happy Death Day 2U. Takut kalau-kalau film tersebut berjenis film horror. Itu film yang tidak saya sukai. Sama sekali tidak suka dan tidak bisa ditawar-tawar. Sebenarnya saya tertarik dengan film itu setelah menyaksikan trailernya. Yakni, saat di bioskop sebelum menyaksikan film THE KNIGHT OF SHADOWS: BETWEEN YIN AND YANG. Lucunya, film itu juga sempat saya ragukan. Bisa bikin saya terhibur atau tidak.
 
 
Tokoh utama bersama tokoh pembantu (sumber gambar)


Berbekal dari melihat trailer itu saya bertaruh dengan membeli tiket ke bioskop. Andaikan ini film horror maka saya harus lebih banyak memejamkan mata. Andaikan tidak ya syukur Alhamdulillah. Maklum saja, saya terbiasa tidak pernah membaca sinopsis, ulasan, atau review film sebelum memilih film apa yang akan saya tonton. Dengan melihat poster film dan trailer bagi saya sudah cukup. Sayangnya entah bagaimana ceritanya saya tak sempat melihat poster film itu.



Dari kilasan alur cerita di trailer itu saya meraba-raba ini cerita menarik. Kisahnya hampir sama dengan film Edge of Tomorrow: Live Die Repeat yang pernah saya tonton dulu. Kalau tidak salah tahun 2014 yang lalu. Film yang dibintangi Tom Cruise itu juga menceritakan tentang mati lalu hidup lagi. Mati lalu hidup lagi hingga berkali-kali. Di mana, setelah hidup kembali memori bahkan termasuk ketrampilan yang di dapat sebelum kematiannya masih tersimpan.


Dengan kenyataan seperti di atas, maka makin sering mati akan makin banyak memori (ingatan/pengetahuan) yang tersimpan di dalam otak. Persamaan lainnya antara kedua film itu adalah dalam penyebab terjadinya fenomena "mati-hidup" berulang kali oleh tokoh utamanya bisa ditemakan. Yang satunya disebabkan karena faktor keterlibatan "alien" atau makhluk luar angkasa. Sedang yang satunya lagi disebabkan oleh produk "gagal" uji coba teknologi canggih.



Bedanya untuk film Happy Death Day 2U ini, sayangnya jumlah kematiannya tak diketahui sampai mana batasnya. Cuma hanya ada indikasi makin sering mati maka kondisi fisik tubuh akan menurun. Sedang di film Edge of Tomorrow: Live Die Repeat tanda "akhirnya" ialah bila pelaku utamanya melakukan donor darah. Dengan berdonor darah maka kekuatan yang bikin "abadi" itu akan hilang. Larut bersama darah yang didonorkan.


Film ini diawali dengan cerita yang nampaknya sengaja dikesankan horror. Mulai dari backsound film yang bikin mrinding berkidik hingga gerak-gerik dan mimik muka salah satu tokoh yang bikin deg-degan. Mohon maaf, saya harus banyak memejamkan mata di awal cerita yang seperti itu. Mulai mencoba menerima kenyataan takdir. Yakni, harus menonton film horror. Film yang dapat menyiksa sampai film itu habis.


Syukurnya, plot twist (kejadian tak terduga yang merubah arah film dengan tajam) terjadi tak menunggu lama. Arah alur cerita mulai bisa diraba. Jenis filmnya juga dikit demi sedikit mulai jauh dari kata horror. Bahkan setelah itu, salah satu film yang dapat memuaskan saya ini akhirnya dipenuhi drama keluarga, drama cinta, drama pertemanan, dan dibumbui dengan komedi serta tentunya teknologi fiksi ilmiah. Hampir komplit, semua jenis film ada di film tersebut.

Dari  sisi drama keluarga misalnya, tokoh utama mengalami konflik batin dengan ibunya. Adapun dari segi drama cinta tokoh utama yang berkelamin perempuan harus "berjuang" keras mendapatkan cintanya. Di mana hal yang paling dramatik ialah ketika ia menyelamatkan nyawa pria idamannya itu. Dapat dikatakan dari segi drama cinta film ini sangat mirip dengan film Alita: Battle Angel yang pernah saya tonton.


Dari segi drama pertemanan film Happy Death Day 2U juga menceritakan drama penghianatan teman. Sedang di sisi beda ada teman lain yang harus diselamatkan oleh tokoh utama. Selain itu film ini juga dibumbui dengan beberapa kali lelucon. Namun, tingkat lucunya masih belum renyah. Serta penjelasan dari segi teknologi fiksi ilmiah dari salah satu tokoh kurang begitu mudah dipahami. Penyebab, "mati-hidup" berulang kali belum dijelaskan secara gamblang.


Dari kenyataan di atas, maka dengan tegas saya katakan film ini merupakan film yang "gak jelas". Maksud gak jelas itu adalah film tersebut masuk dalam jenis apa masih sulit dipastikan. Bilapun mau dipaksakan, seharusnya masuk film fiksi ilmiah. Namun, itu juga masih bisa terbantahkan. Sebab teknologi ilmiah yang digunakan cuma satu alat saja. Selain itu semuanya teknologi "normal" masa kini. Fungsi alat itu hanya sebagai alasan mengapa "mati-hidup" itu bisa terjadi.




Salah satu teori yang dijelaskan oleh peran pembantu (bukan tokoh utama) ialah adanya "efek kupu-kupu" pada peristiwa "mati-hidup". Jujur saya sangat suka dengan teori itu. Teori yang pernah saya pelajari. Bahkan saya pernah menulis tentang teori itu di sebuah artikel yang berjudul Perjalanan Waktu: Dua Teori Modern Tentang Pergeseran Waktu (Butterfly Effect dan Mandela Effect). Sayangnya, penjelasan kaitan antara teori itu dengan film ini masih sulit dipahami.


Jujur saja saya sangat suka film fiksi, aksi, dan fantasi. Seperti film yang alur ceritanya terkait teknologi canggih, film perjalanan di luar angkasa, film tentang strategi militer (yang fiksi bukan yang berdasar kisah asli), film detektif, film persaingan, dan masih banyak lagi lainnya. Film ini termasuk film yang masuk kategori itu. Oleh sebab itu, dalam mengulas beberapa film di website Banjirembun.com saya hanya berkutat pada film yang bergenre itu-itu saja.


Demikain ulasan kami. Mohon maaf atas segala kekurangan. Semoga menghibur dan bermanfaat.




Komentar