Jangan Urusi Jumlah Harta dan Pekerjaan Orang Lain, ini Zaman Modern Bung!

Banjirembun.com - Masih ada saja manusia usil dan jahil mengurusi privasi orang lain. Penasaran, berprasangka jelek, dan risih melihat keadaan orang lain yang "berada". Padahal dia tidak mengganggu dan merepotkan siapapun. Mengatakan dengan enteng orang lain pengangguran, pakai pesugihan, atau semacamnya.


Padahal sejatinya orang-orang yang punya waktu alias yang sempat memikirkan kondisi pihak lainlah yang disebut pengangguran. Kalaupun berstatus sebagai pekerja pasti gaya kerjanya kurang serius serta bukan tergolong pekerjaan hebat. Bisa dikata cara kerjanya masih tradisional dan cuma mengandalkan tenaga.

Buat apa urusi kehidupan orang lain. Lebih baik urusi nasib hidup diri sendiri yang belum tentu semenakjubkan orang yang digosipkan. Jangan ikut-ikutan terjebak pada masyarakat yang memiliki peradaban kaleng. Yakni, yang lebih mengandalkan penampilan fisik menawan atau mewah daripada ilmu dan akhlak.


Baca juga: Peradaban Kaleng, Seorang Tokoh Agama Dituntut Tampil Mewah


Hindari menyamakan kehidupan diri sendiri dengan kehidupan orang lain. Tak boleh memaksakan orang lain tentang cara hidupnya harus sama seperti umumnya masyarakat. Sebab, sekarang ini merupakan zaman modern. Orang bekerja tidak lagi harus ditampakkan dan ditampilkan. Cukup di rumah saja bisa banjir duit.


Bekerja bukan cuma datang membawa peralatan buruh, punya barang dagangan, ada kantor untuk berdinas, atau yang semisalnya. Juga tidak harus pakai baju rapi, berseragam, bersepatu, maupun tampil klimis. Orang yang kelihatannya biasa-biasa saja bisa jadi dia punya penghasilan rutin dari dunia maya.

Ilustrasi orang yang tak tenang karena digosipin di dunia maya (sumber gambar)

Masa bodoh dengan kehidupan orang lain. Buat apa mengurusi harta dan pekerjaan mereka. Lebih baik fokus memperbaiki diri, mengembangkan diri, hingga menata diri untuk masa depan lebih baik. Toh belum tentu juga harta dan pekerjaan diri sendiri dapat dikatakan lebih baik dan mulia.


Hiduplah bahagia meski kadang ada saja orang yang tak bahagia melihatnya. Itu urusan mereka. Tidak ada kewajiban untuk membahagiakan orang yang jiwanya dalam keadaan sakit. Siapa lagi kalau bukan orang-orang yang berhati busuk yang iri (dengki), jahat, sombong, dan tamak (rakus).


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Kumpulan Group WhatsApp Berbagai Komunitas Koleksi *Banjir Embun*

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)