5 Alasan Utama Ormas Islam LDII Tetap Utuh dan Aman dari Pembubaran Siapapun

Banjirembun.com - LDII atau Lembaga Dakwah Islam Indonesia merupakan organisasi massa Islam paling aman dari pembubaran. Meski ormas tersebut sebenarnya sangat berbeda dengan gaya berislam umumnya masyarakat Indonesia, nyatanya mereka tetap utuh. Eksistensinya masih ada serta diakui secara legal, struktural, dan kultural.


Sebenarnya LDII oleh Majelis Ulama Indonesia sudah resmi ditetapkan sebagai organisasi keagamaan terlarang. Kendati disebabkan hal tertentu, ternyata wujudnya masih ada hingga kini. Lebih lengkapnya silakan baca tulisan berjudul "Memahami Arti Jokam dan Mbah Man, Menjadi Kode Komunikasi Antar Anggota Organisasi Keagamaan Terlarang".

Lantas mengapa hingga kini LDII masih aman dari pembubaran? Ternyata berikut ini beberapa alasan utamanya:


1. Selalu Ikut dan Patut Pemerintah

LDII bisa dibilang sebagai "anak tiri" orde baru. Berdiri pada tahun 1 Juli 1972 di Kediri, Jawa Timur. Pada zaman orde baru LDII namanya bertransformasi beberapa kali. Awalnya bernama YAKARI (Yayasan Lembaga Karyawan Islam). Pada Musyawarah Besar 1981 diganti menjadi LEMKARI (Lembaga Karyawan Islam).


Bukti keterkaitan antara orde baru dengan LDII yaitu pada Musyawarah Besar 1990 atas arahan Wapres Sudarmono dan Mendagri Jenderal Rudini nama organisasi itu dirubah menjadi LDII. Sebab singkatan LEMKARI dianggap menyamai Lembaga Karate-Do Indonesia. Intervensi itu tentu langsung dipatuhi oleh para petinggi LDII.

Logo LDII (sumber gambar)

Tak cuma itu, ada bukti lain sejarah kemesraan LDII dengan pemerintahan Indonesia. Pada rezim Soeharto dulu semua anggota dan pengikut LDII wajib memilih partai Golkar. Begitu pula pada zaman Megawati sebagian dari mereka dengan bangga memakai kaos bergambar PDIP. Entah itu memang tulus dari hati atau hanya cuma ingin cari "aman".


2. Bukan Gerakan Politik

HTI bubar salah satu sebab di lapangan lantaran gerakan politiknya yang begitu sistematis dan masif. Dia tidak berafiliasi dengan partai tertentu. Sebab ideologi mereka adalah khilafah islamiyah. Untuk mewujudkan mimpi itu bukan dengan cara berdemokrasi yang memakai sistem kepartaian. Melainkan mengajak pengikutnya anti demokrasi.


Baca: Hizbut Tahrir: Menolak Demokrasi, Menolak Pemilu, dan Menolak Coblosan


Gerakan politik itu sungguh meresahkan dan membuat bingung masyarakat. Tentu juga membuat panik para politikus. Sebab kantong-kantong suara mereka jadi berkurang. Pemilih mereka yang awalnya aktif ikut nyoblos jadi ogah lantaran dianggap itu bukan sistem politik Islam. Nah, hal sangat berbeda dengan LDII. Gerakannya bukanlah fokus politik.

LDII selain fokus pada hal-hal Islami juga tak kalah giat dalam kemajuan ekonomi dan taraf hidup anggotanya. Tentu itu sangat bermanfaat bagi pemerintah. Mengurangi kemiskinan. Banyak pengikut-pengikut LDII yang hidupnya jadi sejahtera karena disokong dan diarahkan bisnis. Misalnya menjadi penjual mie ayam, pedagang bakso, dan masih banyak lagi.


