Sejarah Singkat Dinasti Abbasiyyah

Nama dinasti bani Abbas dinukil dari nama al-Abbas paman nabi Muhammad. Pendiri dinasti Abbasiyyah adalah Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas bin Abdul Muthalib. Dengan begitu masuk dalam silsilah Bani Hasyim.



Sebagaimana Dinasti Umayyah, pada Dinasti Abbasiyyah pergantian penguasa berlangsung secara turun-temurun. Begitu pula pemimpinnya berlaku otoriter (monarki). Masa pemerintahannya berlangsung lama, kurang lebih 500 tahun (750 - 1258 M).


Pada masa dinasti Abbasiyyah ibu kota pemerintahan umat Islam dipindahkan dari Damaskus ke Kufah (Iraq) lalu dipindah lagi ke Baghdad. Di selingi di tengah-tengah masa itu juga di pindah ke Ar-Raqqah dan Samarra. Ada riwayat lain bukan ke Kufah tapi ke Anbar (sebelah barat Kufah).


Dipilihnya Baghdad sebagai ibu kota karena di sekitar daerah itu basis kekuatan pendukung Ali bin Abi Thalib. Di mana beliau merupakan salah satu bagian dari Bani Hasyim. Asal muasal dinasti Abbasiyyah berdiri. Seluruh keluarga Bani Hasyim termasuk Nabi Muhammad merupakan pembela Ali.


Alasan lainnya karena diharapkan roda pemerintahan berjalan dengan lancar. Tanpa cekcok apalagi pemberontakan di ibu kota. Di samping juga letak geografis Baghdad sangat strategis. Sebab Baghdad merupakan salah satu bekas daerah kekuasaan Persia menjadi basis politik dan ilmu pengetahuan berkembang. 


Pada pemerintahan daulah Abbasiyyah peradaban umat Islam berada dalam puncak kejayaan, menjadi negara terkuat, dan menjadi pemimpin peradaban dunia. Kehidupan masyarakat Islam sangat makmur. Masyarakat hidup secara ideal. Terjadi keseimbangan antara ilmu pengetahuan umum dengan agama.


Sejak awal dinasti Abbasiyyah bertekad menghapus rasisme dan politik kasta. Semua bangsa, ras, mazhab, dan unsur yang berbeda memperoleh hak dan kesempatan dasar yang sama. Bisa dibilang pemerintahan Abbasiyyah bersifat internasional. Di mana bangsa Arab menjadi bagian dari itu.

Sampul buku berjudul Daulah Abbasiyyah karya Syekh Muhammad al-Khudari Beik  (sumber)


Pada masa keemasan Abbasiyyah semua pemimpinnya menaruh perhatian besar dalam urusan ekonomi dan keuangan. Kebijakan cemerlang dalam bidang pertanian, perindustrian, dan perdagangan menjadi tulang punggung ekonomi negara. Tanpa ditopang ekonomi yang makmur hampir-hampir mustahil suatu negara bisa menjadi kuat.


Berbeda dengan dinasti Umayyah, pola kepemerintahan Abbasiyah terbagi menjadi 5 fase/kategori yaitu:


1. Periode pertama yang berjuluk periode Persia Pertama (750 - 847 M). Pada masa ini dinasti Abbasiyyah berada di dalam puncak keemasan. Lebih-lebih pada masa Harun Ar-Rasyid (786 - 803 M) kejayaan dan kemajuan peradaban Islam yang gemilang terjadi di segala bidang. Seperti ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, hingga sosial.


2. Periode kedua yang disebut periode Turki Pertama (847 - 945 M). Pada masa ini dinasti Abbasiyyah mengalami penurunan kualitas. Sebagian pemimpinnya ada yang berperilaku mewah dan cinta dunia.  Namun demikian masa-masa ini masih pantas di sebut zaman keemasan bila dibandingkan masa-masa setelahnya. 


3. Periode ketiga yaitu periode Persia Kedua yang berada di bawah kekuasaan dinasti Buwaih (945 - 1055 M). Keadaan fase ketiga ini lebih buruk dari periode kedua. Di bawah pengaruh kaum Syi'ah yang dominan kepala negara tidak punya kedudukan apa-apa. Hanya seperti pegawai yang bekerja dan digaji. Meski demikian pada masa ini ilmu pengetahuan masih sempat berkembang pesat.


4. Periode keempat disebut periode di bawah pengaruh Turki Kedua yang dinungi Bani Saljuk (1055 - 1194). Pada masa ini keadaan tidak jauh beda dengan sebelumnya. Namun ilmu pengetahuan juga tak kalah berkembang pesat. Madrasah Nizamiyah sebagai universitas pertama di dunia didirikan (1067 M). Cabang-cabang Nizamiyah berdiri di seluruh penjuru Iraq dan Pakistan. 


5. Periode kelima merupakan periode di mana pemerintah terbebas dari pengaruh dinasti atau bangsa manapun baik itu turki maupun persia (1194 - 1258). Pada masa ini kekuasaan daulah Abbasiyyah hanya efektif di sekitar kota Bagdad. Selebihnya banyak wilayah-wilayah lain secara defacto menjadi negara berdaulat. Tak pelak di akhir daulah Abbasiyyah saat bangsa Mongol menyerbu Baghdad tak bisa berbuat apa-apa.



Referensi:

1. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II,(Jakart: RajaGrafindo Persada), 1999.

2. Buku dosen saya di STAIN Kediri, Dr. Taufiqurahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam: Daras Sejarah Peradaban Islam (Surabaya: Pustaka Islamikan, 2003).

3. Philip K. Hitti, History of The Arabs (London: The Macmillan, 1974).


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)