Cara Menjadi Pribadi yang Tenang


Bagi kalian yang punya kebiasaan gugup, terburu-buru baik saat bicara maupun bertindak, ceroboh, gagap, susah menata omongan, atau yang semacamnya sebaiknya baca tulisan ini baik-baik. Semoga setelah membaca tulisan ini kalian mampu menjadi pribadi yang elegan, tenang, dan penuh wibawa saat berinteraksi dengan khalayak. Untuk mencapai hal itu kalian perlu latihan beberapa hal. Sebagaimana yang telah diulas dalam tulisan ini.


Komunikasi atau interaksi merupakan kunci sukses seseorang dalam bersosialisasi. Selain tampilan fisik, kelihaian lidah dalam mengolah kata merupakan hal utama. Sebagaimana ungkapan orang jawa "Ajine rogo soko busono, ajine ati soko lathi". Artinya kurang lebih berharganya raga (tubuh) dari busana dan berharganya hati dari lidah (ucapannya). Maknanya jagalah lidah dari "terpeleset" baik karena kebiasaan maupun karena kondisi sedang tidak tenang.




Mengetahui kenyataan di atas idealnya seseorang dalam situasi sesulit apapun tetap akan tenang, percaya diri, mampu mengendalikan diri, dan dapat menjadi teman bicara yang menyenangkan. Bukan sebaliknya yang malah membikin suasana semakin panik, membingungkan, dan membuat orang di sekeliling menjadi pesimis. Bahkan membuat segalanya menjadi kacau. Biasanya figur semacam itu merupakan teman yang akan ditinggalkan oleh yang lainnya.


Langsung saja. Agar kalian tak beralur-larut lagi dalam kesendirian akibat terperangkap dalam pribadi yang tak tenang berikut ini kami paparkan beberapa cara mengatasinya:


1. Lawan tekanan dengan rileksasi

Seseorang yang mengalami kondisi tak tenang biasanya karena sedang ditekan oleh keadaan. Ia sebenarnya tak mau atau bahkan sebenarnya merasa tak mampu tapi keadaan memaksa untuk melaluinya. Tetap gunakan akal sehat dan tetap realistis dalam bertindak. Jangan berbuat atau berkata sesuatu yang di luar kemampuan. Ambil nafas dalam-dalam sebentar lalu keluarkan sedikit-sedikit dalam waktu lama. Lalu bertindaklah atau ungkapan apa yang perlu diungkapkan sesuai batas kemampuan.


Ilustrasi ketenangan (sumber gambar)


Jangan biarkan tubuh kalian dikalahkan oleh tekanan di sekitar. Sebab bila kalah maka tubuh otomatis akan beralih ke "mode" siap untuk bertarung. Siap untuk melawan tekanan di sekitarnya. Akibatnya tentu buruk. Ucapan hingga tindakan konyol akan "muntah" begitu saja. Kalau sudah begitu kalian akan sulit menata omongan dan menata tindak tanduk. Oleh sebab itu sebelum itu terjadi rilekskan tubuh, otak, dan jiwa kalian.


Hiduplah dengan penuh rasa syukur. Tidak hanya sekedar mengucapkan "alhamdulillah" tapi juga harus bisa menikmati hidup dengan benar agar tak membosankan. Dengan begitu kalian akan terbiasa dan tahu cara mengistirahatkan tubuh ketika tekanan datang tiba-tiba. Tubuh tidak lagi terlalu reaktif ketika tekanan datang tiba-tiba. Tidak ada lagi degup jantung bergerak cepat. Pun tidak ada lagi keringat keluar deras. Apalagi kegugupan, itu akan sirna dengan sendirinya ketika tubuh tahu apa yang harus dilakukan.


2. Memahami gejala dan penyebab ketidaktenangan

Memahami kondisi diri itu penting. Bila kalian menyadari diri bahwa sedang mengalami gejala ketidaktenangan maka kalian akan bisa mengantisipasinya sebelum itu benar-benar terjadi. Lalu berlarut-larut sehingga menjadi penyakit akut yang sulit untuk dihilangkan. Di antara gejala keseharian seseorang sedang tidak tenang ialah susah tidur (insomnia), mudah lupa, mengucilkan diri dari kehidupan sosial, manajemen waktu dan manajemen diri yang tidak baik, terjadinya konflik dalam sebuah hubungan, dan lain-lainnya.


Ketidaktenangan yang sudah "berkerak" atau menjadi karakter seseorang bisa disebabkan pola asuh orang tua yang salah. Salah satunya karena di masa kecil sering kali mendapat bentakan dari orang tuanya. Akibatnya ia menjadi pribadi yang akhirnya mengalami "kesulitan" saat bicara di masa dewasanya. Bisa juga perasaan tertekan datang akibat dari diri sendiri. Misalnya adanya perasaan yang terlalu khawatir, cemas, bosan, atau hal-hal lainnya.




Setelah mengetahui gejala dan penyebabnya tentu langkah selanjutnya kalian harus memperbaikinya. Bagaimana agar "penyakit" ketidaktenangan itu bisa sirna dari hinggapan tubuh. Salah satu caranya tentu melakukan tindakan nyata secara eksidental hingga berkelanjutan untuk melatih tubuh agar tidak lagi menjadi pribadi yang tak tenang. Bahkan bisa jadi membutuhkan terapi khusus yang mungkin hanya kalian sendiri atau ahli/pakar kejiwaan yang tahu bagaimana melakukannya.


3. Punya kematangan dan prinsip kuat


Orang yang punya prinsip kuat tidak akan bisa diprovokasi atau dikompori oleh orang lain. Ia akan sibuk dengan hal-hal yang produktif. Ia lebih mengutamakan proses daripada hasil. Hal-hal yang berbau instan sangat dihindarinya. Ia sangat kaya pengalaman. Hal-hal yang bersifat darurat merupakan makanan sehari-hari baginya. Mereka lebih banyak menyibukkan untuk memperbaiki diri dari pada "meladeni" tekanan dari orang-orang yang sesungguhnya mereka hanyalah tipe manusia penuntut.


Orang yang punya kematangan dan prinsip kuat bukan berarti ia tak peduli pada keadaan sekitar. Sebenarnya ia sangat peduli. Namun, ia tidak menunjukkan rasa kepeduliannnya dengan bentuk "kepanikan". Ia menyelesaikan masalah dengan berpikiran jernih dan berhati lapang sehingga tidak lagi menambah suasana menjadi lebih tegang. Baginya tekanan dari sekitarnya merupakan bentuk ujian kesabaran dalam mengendalikan diri. Diam lantas mundur sejenak dari konflik merupakan gaya dia dalam menguasai ego.

Itulah tiga hal yang harus dilakukan supaya kalian bisa menjadi pribadi yang tenang. Cukup sekian tulisan ini. Terima kasih telah membaca. Mohon maaf atas segala kekurangan. Semoga Bermanfaat.






Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece

Pernah Dengar Istilah "Kotak Pandora"? Inilah Kisah di Baliknya

Cara Memecah Sertifikat Tanah Hasil Hibah, Turun Waris, dan Bertujuan untuk Bisnis Tanah Kaveling Perorangan

3 Kerugian Investasi di Perumahan Raksasa Berkonsep Kawasan Kota Mandiri

Visi dan Misi dalam Bekerja