3. Organisasi Tertutup Rapat

Menjadi anggota LDII tidaklah mudah. Butuh tahapan dan kejelasan siapa orang yang membawa masuk. Berbeda dengan organisasi lain yang bisa dengan mudah disusupi. Tinggal melakukan ritual keagamaan sama, pakaian sama, dan tampilan badan yang sama dengan begitunya akan diterima komunitas Islam yang ditarget.


Orang yang baru masuk ke LDII mesti terus "nyambung" atau menjaga hubungan dengan orang yang pertama kali mengajak hijrah ke LDII. Nah, ketika orang baru itu bertemu dengan sesama LDII di kota lain yang tak dikenal, pasti salah satu pertanyaannya "sanad" (jalur hubungan) nyambung ke siapa saja. Lantas alasan dia masuk LDII karena apa.


Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para pengikut LDII senior (sudah lama) kepada juniornya itu guna memastikan apakah orang tersebut benar-benar LDII atau bukan. Sebab kalau orang yang hanya ngaku-ngaku LDII dan sebenarnya tidak LDII tentu sikap mereka akan beda. Mereka akan jauh lebih rapat dan menjaga satu sama lain sesama anggota.


4. Menamai Pondok Pesantren Lebih Membumi

Nama Ponpes Wali Barokah di Burengan Kecamatan Pesantren Kota Kediri serta Ponpes Nurul Huda al Manshurin merupakan contoh lembaga pendidikan milik LDII. Namanya sangat membumi dan jauh sekali terkesan dari nama-nama kaum Islam yang modern. Padahal sebenarnya semangat LDII itu merupakan organisasi modern yang memakmurkan.


Nama-nama di atas tentu akan mampu mengkaburkan jati diri atau identitas LDII yang sebenarnya. Seakan-akan bahwa Islamnya LDII sama dengan model ajaran umat Islam pada umumnya. Bisa dibilang mereka pandai menyatu, membaur, dan menyembunyikan diri. Kendati seperti itu dalam urusan Islam mereka tidak mau membaur. Tetap eksklusif.


5. Tidak Begitu Agresif Mencaplok Anggota Ormas Lain

Gerakan LDII sungguh elegan. Mereka tidak begitu agresif merebut anggota ormas Islam lain. Begitu pula tidak mengganggu dan mengusik ketentraman kehidupan agama masyarakat lain. Wajarlah kalau hingga kini mereka masih aman-aman saja. Coba kalau kebijakan mereka bikin gerah ormas Islam lain pasti sudah dibubarkan.


LDII lebih mementingkan kualitas pengikutnya ketimbang kuantitas. Bagi mereka anggota yang fanatik dan taat jauh lebih berharga dari pada anggota banyak tapi sulit diatur karena berjalan sendiri-sendiri. Kelebihan anggota sedikit yaitu mudah mengaturnya. Sebab mereka mewajibkan penganutnya untuk menyetor "pajak" kepada organisasi sebesar 10%.


Desclaimer: Informasi di atas masih bersifat simpang siur. Data atau informasi di atas hanya kabar yang beredar santer oleh sebagian masyarakat tertentu. Tidak semua masyarakat tahu apa itu LDII? Bahkan sebagian dari mereka menyalahartikan LDII dengan kaum berjilbab lebar dan bercadar. Oleh sebab itu, semua terkait di postingan ini jangan ditelan mentah-mentah. Diperlukan upaya tindak lanjut untuk mencari titik kebenaran. Tulisan ini hanya sebagai usaha dalam membuka sedikit tabir kegelapan. Bila ada hal yang perlu didiskusikan dalam tulisan ini silakan hubungi kami di menu "Kontak Kami".

Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Tanya Jawab Tentang Filsafat Pendidikan Islam dan Upaya Pembaruan Pendidikan Islam

Visi dan Misi dalam Bekerja

Pernah Lihat Angka 354 atau 313 di Warung? Itu Kode Angka Organisasi Keagamaan Indonesia

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece