Terkadang yang Tulus Akan Kalah untuk Sementara Waktu dengan si Penjilat


Siapapun pasti tak suka dengan orang yang suka menjilat pada orang yang punya pengaruh atau kedudukan. Terlebih bila orang tersebut berada di lingkaran kehidupan sehari-hari. Begitu pula si penjilat itu sendiri, tak akan suka terhadap temannya yang juga ikut-ikutan menjilat. Kecuali, para penjilat itu punya satu misi atau suatu persamaan, justru yang terjadi saling dukung satu sama lain agar sukses menjilat bersama.



Naasnya, orang yang posisinya lebih tinggi malah lebih menyukai bawahan yang mahir menjilat. Yakni, yang pandai mengolah kata, perilaku, dan mimik muka. Ditambahi gemar memuji atasan. Lalu sering menunjukkan prestasinya di hadapan juragannya. Serta agar posisinya terangkat tak merasa terbebani untuk menginjak-injak harga diri teman di mata bosnya. Semua itu ia lakukan agar majikannya lebih suka padanya daripada anak buah yang lain.


Untuk mendapat perhatian petinggi, si penjilat tak jarang akan memanipulasi data. Tentu data terkait dengan hasil kinerjanya dioalah atau diatur sedemikian rupa sehingga seakan-akan itu adalah sebuah prestasi. Padahal itu sangat jauh panggang dari api. Apa yang ia tunjukkan hanya sekadar di atas kertas. Namun, kenyataan di lapangan ia tak memiliki kelebihan yang patut dibanggakan. Kecuali kelebihan berupa pandai mengatur kata.


Anehnya, sang bos malah tidak memberi tempat di hati bagi orang yang sebenarnya tulus kepadanya. Yakni, orang yang mendedikasikan pekerjaannya untuk kemajuan usaha yang dipimpin bos. Serta orang yang lebih memilih untuk fokus bekerja dibanding terlalu opsesif meningkatkan karir diri sendiri. Ia lebih sibuk bagaimana bekerja dengan baik daripada harus disibukkan kerja seadaanya lalu sisanya mencari muka pada atasan.

ilustrasi menjilat (sumber gambar)



Bagaimanapun, orang yang lebih memilih menyia-nyiakan waktu untuk cari muka pada atasan seringkali punya hati yang buruk dan perilaku tercela. Lain di hati lain di muka dan lisan. Lain saat bersama teman kerja lain pula saat mendekati atasan. Perilaku seperti itu sungguh melelahkan. Sebab setiap hari hidupnya dipenuhi dengan kepura-puraan. Ada harga yang harus dibayar. Salah satunya terkena gangguan psikologi (penyakit hati).


Orang yang mahir penjilat secara sepintas memang terlihat jago melobi pimpinan. Namun, sesungguhnya apa yang ia katakan saat berdiskusi dengan atasannya hanyalah kepalsuan. Sikap manis dan penurut yang tidak tulus di depan pemimpinnya itu butuh biaya mahal. Salah satunya akan cepat capek secara fisik dan pikiran. Sebab ia harus selalu bisa mengendalikan diri agar tetap bisa berpenampilan prima di depan orang yang berpengaruh.


Penjilat mau melakukan apapun agar dapat pujian, termasuk mencium sepatu atasan (sumber gambar)


Hal terakhir yang patut diketahui adalah yang namanya ketulusan itu tidak bisa dibuat-buat atau dipaksakan. Mungkin sesekali atau dalam tempo singkat bisa menunjukkan sosok anak buah yang tulus. Namun, bila terus-terusan ingin menunjukkan ketulusan pada atasan, justru itulah yang disebut penjilat. Sebab yang namanya tulus itu tanpa syarat. Tak perlu digembar-gemborkan. Cukup diri sendiri yang tahu karena kepuasan batin itu bukan saat dipuji oleh atasan tapi saat mampu mengembangkan diri ke arah lebih baik.



Komentar

Baca juga postingan berikut:

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Kumpulan Group WhatsApp Berbagai Komunitas Koleksi *Banjir Embun*

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)