Tangisan Gisela Oktaviani yang Merindukan Keluarga


Sebut saja namaku Gisel. Ini adalah cerita nyataku.  Tentang bagaimana Gisel sering kali menangis di saat teringat keluargaku. Bahkan, Gisel pernah menangis saat berada di keramaian acara Car Free Day Kota Malang.




Gisel merupakan seorang gadis berumur 23 tahun. Hidup di perantauan kota Malang. Menentang keadaan untuk bangkit dari keterpurukan. Meski sebenarnya orang tua tak mendukung sepenuhnya. 


(gambar dimodifikasi dari sini)


Kini, Gisel di sini bisa menjadi pribadi yang lebih tenang. Banyak belajar tentang masalah kehidupan. Dibimbing oleh juragan yang tipe orangnya murah ilmu, dermawan, dan tentunya murah hati.


Juragannya Gisel memang orang kaya yang baik hati. Tidak seperti juragannya teman Gisel di sebelah rumah. Orangnya kaya tapi kelakuannya tak beradab. Sungguh kasihan sekali teman saya itu yang nasibnya tak seberuntung Gisel.


Tidak baik bagaimana juragannya Gisel, beliau memperbolehkan Gisel untuk mencoba kendaraan barunya. Bukan kendaraan sembarangan. Itu adalah kendaraan bermotor yang bertenaga listrik. Masih jarang yang punya.


Menjelang Ramadan 1440 Hijriah (2019 M) ini Gisel sangat merindukan keluarga. Ingin bersimpuah pada kedua orang tua. Serta memeluk lalu membelai rambut ketiga adik tercinta. Namun situasi belum mengizinkan untuk itu.


Gisel di sini harus berjuang keras. Selain mengumpulkan uang dari hasil jerih payah mengabdi pada juragan, Gisel juga sedang belajar bermain Blog dan Youtube. Berharap kelak jadi blogger dan Youtuber profesional sehingga bisa kaya raya he he he


Alhamdulillah gaji pertama Google Adsense dari Website *Banjir Embun* ini bagi hasil yang menjadi hak milik juragan, sepenuhnya diberikan pada Gisel. Uang itu bisa diberikan pada keluarga di kampung. Rencananya malam ini akan langsung Gisel transfer. Supaya segera bisa digunakan oleh keluarga tercinta.


Mengingat usaha Google Adsense yang dibangun oleh juragannya Gisel nampak cerah. Akhirnya Gisel akan memutuskan untuk pulang kampung saat lebaran tahun ini. Rasa kangen ini begitu menumpuk tak tertahan.


Gisel bingung apakah saat lebaran nanti mudik ke Tegal naik Kereta Api atau mengiyakan ajakan juragan naik bersama mobilnya. Kebetulan juragannya Gisel juga sangat ingin tahu keluarga di kampung sana. Biarlah nanti waktu yang berkata.


Di kota Malang ini Gisel bisa menikmati hidup. Kehidupan yang benar-benar hidup. Bukan kehidupan yang penuh kebosanan dan penderitaan. Bukan pula kehidupan yang sering diremehkan oleh tetangga di kampung sana.


Sebenarnya Gisel bukan tipe orang yang butuh pengakuan dari orang lain. Gisel hanya ingin menjadi pribadi yang kuat dalam menghadapi tantangan kehidupan. Tidak lagi terpenjara keadaan saat berada di kampung sana.


Di Tegal sana Gisel harus punya banyak macam-macam tipe teman. Di Malang sini juga demikian. Semua manusia memang rata-rata sama. Jarang sekali menemukan manusia baik seperti juragannya Gisel sekarang ini.


Juragannya Gisel itu orangnya disiplin. Dalam bidang apapun itu. Termasuk saat menyetir mobil. Beliau saat membawa Gisel belanja tak pernah bermain HP saat menyetir. Beliau juga pintar dalam memainkan kopling mobil.


Sebelum Gisel akhiri tulisan ini, Gisel ini mengatakan bahwa tangisan rutin di sepertiga malam akan mampu menjawab kegelisahan hati. Terbukti Gisel di hari ini dapat kebahagiaan yang bertubi-tubi. Alhamdulillah.



Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece

Pernah Dengar Istilah "Kotak Pandora"? Inilah Kisah di Baliknya

Cara Memecah Sertifikat Tanah Hasil Hibah, Turun Waris, dan Bertujuan untuk Bisnis Tanah Kaveling Perorangan

3 Kerugian Investasi di Perumahan Raksasa Berkonsep Kawasan Kota Mandiri

Visi dan Misi dalam Bekerja