Dua Akibat Melemahnya Nilai Kurs Rupiah di Tengah Pandemi Virus Corona


Pandemi Covid-19 diperkirakan akan masih berlanjut sampai beberapa bulan kedepan. Hal itu disebabkan arus penyebaran virus SARS-CoV-19 masih tak terbendung. Baik dalam tingkat global maupun negara Indonesia. Belum ada prediksi ilmiah secara pasti kapan pandemi itu berakhir.

Sejak pertama kali diumumkan oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pada 2 Maret lalu hingga kini jumlah orang positif Covid-19 dan yang meninggal akibatnya terus bertambah. Ironisnya, Indonesia tercatat sebagai salah satu Negara dengan tingkat kematian tertinggi akibat virus Corona. 


Bila melihat perkembangan wabah virus Corona, maka diperkirakan jumlah pasien yang terinfeksi Covid-19 akan terus meningkat. Jelas, hal tersebut menyebabkan terganggunya perekonomian nasional. Salah satu sektor yang terpukul adalah monoter. Dengan ditandainya terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika.

Ilustrasi nilai kurs rupiah turun dibanding dolar Amerika (sumber gambar)


Bank Indonesia melalui website resminya mencatat tanggal 9 April 2020 nilai tukar rupiah berada di level Rp. 16.241 per dolar Amerika. Nilai itu merupakan kurs rupah terendah sejak awal 2019. Bagaimana tidak, sepanjang tahun 2019 nilai kurs rupiah terhadap dolar hanya berada dikisaran 13 ribu hingga 14 ribu rupiah.


Hal yang paling mengkhawatirkan adalah statemen dari Sri Mulyani selaku menteri keuangan RI. Dalam video conference tanggal 1 April 2020 ia menyatakan situasi melemahnya rupiah akan terus berlanjut. Bahkan diprediksi sampai level Rp. 17.500 per dolar AS. Tentu hal itu sangat tidak kita inginkan.


Rupiah merupakan alat transaksi yang penting untuk digunakan berbagai transaksi. Baik domestik maupun luar negeri. Antara lain seperti transaksi perdagangan internasional, turisme, investasi internasional, dan lain sebagainya. 


Tentu dengan tertekannya nilai tukar rupiah akan menyebabkan berbagai masalah. Paling tidak resiko yang dihadapi adalah sebagai berikut:


Pertama, daya beli mata uang rupiah terhadap barang maupun jasa semakin menurun. Hal tersebut dapat dirasakan saat ini harga-harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan. Bila hal itu terus berlangsung kepanjangan maka akan terjadilah apa yang disebut inflasi. 


Inflasi bisa terjadi salah satunya karena mayoritas bara-barang yang dikonsumsi masyarakat Indonesia adalah barang impor. Sebut saja seperti peralatan telekomunikasi, transportasi, pakaian, dan lain sebagainya. Bila itu tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan masyarakat misalnya menaikkan UMR maka daya beli mereka akan menurun.


Memang ada yang berpendapat dengan naiknya harga barang impor akibat melambungnya kurs rupiah terhadap dolar masyarakat akan berali ke produk lokal. Namun masalah adalah sudah siapkan produk negara kita memenuhi kebutuhan masyarakat sendiri? Sedangkan selama ini kita selalu termanjakkan barang impor.


  Kedua, Kebutuhan mata uang rupiah semakin meningkat. Sebagaimana yang kita pahami bersama bahwa nilai kurs rupiah adalah harga mata uang rupiah terhadap dolar AS. Hal ini akan mengakibatkan semakin banyak uang rupiah yang akan dicetak untuk kebutuhan pembayaran kepada negara lain. Seperti perdagangan luar negeri serta pembayaran utang ke luar negeri. 


Sebab hingga hari ini dapat dipastikan bahwa tidak ada satu negara yang tidak memiliki hubungan investasi dan  perdagangan dengan negara lain. Termasuk Indonesia yang memiliki hubungan dagang dengan banyak negara. Jika rupiah dicetak terus, ini sama halnya menambah supply rupiah, dan yang akan terjadi adalah nilai rupiah akan semakin terpuruk. 


Semakin banyak uang yang dicetak, nilainya semakin turun. Dampak negatif lainnya dari melemahnya kurs rupiah juga menyasar ke perdagangan obligasi dan Surat Utang Negara (SUN). Dengan mengacu pada lemahnya kurs rupiah, investor-investor akan menjual obligasi dan SUN yang telah mereka beli.


Dengan demikian dapat dipahami bahwa pandemi akibat wabah virus corona berdampak negatif terhadap perekonomian nasional. Hal itu menyebabkan masyarakat Indonesia secara umum semakin jauh dari kata sejahtera. Oleh sebab itu, baik pemerintah maupun masyarakat sepatutnya untuk bahu membahu menghentikan penyebaran virus Corona.

Semua pihak punya peran dan fungsi masing-masing dalam mencegah wabah berkelanjutan. Tanpa peran aktif dari masyarakat maka upaya-upaya dari pemerintah dalam penghentian penyebaran virus Corona maupun pemulihan perekonomian nasional tak dapat berhasil.

Aan Nasrullah



Ditulis oleh Aan Nasrullah, Dosen STAI Miftahul Ula Nganjuk. Tulisan dikirim penulis melalui email resmi tim Banjir Embun.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece

Pernah Dengar Istilah "Kotak Pandora"? Inilah Kisah di Baliknya

Cara Memecah Sertifikat Tanah Hasil Hibah, Turun Waris, dan Bertujuan untuk Bisnis Tanah Kaveling Perorangan

Visi dan Misi dalam Bekerja