Sejarah Singkat Ali Bin Abi Thalib dan Fadhilah Beliau

Ali bin Abi lahir di Makkah pada 603 M dan meninggal di Kufah, Iraq pada Januari 661. Beliau adalah sepupu nabi Muhammad SAW dari jalur ayah. Abu Thalib bin Abdul Muthalib, ayahnya Ali, merupakan kakak kandung ayah Nabi, Abdullah bin Abdul Muthalib. Awalnya Ali diberi nama Haidarah/Haidar oleh Ibunya.



Ali mulai berada dalam asuhan Rasul saat usia 6 tahun. Selang 2 tahun berikutnya wahyu pertama turun pada Nabi. Salah satu riwayat mengatakan bahwa beliau orang kedua yang menerima dakwah Nabi setelah Siti Khadijah. Beliau terbebas dari perilaku jahiliyah. Tak pernah menundukkan diri pada berhala walau hanya satu kalipun.


Ali memiliki perawakan berkepala botak, perut agak besar, kulit berwarna sawo matang, berbola mata besar, bertubuh pendek, berparas tampan, bergigi bagus, ringan langkah saat berjalan, dan berbulu dada yang lebat. Beliau berada di bawah tanggungan Rasul saat Makkah tertimpa kelaparan dan paceklik.


Ali bin Abi Thalib adalah orang yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan anak-anak. Beliau memeluk Islam tanpa rasa ragu dan bimbang. Hal itu wajar, sebab beliau cukup lama diasuh Nabi sehingga tahu sendiri bagaimana akhlak nabi Muhammad. Bahkan sedari muda itu Ali juga ikut serta mendakwahkan Islam kepada kaum kerabatnya.


Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib merupakan pemimpin pertama dalam dunia Islam pasca Nabi yang berasal dari bani Hasyim. Proses pembaiatan beliau sebagai Khalifah berlangsung dramatis. Khalayak secara ramai-ramai mengangkat Ali menjadi pemimpin sekitar 6 hari setelah wafatnya Usman bin Affan. Beliau memimpin umat Islam sekitar 5 tahun (656-661).


Selama masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib pemerintahan Islam berjalan tidak stabil. Hal tersebut terjadi karena banyak pertikaian, pergolakan, atau pemberontakan. Kubu oposisi yang menonjol serta kadang berjalan sendiri-sendiri dimotori oleh Muawiyah bin Abu Sofyan di Syam, Talhah bin Ubaidilah serta Zubair bin Awwam di Madinah, dan Aisyah binti Abu Bakar di Makkah.


Ada beberapa alasan kenapa kubu oposisi begitu keras menggesek. Salah satunya adalah menuntut dihukumnya para pembunuh Usman bin Affan. Berhubung tidak ada titik temu antara pemerintah dengan oposisi, walau sebenarnya kedua belah pihak tidak ingin perang, ditambah ada fitnah akhirnya perang saudara pecah. Pertumpahan darah sesama Muslim tak dapat dielakan.


Pada masa Ali inilah bibit perpecahan umat Islam terjadi. Sempalan yang awalnya bertujuan politis akan tetapi di kemudian hari juga menjurus masalah agama. Di antara tiga golongan politik yang kemudian berubah menjadi pecah pemikiran di antaranya adalah kelompok Muawiyah, kelompok Syi'ah, dan kelompok Khawarij.


Berhubung situasi di Madinah tidak kondusif untuk menjalankan kepemerintahan akhirnya Ali memindahkan ibu kota dari Madinah ke Kufah (Iraq). Awalnya penduduk Kufah yang sebelumnya menjadi pendukung Usman bin Affan sempat meragukan Ali bin Abi Thalib. Lambat laun mereka mulai yakin bahwa beliau layak untuk disambut baik. 


Pemindahan pusat pemerintahan dilakukan juga dengan alasan sudah banyak sahabat yang sudah tidak ada di Madinah lagi. Sosok sahabat yang tahu bagaimana Nabi dan Ali dianggap mengerti kondisi bahkan mayoritas mendukung Ali. Mereka menyebar ke penjuru wilayah kekuasaan Islam untuk berdakwah. 


Ali memilih untuk menetap di Kufah dan tidak kembali di Madinah pasca perang Jamal lantaran banyak pendukung Usman marah terlebih setelah mengetahui pihak Ali menang di peperangan Jamal. Kufah dipilih juga karena wilayah lain sudah dikuasai oposisi. Sebut saja Damaskus (Syam) dikuasai Muawiyah dan Makkah menjadi basis pendukung Siti Aisyah.

