Gara-gara Pandemi COVID-19, Para Sindikat Penipu Modus MLM Ganti Cara dalam Menjaring Korban

Pandemi COVID-19 telah melumpuhkan sejumlah sektor perekonomoian. Tak terkecuali lumbung pundi uang bagi para penipu atau pencari uang bermodus MLM (Multi Level Marketing). Teknik pemasaran berjenjang itu masih saja efektif untuk menipu hingga sekarang.

Skema piramida multi level marketing (sumber gambar)

Akal-akalan bisnis yang menjanjikan keuntungan besar itu di masa wabah sekarang ini ikut terganggu. Mafia penjaring sejumlah korban yang berskema piramida itu tak buntu akal. Alih-alih bertemu dan bertatap muka. Kini mereka menggunakan teknologi untuk memperdayai calon korbannya.

Yups, benar dugaan kalian. Mereka menggunakan situs atau website. Bahkan disinyalir ada pula yang menggunakan aplikasi. Sungguh makin licik cara mereka menjerat mangsa. Salah satunya, sindikat penipu itu menghimpun investasi dari masyarakat. Tentu itu investasi bodong.


Supaya masyarakat tidak curiga. Mereka memancingnya dengan membuat aplikasi atau situs yang seolah-olah murni untuk jual beli. Mengadakan program kode referral "berhadiah". Bagi yang berhasil ajak teman, keluarga, atau orang lain ikut download aplikasi akan diberi komisi. 


Baca: Ini Alasan Orang Mengajak Registrasi Aplikasi Tertentu Pakai Kode Referral, Ternyata Begini Caranya


Terlebih bila saldo miliknya beserta orang yang diajak itu bernilai besar. Sudah barang tentu hadiah yang diterima semakin banyak. Makin banyak orang yang berhasil login karena arahannya maka makin besar pula pendapatan yang ia peroleh. Itulah modus MLM gaya baru.


Ketika saldo yang diterima pengelola aplikasi atau situs itu sudah terkumpul banyak dari sejumlah orang maka segeralah ditutup. Lalu apa yang terjadi? Tentu pengguna tidak dapat lagi mengambil saldo yang tersimpan itu. Bakal menangis tersedu-sedu penuh penyesalan.


Selain modus MLM ada cara lain penipu dalam meraup rupiah. Yakni, pengelola palikasi memberi janji komisi pada pengguna yang melakukan transaksi "beli" atau belanja di aplikasi jual beli online milik penipu tersebut. Syaratnya satu yaitu pengguna wajib top up atau isi saldo lebih dulu. 


Semakin besar pengisian saldo maka makin besar pula pendapatan yang diterima pengguna aplikasi. Tentu, awalnya program tersebut berjalan mulus tanpa hambatan. Itu hanya trik untuk memancing orang lain agar itu top up saldo. Ujung-ujungnya sama saja. Saldo bakal tersedot habis tanpa jejak.


Aplikasi-aplikasi besar yang sudah terkenal dan sering muncul iklannya di TV, media massa, maupun YouTube tentu tidak demikian. Mereka memang menggunakan kode referral untuk strategi promosi. Tapi tidak ada ketentuan harus memiliki saldo tertentu agar mendapat hadiah lebih besar.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Kumpulan Group WhatsApp Berbagai Komunitas Koleksi *Banjir Embun*

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)