7 Ketakutan Terbesar Manusia, Salah Satunya Rasa Kehilangan

Banjirembun.com - Ketakutan adalah perasaan yang mampu menghilangkan ketenangan dan kesenangan dalam diri individu maupun oleh sejumlah orang di dalam satu waktu atau situasi tertentu. Di mana, rasa takut kerap diakibatkan adanya persepsi "berlebihan" dalam memaknai serta memahami tanda-tanda bahaya yang berpotensi buruk bagi jiwa, raga, harga diri, ataupun sesuatu yang dicintainya.


Inilah mengapa, dalam momen yang sama didapati bahwa seseorang mengalami ketakutan tetapi menurut orang lain merupakan hal yang biasa. Bagi kepribadian satu dianggap bikin khawatir, cemas, dan menegangkan tetapi untuk orang beda dianggap seperti tak ada apa-apa. Lebih parah lagi, rasa takut itu berujung fobia. Yakni, rasa takut berlebihan yang dirasakan individu terhadap keadaan atau objek tertentu.

Ilustrasi rasa takut yang mengakibatkan kecemasan dan kekhawatiran (sumber gambar)

Bagi individu yang tak mengalami rasa takut, semuanya bakal dijalani biasa saja tanpa ada beban. Wajar saja tatkala untuk mengatasinya tak perlu untuk menguras pikiran, tenaga, kejiwaan, harta, sampai waktu untuk berlatih serta mempersiapkan diri. Tentu, itu semua demi menghadapi tantangan yang nyata-nyata telah "menindas" di depan mata maupun di waktu mendatang. Intinya, tanpa butuh perlakuan khusus dulu.


Sedangkan bagi pihak penakut, ancaman sedikit saja sudah mampu merobohkan sendi-sendi "kemerdekaan". Ketika sedang menderita rasa takut seakan-akan dirinya kehilangan semuanya. Termasuk menganggap kehilangan rasa aman, kemandirian, hingga kebebasan hak asasi manusia. Merasakan kengerian pada sesuatu yang dikira akan sanggup mendatangkan bencana. Padahal, faktanya tak berbahaya atau "mustahil" terjadi.


Lantas, apa saja ketakutan terbesar yang dialami kebanyakan orang? Berikut ini penjelasannya.


1. Kehilangan Seseorang dan Sesuatu yang Dicintai

Perpisahan dengan seseorang yang dicintai pasti terjadi. Baik melalui kematian maupun dinamika perjalanan kehidupan. Misalnya karena ditinggal menikah, merantau, dan putus hubungan kontak komunikasi lewat ponsel. Kehilangan seseorang yang dicintai baik telah terlanjur maupun ditakutkan akan terjadi menjadi perhatian tersendiri. Sebab, salah satunya akan mengalami kesepian dan kesendirian.


Bukan melulu terkait hilangnya rasa cinta dari seseorang. Gejolak ketakutan muncul juga disebabkan oleh kehilangan kemampuan untuk hidup layak. Berakibat harus menjual harta. Setidaknya, mengalami penurunan daya beli terhadap barang tertentu yang diidamkan. Apalagi pencetusnya kalau bukan lantaran kondisi ekonomi sedang kolaps. Efek domino akhirnya terjadi yaitu mengalami takut kehilangan teman, popularitas, gengsi diri, dan lain-lain.


2. Tampil dan Bicara di Hadapan Banyak Orang

Mayoritas manusia menderita masalah "demam panggung". Jangankan tampil di depan muka publik pada panggung, untuk merekam video atau cuma sekedar suara lalu dipublikasikan ke media sosial sudah bisa bikin grogi. Tak ada percaya diri untuk menyebarluaskannya. Alasannya, dirinya belum mahir bertutur kata maupun mengatur gestur (bahasa tubuh) sedemikian rupa sehingga mampu menarik mata.


