Mengapa Manusia butuh Pengakuan? Ternyata Inilah Alasannya



Manusia adalah makhluk sosial. Kita semua sudah tahu itu. Sebagai makhluk sosial manusia punya kebutuhan. Tak hanya masalah biologis tapi juga psikologis. Salah satunya ialah butuh pengakuan dari orang lain. Sebab dengan adanya pengakuan itu maka seseorang tidak akan lagi diremehkan apalagi ditinggalkan oleh manusia lain. Baik itu di dunia nyata maupun di media sosial.


Pernahkah kalian merasa susah-gelisah ketika postingan yang sudah diunggah ke media sosial tak mendapat tanggapan pengguna lain? Misalnya like, coment, hingga share. Pernahkah juga kalian dicuekin saat urun rembuk di sebuah forum masyarakat lalu kalian merasa kesal? Bila jawabannya iya maka kalian tergolong manusia butuh pengakuan terhadap eksistensi diri.


Lantas, mengapa rasa ingin diakui oleh orang lain bisa muncul dalam diri individu? Berikut ini beberapa ulasannya:


1. Butuh pujian dan perhatian (gila hormat)

Terkadang seseorang ingin diapresiasi atas segala aktualisasi atau usahanya. Lebih-lebih terhadap hasil yang sudah dicapainya. Bahkan baginya hanya dengan bentuk ucapan "Terima kasih", "Tolong", "Maaf" hingga pujian "Hebat" merupakan bentuk penghargaan tersendiri.  Itu sebagai salah satu bukti bahwa "adanya harus tidak sama dengan tidak adanya". Ia terobsesi diri pada prinsip "keberadaannya harus menjadi perhatian dari yang lainnya". Baginya perhatian sama dengan penghargaan.


Untuk mendapatkan pujian dan perhatian orang lain butuh popularitas (ketenaran). Dengan itu maka ia akan dikenal banyak orang. Dengan dikenal banyak orang ia merasa diakui sebagai orang yang supel, gaul, dan hebat. Sayangnya untuk mencapai ketenaran itu banyak orang melakukan hal-hal konyol. Alih-alih dikenal oleh banyak orang karena hal-hal positif dalam dirinya. Malah ia dikenal sebagai orang yang "menjual" harga dirinya.


2. Meletakkan sebuah "pengakuan" sebagai segala-galanya


Pengakuan dari orang lain bukanlah segala-galanya. Sebab bila kalian memburu pengakuan maka hidup kalian akan selalu merasa ada yang kurang. Akhirnya ketenangan hidup akan sirna. Bahkan karena saking terobsesinya pada sebuah pengakuan kalian bakal melakukan tindakan yang konyol. Bagi kalian mungkin itu suatu hal yang penting. Namun bagi orang yang melihatnya itu adalah tindakan memalukan.
 
Ilustrasi tanda jempol sebagai bentuk pengakuan (sumber gambar)


Dalam konteks agama, seharusnya manusia tidak butuh pengakuan manusia. Sebab ia hanya butuh pengakuan dari Tuhan semata.  Baginya hinaan atau pujian dari manusia adalah sama saja. Sama-sama diucapkan oleh makhluk yang sederajat. Hinaan tak akan membuatnya bersedih. Pun pujian tak akan membuat hatinya mekar. Sayangnya, tidak semua manusia mampu mencapai level seperti itu. 


3. Untuk cari muka dan cari posisi

Orang yang suka cari muka biasanya sikapnya juga berbanding lurus dengan cari pengakuan. Hal itu dilakukan semata-mata karena ingin mendapat posisi yang tepat di komunitasnya. Posisi yang diincar bisa dalam bidang struktural-formal maupun posisi strata sosial. Ia beranggapan bahwa untuk mencapai posisi puncak itu butuh pengakuan terlebih dulu dari orang-orang di sekitar. 




Baginya mencari pengakuan merupakan cara untuk mendapat posisi yang berarti. Namun, bukannya orang di sekitar jadi senang yang ada mereka malah muak. Akibatnya ia tidak lagi disegani dan dipandang rendah. Ia terpenjara dalam obsesi ingin mendapat pengakuan sekitar. Akan tetapi di sisi lain ia tak memperbaiki kualitas kinerja. Ia hanya fokus pada bagaimana orang lain mau "mengakuinya". Bukan fokus pada bagaimana agar ia memunculkan prestasi.


4. Menggunakan "ukuran" orang lain

Setiap manusia punya kemampuan, bakat, minat, kelebihan, kelemahan, dan batas masing-masing. Antara satu sama lain dalam bidang tertentu kadang tidak cocok bilang dibandingkan. Misalnya anak yang ahli sepak bola tidak boleh dibandingkan dengan anak yang ahli catur dalam bidang olah raga. Sebab keduanya dalam bidang olah orang punya spesialisasi berbeda.


Menyoal masalah keberhasilan juga tak elok bila mengacu pada target yang dimiliki orang lain. Sebab standar orang satu dengan yang lainnya beda. Tetapkan sikap tegas bila ada orang yang "menggoda" kalian untuk mencapai sesuatu yang di luar batas kemampuan kalian. Ketahuilah kemampuan sendiri sejauh mana. Jangan menggunakan batas kemampuan orang lain. Setelah itu janganlah "mengemis" pengakuan dari orang lain. Sesekali akuilah diri kalian sendiri.


Penutup 

Janganlah menuhankan "pengakuan" dari orang lain. Sebab orang lain belum tentu akan mau tulus mengakui kalian meski sebenarnya kalian pantas diakui. Orang yang mengutamakan pengakuan menjadikan dirinya hidup dalam siksaan. Ketenangan dan kenyamanan hidup akan lenyap. Kalau sudah begitu dia akan kesulitan untuk mengembangkan diri. Demikian tulisan ini dibuat. Terima kasih telah membaca. Mohon maaf atas segala kekurangan. Semoga bermanfaat.



Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Tanya Jawab Tentang Filsafat Pendidikan Islam dan Upaya Pembaruan Pendidikan Islam

Visi dan Misi dalam Bekerja

Pernah Lihat Angka 354 atau 313 di Warung? Itu Kode Angka Organisasi Keagamaan Indonesia

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece