Bukan Tuhan, yang Mengazab Pasien Positif Covid-19 Adalah Manusia

Penolakan warga atas pemakaman pasien positif Covid-19 di wilayah mereka tak bisa dibilang sedikit. Tak perlu disebutkan di mana saja. Biarlah kalian tahu sendiri siapa yang menolaknya. Entah kalau keluarganya atau dia sendiri yang mati karena virus Corona juga akan ditolak atau tidak.



Ketika sakit mereka sudah dijauhkan dari keluarga, sahabat, dan teman kerjanya. Jangankan dijenguk, mendekatinya saja tidak boleh. Masak tega saat meninggalpun tetap harus disemayamkan jauh dari tempat tinggal keluarganya. Sungguh itu akan membuat hati keluarga amat tersayat.


Tak hanya yang sudah mati. Stigma, pengusiran, pengucilan, dan penghakiman liar terhadap penderita Covid-19 tak kalah mengerikan. Jelas itu sangat berbahaya. Sebab siapapun yang merasakan gejala penyakit Covid-19 akan enggan lapor dan memeriksakan ke pusat kesehatan masyarakat.


Padahal banyak pendapat ahli kesehatan mengatakan bahwa jenazah pasien positif Covid-19 yang sudah dikuburkan sesuai standar tak akan menularkan. Bahkan MUI dan Kemenag meminta agar tidak ada lagi masyarakat yang menolak pemakaman mayat positif corona.




Kalau sudah begitu yang merugi adalah semuanya. Penyebaran virus SARS-CoV-19 akan semakin liar. Sebab akan sulit dideteksi siapa saja yang sudah tertular olehnya. Pada akhirnya, stigma azab yang maksudnya "hanya" ditujukan satu atau dua orang justru menjadi azab massal.


Posisi kita sekarang sama. Sama-sama berpotensi tertular dan berpeluang kehilangan keluarga tercinta akibat penyakit Covid-19. Oleh sebab itu tak etis bila menstigma pasien positif Covid-19 beserta keluarganya. Sebab siapapun kelak selama wabah belum terkalahkan akan berpeluang sama untuk mengalaminya.


Ilustrasi stigma masyarakat terhadap pasien positif Covid-19 (sumber gambar)


Wabah ini diprediksi masih berlangsung panjang. Masih berbulan-bulan lagi kita terpaksa harus menghadapinya. Kita tidak bisa sendirian menghadapi wabah ini. Physical distancing memang harus dilakukan. Semakin jauh jarak fisik semakin bagus. Namun, ikatan sosial harus makin dirapatkan. 


Hari ini seharusnya kita bersatu padu melawan corona. Jangan sampai kita kalah sebelum berperang. Kalah karena satu sama lain berpecah belah. Kalah karena sudah menyerah duluan disebabkan takut menghadapi stigma "azab", pengucilan, penolakan, dan penghakiman liar.







Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece

Pernah Dengar Istilah "Kotak Pandora"? Inilah Kisah di Baliknya

Cara Memecah Sertifikat Tanah Hasil Hibah, Turun Waris, dan Bertujuan untuk Bisnis Tanah Kaveling Perorangan

Visi dan Misi dalam Bekerja