[Peta Kufah, Irak]



Lebih dari itu semua keputusan Ali memindahkan pusat pemerintahan demi untuk menjaga kesucian dua kota suci. Yakni, kota Makkah dan kota Madinah. Ali tidak ingin kota Madinah dikotori lagi dengan peperangan dan pembunuhan. Seperti halnya terbunuhnya Usman bin Affan. Dari Kufah Ali tetap memantau dan memastikan dua kota suci tetap kondusif.


Fadilah Ali bin Abi Thalib

1. Perilaku atau akhlak ali merupakan hasil didikan langsung dari nabi Muhammad SAW. Sejak kecil beliau diasuh oleh Nabi. Hidup bersama di rumah Nabi. Beliau dididik langsung oleh Nabi sedari belia. Banyak ilmu yang beliau peroleh dari Nabi Muhammad di saat jumlah kaum Muslimin hanya puluhan. Lebih-lebih setelah hijrah ke madinah beliau dinikahkan dengan Fatimah putri Nabi.


2. Ali diberi julukan pelaksana amanah Nabi Muhammad. Nabi pernah bersabda bahwa  Ali adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian dari ali. Serta barangsiapa menyakiti Ali maka ia menyakitiku (Nabi). Ali selalu didahulukan atau diprioritaskan oleh Nabi dari yang lain. Ali rela mempertaruhkan nyawa tidur di rumah Nabi untuk memperdaya kaum Kafir yang mengejar-ngejar. Serta amanah-amanah lain yang dikerjakan dengan jujur.


3. Ali merupakan ksatria perang. Beliau handal dalam peperangan baik sebagai panglima maupun saat berduel satu lawan satu (di tanding pertama duel satu lawan satu sebagai pengawal peperangan) di medan laga. Beliau memiliki jasa besar dalam perang Badar. Beliau adalah sosok pemberani yang tak gentar sehingga ditakuti lawan. Hampir di semua peperangan di zaman Nabi selalu diikuti dan berada di barisan terdepan yang jadi andalan. 


4. Ali merupakan bapak tasawuf. Beliau dianggap orang yang paling mengenal Tuhan di antara yang lain pasca wafat Nabi. Beliau bersifat zuhud. Di balik sifat ksatria dan berani dalam peperangan ternyata Ali adalah seorang yang sensitif. Mudah menangis karena tersentuh hatinya. Dari lisan dan tulisan Ali banyak maqolah yang dilahirkan dan penuh nilai. 


مقولة علي بن أبي طالب (sumber gambar)



5. Pasca wafatnya Nabi, Ali didudukan sebagai mufti (pemberi fatwa) dan Qadi (hakim). Hal itu terjadi karena beliau dikenal cerdas dan memiliki kedalaman ilmu agama. Memiliki lisan yang fasih dalam bersastra atau berbahasa sehingga pandai berpidato. Serta kedudukannya sangat istimewa di hadapan Nabi dalam urusan agama. Beliau pernah dikatakan sebagai Nabi berikutnya bila seandainya ada nabi setelah Rasul.



6. Ali adalah penghafal Quran. Menjadi sekretaris menulis wahyu (kuttab al-wahy). Atas perintah nabi Muhammad beliau menulis wahyu dan mempunyai mushaf dari hasil tulisannya sendiri. Beliau menyusun mushaf berdasar urutan turunnya. Artinya, ayat Makkiy di halaman atau urutan lebih awal daripada ayat Madaniy. Dalam mushaf tersebut sangat jelas proses sejarah turunnya al Quran dari A-Z.




Referensi:

1. البداية والنهاية, oleh ابن كثير

2. Buku dosen saya di STAIN Kediri, Dr. Taufiqurahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam: Daras Sejarah Peradaban Islam (Surabaya: Pustaka Islamikan, 2003).

3. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II,(Jakart: RajaGrafindo Persada), 1999.

4. Ensiklopedi Islam (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve Cet.III, 1997).

Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece

Pernah Dengar Istilah "Kotak Pandora"? Inilah Kisah di Baliknya

Cara Memecah Sertifikat Tanah Hasil Hibah, Turun Waris, dan Bertujuan untuk Bisnis Tanah Kaveling Perorangan

Visi dan Misi dalam Bekerja