3. Terserang Penyakit dan Kematian

Mengalami gangguan kesehatan merupakan hal yang paling tak mengenakkan bagi seseorang. Tentunya, selain harus mengeluarkan biaya pengobatan dan melakukan terapi tertentu  tetapi juga dapat menyita waktu serta kesempatan lebih berkembang. Boleh dikatakan, penyakit yang disandang dianggap sebagai penghilang kebahagiaan. Baik penyakit itu dialami diri sendiri maupun diderita oleh orang-orang tercinta. 


Begitu pula, rasa takut barangkali hinggap tatkala nanti dirinya serta orang terdekat mengalami sekarat (sakaratul maut) sebelum mati tiba. Sebagaimana yang umum dipahami bahwa menurut mereka proses meregang nyawa menuju kematian dianggap sesuatu yang menyakitkan dan menyusahkan. Sungguh tak tega saat melihat orang paling dicintai memejamkan mata selamanya tepat di depannya.

 

4. Konflik Horizontal dan Peperangan

Perang memakai senjata biologis maupun senjata pemusnah massal merupakan momok tersendiri. Bahkan, sekedar benturan horizontal tanpa kekerasan pun sudah membuat ketidaknyamanan. Alhasil, rasa takut untuk berkata lantang secara terbuka dan jujur menjadi masalah tersendiri. Serta, ragu ketika nekat bersuara bakal dijauhi atau malah diberi komentar buruk oleh orang yang cara pandang dalam berideologi dan berpolitiknya bersebarangan.


Gesekan sesama masyarakat sipil di dunia maya yang saling menyerang dan menjatuhkan di media sosial sekarang ini menjadi hal umum. Membaca berita politik, membuka media sosial, serta membaca artikel di media massa bagi sebagian orang merupakan sesuatu yang menakutkan. Timbul kesadaran untuk senantiasa menghindari berita karena cara penyajiannya tak berimbang. Condong dan memihak pada entitas tertentu sehingga mendatangkan kegelisahan.


5. Polusi

Revolusi industri pada abad-18 tidak cuma mempercepat peradaban manusia menuju modernisasi. Efek samping dari penggunaan teknologi untuk keperluan produksi pabrik, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga telah melahirkan polusi. Mulai dari polusi udara, air, suara, tanah, cahaya, radioaktif, visual, sampai elektromagnetik. Semua itu telah membanjiri sehingga mengontaminasi lingkungan alami.


Baca juga: 5 Dampak Buruk Punya Rumah di Pinggir Jalan Raya Besar


Wisata, rumah, villa, penginapan, atau tempat makan di area alam hijau yang amat layak untuk dibilang alami (minim intervensi manusia) sangat digandrungi penduduk perkotaan. Mereka rindu pelukan tanah perawan. Sejumlah polusi yang menjadi bagian keseharian mereka tidak hanya menganggu kesehatan fisik. Akan tetapi, telah memberikan tekanan batin akibat terus-menerus teracuni oleh polusi yang makin besar intensitasnya.


6. Pemerintahan yang Korupsi

Korupsi berhasil merusak tatanan kehidupan sosial sebuah negara yang semestinya tertata dengan ideal. Menyebabkan hilangnya keadilan, kesejahteraan, dan kepercayaan. Berujung pada rendahnya minat investor untuk menanamkan modal. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi melambat. Terjadilah kesenjangan sosial. Orang kaya makin tajir melintir adapun yang miskin semakin melarat.


7. Diserang Oleh Penjahat Cyber

Kehilangan privasi maupun pencurian data pribadi saat menggunakan internet menjadi perhatian tajam bagi banyak pengguna internet. Terlebih lagi, sudah banyak ditemukan kasus kejahatan atau penipuan yang memanfaatkan kebocoran data pribadi. Oleh sebab itu, wajarlah rasa takut menjadi korban kejahatan cyber semakin meningkat. Di mana, rakyat semakin sadar pada kebutuhan terhadap keamanan cyber.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Tanya Jawab Tentang Filsafat Pendidikan Islam dan Upaya Pembaruan Pendidikan Islam

Visi dan Misi dalam Bekerja

Pernah Lihat Angka 354 atau 313 di Warung? Itu Kode Angka Organisasi Keagamaan Indonesia

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece