Akidah Umat Islam Patut Dipertanyakan Ketika Meragukan 6 Hal ini, Salah Satunya Tentang Ketetapan Rezeki

Banjirembun.com - Akidah adalah keyakinan tanpa ada keraguan sedikit pun pada Allah SWT beserta konsekuensi-konsekuensinya sebagai bukti keimanan. Akidah berfungsi sebagai tali pengikat hati manusia supaya tetap terpaut pada Allah. Dengan demikian, dia merupakan ajaran pokok dan dasar agama Islam.

 

Seorang yang mengaku iman pada Allah SWT berarti juga akan mengimani terhadap semua hal-hal yang diwajibkan oleh-Nya untuk diimani. Sebut saja seperti iman pada malaikat, kitab-kitab, rasul, hari kiamat, serta qada dan qadar. Salah satu saja diragukan dapat berakibat fatal.

Aqidah bukan hanya sebuah ilmu yang mesti dipelajari dan dipahami. Lebih dari itu, juga harus ditancapkan kuat dalam hati, diucapkan melalui lisan, dan diwujudkan dalam tindakan nyata. Orang yang aqidahnya benar sudah pasti hati dan jiwanya jadi tenang.


Berikut hal-hal terkait akidah umat Islam yang tidak boleh diragukan:


1. Ketetapan Rezeki

Setiap manusia sudah ditetapkan rezekinya. Sungguh amat berdosa ketika di dalam hati manusia tak meyakini bahwa rezekinya sudah ada ketetapan tersendiri. Jatah rezeki seseorang sudah terukur dan tertakar hingga dia meninggal dunia. Dia tak akan meninggal kecuali jatah rezeki sudah habis.


Baca juga: Dalam Agama Islam Rezeki Bukan Cuma Harta dan Kesehatan Tetapi juga Hal-hal Seperti ini


Orang yang kemalingan, kehilangan, diberhentikan kerja, maupun barangnya mengalami kerusakan telah ditentukan dan diketahui oleh Allah SWT. Dia Yang Maha Agung memang sudah menghendaki serta menentukan peristiwa tersebut. Alasan lain, disebabkan memang karena itu bukan jatah rezekinya.


2. Takdir Sudah Tertulis

Tinta telah habis dan kertas telah kering untuk mencatat takdir kehidupan manusia. Hal itu artinya sebuah takdir tidak bisa diubah. Semua hal yang dilakukan, dibatin, dipikirkan, sampai diucapkan sudah tercatat. Bahkan, seseorang yang meragukan takdir maupun yang mengotak-atik logika takdir juga sudah tertulis.

Orang yang sudah ditakdirkan bisa ibadah haji (sumber gambar)

3. Ketentuan Ajal

Ada yang bilang mati itu sesuatu yang pasti tapi durasi hidup belum ada kepastian. Oleh sebab itu sebaiknya diperjuangkan agar tetap terus bertahan hidup lebih lama. Dalam artian mengulur-ulur ajal tiba. Hal itu sungguh salah besar. Sebab, semua takdir manusia sudah tertulis dalam lauh mahfudz. Tak bisa dirubah lagi.


Orang yang bunuh diri bukan berarti dia telah mengetahui ajalnya kapan. Sebab dia sendiri tak tahu kapan pastinya dia mati. Di detik dan menit ke berapa. Bisa jadi dia menembakan pistol di kepala pada detik tertentu. Namun, ajal baru tiba setelah beberapa detik atau menit kemudian. Malah mungkin saja pistolnya tak berfungsi.

4. Kepastian Jodoh

Orang yang menikah belum tentu jodoh lantaran masih bisa bercerai. Akan tetapi orang yang berjodoh sudah pasti menikah. Setidaknya, walau tidak di dunia pasti di surga kelak. Sebab semua penghuni surga tidak ada yang membujang (jomblo). Semuanya bakal mendapat pasangan.


5. Akhlak Mulia dan Hati Lurus Mendatangkan Pahala

Kesabaran, keridhoan atas kehendak Allah SWT, syukur, ikhlas, doa, dan akhlak mulia dari orang Islam tak ada yang sia-sia. Semuanya bernilai pahala. Begitu pula saat ditimpa sakit, capek, khawatir (cemas/gelisah), sedih, kesusahan hati, atau sesuatu yang menyakitinya (contohnya duri yang menusuk) itu semua dapat menghapuskan dosa-dosa.


Termasuk muslim yang meluruskan niat dalam hati. Salah satunya rajin beribadah sunnah bukan cuma ingin memburu pahala maupun keutamaan tertentu. Lebih dari itu, juga sebagai bentuk rasa syukur atas karunia yang diterima dari Allah SWT. Bergembira atas pemberian-Nya.


6. Meyakini Asmaul Husna

Nama-nama Allah sungguh indah. Seseorang yang bergetar hatinya ketika disebutkan lafadz dan arti asmaul husna merupakan salah satu ciri memperoleh kelezatan iman. Siapa saja yang meragukan sifat-sifat Allah membuat orang Islam menjadi sesat, zindiq, atau ketika parah bisa disebut kafir.


Baca juga: 9 Ciri-ciri Zindik Berserta Perbedaannya dengan Munafik


Tidak hanya menikmati maknanya tapi kemudian ditindaklanjuti dalam aksi nyata. Bila sudah tahu bahwa al Ghafuur artinya Yang Maha Memberi Pengampun maka tidak boleh putus asa minta ampunan pada-Nya. Senantiasa terus memperbarui taubat dan beristighfar karena yakin bakal diampuni.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Kumpulan Group WhatsApp Berbagai Komunitas Koleksi *Banjir Embun*

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)