Teknik Bimbingan dan Konseling

Teknik bimbingan dan konseling adalah cara yang dilakukan melalui interaksi tatap muka dalam mengarahkan dan membantu individu atau kelompok untuk mengembangkan diri sesuai potensi, mengambil keputusan, dan menentukan tujuan hidup.



Tujuan teknik bimbingan dan konseling ialah untuk menyadarkan individu atau kelompok tentang potensi (peluang dan kekuatan) dan masalah (kelemahan dan hambatan) yang melekat pada mereka. Selain itu bisa digunakan sebagai rujukan agar klien mengerti lalu berubah.


Ada sejumlah teknik dalam bimbingan dan konseling yang dapat diterapkan untuk membantu perkembangan siswa. Beberapa di antaranya sebagai berikut:


1. Teknik Bimbingan

Teknik bimbingan adalah bantuan terhadap individu maupun kelompok yang dilakukan secara berkelompok. Cara yang dilakukan dapat berupa penyampaian informasi, curah pendapat/gagasan, diskusi non tematik tapi tetap terarah, sosiodrama, simulasi, bermain peran, permainan (game), karya wisata, out bound, dan lain-lain.


Bimbingan bisanya dilaksanakan dalam kelompok yang berjumlah antara 2-7 orang, 8-4 orang, 14-24 orang, dan jumlah kelas antara 25 hingga 40 orang. Arah bimbingan tersebut adalah untuk meningkatkan pemahaman tentang norma kehidupan, cara menyelesaikan masalah, cara meraih masa depan, kepemimpinan, dan realitas kehidupan.


Dengan adanya bimbingan maka peran individu akan lebih menonjol dari pada guru, lebih aktif untuk berpikir dan tukar pemikiran, menimbulkan kesan mendalam, membangun pengalaman, mematangkan perencanaan, dan handal dalam menyelesaikan masalah.


Bimbingan tidak harus diberikan atau dilakukan oleh konselor. Siapapun yang dipandang punya kapasitas untuk membimbing di bidang tertentu ia pantas untuk menjadi pembimbing. Misalnya konselor bisa mendatangkan ahli agama (kiai, ustadz, atau guru agama) untuk memberikan ceramah/informasi tentang hal-hal keagamaan.


Macam-macam pembimbing meliputi konselor (guru bimbingan dan konseling), guru mata pelajaran, guru kelas, kepala sekolah, tokoh agama, tokoh masyarakat, pejabat, ahli kejiwaan, dan lain-lain.


2. Teknik Konseling

Teknik konseling adalah tindakan bantuan kepada individu yang bersifat terapis untuk mengubah perilaku atau sikapnya. Konseling dapat dilakukan dengan cara mewawancarai langsung individu (tatap muka). Biasanya konseling ditujukan bagi individu yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri, belajar, dan kehidupan sosial.


Dalam tindakan konseling, konselor tidak berposisi sebagai hakim lalu menjustifikasi. Sebaliknya terdapat hubungan interpersonal yang dekat dan saling percaya. Posisi individu harus diterima dan dimengerti oleh konselor serta tidak memberikan penilaian dalam bentuk apapun.


Dari hubungan erat yang terjalin antara konselor dan konseli (klien) proses belajar berlangsung secara mengalir sehingga individu dapat memahami, menerima, mengarahkan, dan menyesuaikan dirinya sendiri secara realistis. Konselor harus membangun hubungan emosional, menyentuh, dan berkesan sehingga individu dapat berubah tanpa paksaan.


Teknik konseling dipilih biasanya selain karena masalah yang dihadapi individu cukup berat juga karena untuk menjaga privasi klien. Selain itu agar rasa empati dan kepekaan klien jauh lebih tinggi daripada saat dilakukan bimbingan secara kelompok. Biasanya teknik konseling jauh lebih efektif dan membantu keberhasilan dari tujuan bimbingan dan konseling.


3. Teknik Nasehat

Teknik nasehat adalah cara yang dilakukan oleh konselor maupun pembimbing tentang sesuatu yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan agar pengembangan diri individu berhasil. Nasehat diberikan terutama bila saat diminta oleh klien. Serta saat klien menunjukkan keraguan lalu bertanya tentang pilihan mana yang baik.


Dalam menasehati konselor ataupun pembimbing harus memberikan alasan rasional mengapa suatu pilihan harus dilakukan klien daripada menggunakan pilihan lain. Dengan begitu suatu nasehat dapat menjadi umpan balik atau masukan bagi klien dalam menetapkan pilihan. Tentu semua keputusan dikembalikan pada klien tanpa paksaan.


Sebelum memberikan nasehat hendaknya konselor dan pembimbing memperhatikan hal berikut:


a) Keputusan akhir diserahkan sepenuhnya pada klien. Individu diberi kebebasan untuk memilih alternatif yang diberikan.

b) Nasehat diberikan harus didasarkan pada data atau informasi tentang individu. Pemahaman terhadap individu harus matang. Terutama terkait masalah yang sedang dihadapi.

c) Individu diberi penjelasan bahwa ia harus mampu mempertanggungjawabkan atas ketetapan yang diambil.

d) Nasehat yang disampaikan merupakan masukan yang harus dipilih individu. Pembimbing harus menyertai adanya kemungkinan sulit, gagal, dan berhasil.


4. Teknik Mengajar Sambil Bimbingan

Keberhasilan belajar di kelas ditunjang dari cara gurunya dalam membimbing. Agar berhasil seorang guru mata pelajaran atau guru kelas tidak ada salahnya menerapkan prinsip bimbingan dalam pembelajaran. Dengan begitu siswa dapat mengetahui makna dan tujuan dari pelajaran yang diterima.

Sampul buku Teknik dan Bimbingan konseling (sumber gambar)



Dalam suasana pembelajaran penuh bimbingan seorang guru tidak harus menjadi konselor. Guru harus tetap sadar diri dia bukanlah konselor. Namun, prinsip-prinsip dasar bimbingan dan konseling harus tetap diketahui guru supaya ia mampu menyelipkan bimbingan khusus pada mata pelajarannya dengan benar.


Sebagai pembimbing tentu guru harus bertindak adil, memberi kesempatan siswa untuk berkembang dan berprestasi, membantu mengatasi masalah terkait pelajaran yang diampu, memberikan motivasi/dorongan untuk berkembang, dan hal-hal lain.




Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)