Film The Good Liar: Si Penipu Lintas Generasi Kena Karma Sangat Mengerikan



Apa yang engkau tanam itulah yang akan kau peroleh. Peribahasa itu juga berlaku dalam film ini. Tindak penipuan di zaman dulu hingga sekarang akhirnya berbuah mengenaskan. Kondisi pelaku di antara mati dan hidup. Dikatakan hidup tapi seperti orang mati. Dikatakan mati tapi masih hidup.



Memang siapapun akan setuju bahwa film Good Liar pada tayangan awal hingga pertengahan menyuguhkan dialog yang monoton. Serta yang paling penting, ternyata pada saat-saat itu tayangan film banyak menyuguhkan bagaimana dua orang sepuh beda jenis saling mengenal. 


Sutradara barangkali ingin membangun dramatisasi adanya saling ketertarikan antara dua orang usia kakek-nenek tersebut. Sekaligus merasionalisasikan bagaimana suatu hubungan dekat yang berawal dari situs kencan online bisa terjadi. Plot itu juga diiringi aksi penipuan konyol salah satu tokoh.


Banyak hal yang mengejutkan dalam film ini. Awalnya saya mengira film ini bertajuk unsur komedi. Ternyata salah besar. Unsur komedinya sangat teramat minim. The Good Liar adalah film misteri, drama, dan aksi. Meski durasi aksi tokoh sangat minim tapi sekali "beraksi" mampu membuat penonton berkidik ngeri.


Salah satu tokoh yang berperan sebagai penipu ternyata merupakan orang yang sadis. Ia mau dan mampu melakukan apapun termasuk membunuh agar bisa mendapatkan uang yang ia incar. Ia pun mampu memanipulasi perasaannya agar bisa menipu seorang yang memang sengaja ia jadikan target.






Poster film The Good Liar (sumber koleksi pribadi)


Tokoh jahat yang berusia renta itu bahkan "gebleknya" melebihi perumpaan tua-tua keladi. Ia adalah sosok manusia yang diceritakan memang sudah "rusak" sejak mudanya. Masa mudanya penuh dengan tindak bejat dan bahkan sudah pandai memfitnah.


Tak hanya masa lalu si antagonis yang dikorek habis masa lalu kelamnya. Asal-usul atau jati diri tokoh protagonis juga diungkap. Ternyata di waktu dulu mereka berdua pernah saling mengenal satu sama lain. Namun, salah satu di antara mereka berdua ternyata tidak menyadari itu.


Film ini berhasil mengesankan bahwa "wanita memang lebih mendahulukan perasaan daripada logika". Walau pada akhirnya saat tua si wanita sudah "sedikit" menyadarinya. Hingga pada akhirnya wanita juga pantas disebut sebagai "manusia pendendam terbaik". Mereka sanggup membalas kesakitan di masa lalu lebih sadis dari yang pernah diterima.


Walau secara umum alur cerita ini sebenarnya mudah ditebak, akan tetapi secara rinci film The Good Liar mampu memberi kejutan. Ada banyak adegan yang ditunjukkan ternyata sangat sulit untuk dikira-kira bagaimana adegan selanjutnya. Serta bumbu dramatisasi konflik turut mampu membuat penonton merasa sayang untuk tidak melanjutkan menonton hingga akhir.




Komentar

Baca juga postingan berikut:

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Kumpulan Group WhatsApp Berbagai Komunitas Koleksi *Banjir Embun*

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)