4 Cara Mengetahui Penipu Mengaku Jadi CS (Customer Service) Aplikasi Mobile Banking dan Marketplace Online

Banjirembun.com - Modus penipuan kian mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Salah satunya dengan cara mengaku sebagai bagian tim customer service. Yakni, sebuah bidang atau unit di perusahaan yang fokus untuk melayani konsumen demi tercapainya kepuasan dan kepercayaan pelanggan.


Tugas utama CS (customer service) yaitu menjadi ujung tombak hubungan secara langsung antara pengguna jasa atau barang di perusahaan dengan pihak perusahaan. Bidang usaha yang sering mengandalkan layanan tersebut yaitu aplikasi mobile banking, marketplace online, developer perumahan, hingga asuransi.

Sayangnya, untuk membedakan mana CS palsu dengan yang asli sangat tidak mudah. Sekarang ini banyak penipu yang jago dalam mengolah kata, menata emosi, mengatur intonasi suara, serta meyakinkan calon korban agar terbujuk rayuan. Apalagi tatkala Customer Service abal-abal itu menggunakan angka nomor telepon meyakinkan.


Lebih parah lagi, bukannya bijaksana dan waspada. Justru korban malah merasa bangga karena menganggap dirinya telah diistimewakan, dihormati, dipilih, atau jadi pihak beruntung karena dihubungi oleh costumer service. Tentu itu juga berkat mulut licin dan beracun dari si penipu. Karakter calon korban seperti itu jadi sasaran empuk.


Supaya kalian tidak tertipu oleh siapapun yang mengaku siapa CS palsu silakan simak cara mendeteksi oknum tersebut.


1. Mengarahkan Komunikasi Dilanjutkan ke WhatsApp

Awalnya penipu menelepon menggunakan nomor cantik dan angkanya terlihat meyakinkan. Bisa jadi itu nomor resmi perusahaan. Dengan menggunakan alasan tertentu biasanya penipu akan mengarahkan korban untuk melanjutkan komunikasi lewat WA. Supaya niat jahatnya lebih mudah. Sebab kalau melalui nomor resmi suara akan terekam.

Ilustrasi CS Palsu Lazada yang
menghubungi lewat WA

Padahal nomor atau akun WA itu tidak resmi milik perusahaan tempat dia bernaung. Tentu langkah itu dipilih supaya penipu lebih leluasa mengelabui korban. Salah satunya meminta korban mengakses link palsu dan menyesatkan. Padahal ketika tautan itu dibuka membuat data-data pribadi korban yang rahasia akan mudah diakses penipu.


2. Nada Bicara Begitu Menggebu dan Penuh Ambisi

Kadang penipu yang amatiran intonasi bicara kurang begitu meyakinkan. Nampak tidak profesional. Dia cuma punya modal nekat dan semangat untuk melakukan penipuan. Bahkan dia menolak untuk menutup telepon walau pihak korban enggan untuk menyudahi pembicaraan lantaran masih sibuk. Ada saja cara untuk mempertahankan.


Umumnya penipu akan menolak menutup telepon dengan alasan apapun. Meski korban menjanjikan akan menerima telepon di lain waktu saat longgar. Padahal menolak atau menghindari telepon dari siapapun adalah hak dari setiap manusia. Kalian tidak perlu sungkan menutup telepon secara "paksa" setelah mengucapkan salam penutup.

Calon korban tidak perlu merasa diintimidasi, takut, dan terancam sehingga harus diputuskan secara tergesa-gesa. Kalaupun kalian menutup telepon dan tidak mengangkat kembali saat dihubungi lagi itu tidak akan berpengaruh apapun terhadap status hukum dan layanan dari pihak perusahaan. 


3. Meminta Data Pribadi yang Bersifat Rahasia

Dengan berbagai cara dan dalih yang digunakan penipu tidak jarang memaksa disertai ancaman agar korban memberikan data-data pribadi terkait akun aplikasi. Meliputi PIN, password, kode OTP, nama ibu kandung, atau informasi terkait kartu kredit/debit yang biasa digunakan di ATM.


Tatkala penipu telah mendapatkan data pribadi korban yang telah sesuai kebutuhan mereka langkah berikutnya mereka akan menguras tabungan. Tak cuma itu mereka juga akan melakukan tindakan ilegal maupun legal yang mengatasnamakan akun korban. Tentu yang bakal menanggung secara materi dan non materi adalah korban.


4. Menawarkan Bantuan Penggantian atau Perubahan Akun untuk Menikmati Layanan Lebih

Hal mengherankan lain dari penipu yaitu tiba-tiba menghubungi nasabah mobile banking dan pemilik akun aplikasi marketplace online untuk melakukan pembaruan atau perubahan akun. Misalnya diiming-imingi ketika mendaftar program tertentu akan dapat hadiah. Kadang pula untuk mencairkan hadiah diperlukan syarat mengikuti program tersebut.


Tak cuma itu, penipu juga meminta data-data pribadi korban terkait kebutuhan membobol akun. Mereka menggunakan alasan untuk memproses perubahan tersebut diperlukan kode OTP maupun informasi-informasi penting terkait data pribadi korban. Padahal umumnya pihak perusahaan resmi tidak meminta pembaruan apapun dengan cara melalui telepon dari CS.

Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Pernah Lihat Angka 354 atau 313 di Warung? Itu Kode Angka Organisasi Keagamaan Indonesia

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Tanya Jawab Tentang Filsafat Pendidikan Islam dan Upaya Pembaruan Pendidikan Islam

Visi dan Misi dalam Bekerja

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece