Selain Bertujuan Bisnis, Gembar-gembor Spirit Doll Diduga Bagian Satu Paket dari Agenda Childfree

Banjirembun.com - Spirit doll adalah boneka bernyawa, memiliki roh, atau boneka ber-arwah. Di mana orang yang memiliki, mengadopsi, atau mengasuhnya percaya dapat memperoleh "bisikan", keberuntungan, serta memberikan semangat tersendiri. Entah orang yang mempercayai itu termasuk gangguan jiwa serta mengalami kepribadian "sesat" atau tidak tapi nyatanya banyak orang yang heboh. 


Adapun childfree adalah sebuah pilihan hidup yang memutuskan untuk tidak mempunyai anak kandung, anak tiri, maupun anak angkat baik sebelum maupun sesudah pernikahan. Salah satu alasan orang berbudaya childfree lantaran tidak ingin terganggu dan terbebani mengasuh dan mendidik anak. Alasan lain disebabkan tekanan ekonomi, faktor kesehatan, hingga takut bentuk fisik berubah setelah melahirkan.

Sebagaimana diulas dalam tulisan sebelumnya berjudul "Skenario Depopulasi Umat Manusia Secara Alami Maupun dari Hasil Rekayasa" bahwa childfree bagian dari program depopulasi. Yakni, pengurangan atau penyusutan populasi manusia secara terencana dan direkayasa tanpa disertai kematian maupun rasa sakit. Dengan kata lain, tak perlu dengan perang dan pandemi (wabah) untuk mengurangi populasi penduduk bumi.


Kembali ke topik tulisan bahwa spirit doll membuat pemiliknya menjadi "halu" yaitu menginginkan atau berharap sesuatu di luar kemampuan. Merasa dirinya telah menang padahal nyatanya justru mendekati kalah. Merasa memiliki istri padahal kenyataannya masih jomblo. Merasa punya anak tapi faktanya cuma boneka yang sama sekali tak bisa disepadankan dengan anak manusia. Halunya sudah keterlaluan banget.


Lebih miris lagi, beberapa artis justru mengajarkan atau malah bangga menunjukkan sikap "halu" pada khalayak. Penuh semangat mengumumkan bahwa boneka yang dipelihara seperti anaknya sendiri. Tentu tidak sepenuhnya salah tatkala bakal ada yang bilang di balik itu semua ada motif bisnis. Yakni, perusahaan atau penyalur spirit doll mengendors (membayar) para artis untuk ikut andil mempromosikan.

Contoh spirit doll, bukan bayi sungguhan (sumber gambar)

Keberadaan spirit doll telah menurunkan derajat kemanusiaan. Sampai kapan pun anak "asli" tidak akan dapat disamakan atau digantikan oleh boneka. Bila ada orang yang merasa nyaman maupun hidupnya jadi berubah setelah memelihara spirit doll maka keimanannya wajib ditanyakan. Sebab orang yang beriman bakal tahu mesti bersyukur, bersabar, dan bertanggung jawab pada hal yang tepat dan layak.


Apa sih untungnya punya spirit doll? Daripada uang digunakan untuk membelinya lebih baik untuk hal yang jauh lebih manfaat. Lebih mulai lagi mengadopsi anak manusia lantas mendidik mereka secara langsung. Hal yang lebih parah lagi ketika salah niat dalam memiliki spirit doll dapat mengantarkan pada kesyirikan. Yakni, seakan-akan meninggalkan dan mengabaikan sunatullah dalam kehidupan.


Setelah ini kalau tidak ada yang mengingatkan maupun menghentikan, tak perlu heran akan banyak spirit doll terjual habis. Setelah masyarakat mulai bosan mungkin akan ada tren baru sebagai ganti. Akan tetapi saat promosi berhasil digencarkan secara epik dan terus-menerus, mungkin juga pola hidup masyarakat akan berubah. Menganggap spirit doll sebagai hal wajar sehingga tak bisa dipisahkan dalam hidup.


Apakah pemilik spirit doll tidak malu disebut kekanak-kanakan? Bukankan boneka itu mainan di masa anak-anak? Dunia mereka masih penuh fantasi. Belum punya beban kehidupan sehingga otaknya masih sempat untuk bermain-main pada hal yang sepele. Namun, saat orang dewasa memainkan boneka layaknya anak kecil bukankah itu sesuatu yang aneh. Masih mending disebut pengangguran kurang kerjaan.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)