Makin Hot, Kini AS Letakkan 7 Kapal Selam di Laut China Selatan

Di awal hari lebaran ini sungguh beda. Gara-gara ada COVID-19 seperti ini teramat bikin tak normal. Ditambah iklim geopolotik makin memanas. Tidak hanya saling baku hantam masalah omongan, makin ke sini antara China dengan Amerika Serikat saling "jual beli" pamer alat tempur.



Entah siapa yang mengawali lalu siapa yang menimpali, keadaan di laut sekitar pesisir pantai China hingga hampir daerah ASEAN seakan bersiaga untuk bentrok fisik. Ketegangan antar dua negara kuat itu entah sedang memuncak atau justru belum memuncak.


Nyatanya, adu otot antara Amerika Serikat Vs China terus berkelanjutan. Hubungan panas mereka memasuki fase baru. AS menguatkan cengkraman di kawasan Laut China Selatan dengan cara menambah pasokan senjata. Kali ini 7 kapal selam diletakkan di sana.


Tujuh kapal selam selam tersebut terdiri dari 4 tipe kapal selam penyerang bermarkas di Guam, beberapa kapal yang berbasis di Hawaii, dan USS Alexandria yang berpelabuhan asal di San Diego. Semua kapal selam tersebut memiliki spesifikasi dan fungsi khusus berbeda.


Rekontruksi kapal selam USS Alexandria (sumber gambar)



Kapal selam tipe penyerang (Attack submarines) mampu melakukan penyusupan atau pengawasan secara rahasia. Ia dipersenjatai dengan rudal atau turpedo jelajah bernama Tomahawk. Adapun USS Alexandria adalah kapal selam berbahan bakar nuklir dengan senjata cukup lengkap.


Menurut sebagian pendapat, keberadaan Amerika di sana bertujuan untuk menjaga kedaulatan sekaligus mengimbangi operasi China di wilayah itu. Sebab di tengah pandemi ini bukannya adem ayem, China malah dianggap memanfaatkan kesempatan itu untuk mengobok-obok LCS.


China makin agresif merestorasi gugusan pulau-pulau di LCS dengan melakukan reklamasi. Mengetahui hal itu, Amerika Serikat yang menobatkan dirinya sebagai Polisi Dunia tidak tinggal diam. Mereka mengatakan bahwa China telah berbuat ilegal dan merugikan negara-negara di sekitar.


Sejumlah oparasi Amerika Serikat di sana sekaligus untuk mengirim pesan bahwa mereka akan tegas melindungi hak dan kebebasan bernavigasi maupun berdagang bagi semua. Baik negara besar maupun kecil. Tentu hal itu membuat China berang. Dinilai sebagai tindakan provokatif dan mengganggu ketenangan kawasan LCS.


Semoga dunia ini tetap damai dan aman. Tak ada peperangan walau sekecil apapun. Sebab tak jarang peperangan besar bermula dari peperangan kecil dan remeh temeh. Cukuplah dunia ini tersiksa karena COVID-19. Jangan sampai ditambahi dengan adu jotos tentara di medan perang.






Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)