Peradaban Kaleng, Seorang Tokoh Agama Dituntut Tampil Mewah

Banjirembun.com - Apa sih pentingnya sosok tokoh agama memakai jam tangan super mahal berharga ratusan juta rupiah? Kalau memakai mobil mewah masih dapat diterima nalar. Salah satunya agar tidak bikin capek saat digunakan perjalanan jauh. Apalagi  saat beliau mobilitasnya tinggi.


Memang betul bukan suatu masalah bagi siapapun punya jam tangan mewah. Asal barang tersebut dari sumber halal, dari duit dingin, serta apalagi berasal dari pemberian orang lain. Diberi secara ridho tanpa maksud embel-embel tertentu. Namun, tetap ada yang mengatakan hal itu termasuk sifat berlebih-lebihan.

Untuk apa sih tokoh agama mesti tampil mewah? Ternyata manfaat utama seorang pendakwah punya performa fisik maksimal salah satu alasannya supaya orang yang mendengar ajakan beliau respect. Apalagi mereka yang berasal dari kalangan bangsawan dan kaya raya.


Baca juga: 5 Alasan Umat Islam Indonesia Harus Kaya Raya


Harus diakui. Peradaban bangsa kita masih tergolong kelas kaleng. Masyarakatnya masih menuhankan penampilan fisik dan bungkusnya ketimbang isi serta hakikat. Masih melihat siapa yang bicara. Bukan apa yang dibicarakan. Sepintar apapun orang akan sulit dapat posisi di hati.


Dari sini dapat diambil pelajaran bahwa peradaban "busuk" tolok ukurnya yaitu dari seberapa banyak harta yang dipunyai. Mudah dilihat dari bagaimana cara pandang manusianya dalam merespon tampilan. Mereka baru mau hormat dan "tunduk" sama orang-orang yang hartanya selevel atau lebih tinggi.


Bayangkan andai tokoh agama seperti ustadz misalnya, tampil sederhana padahal sasarannya yaitu dari kalangan berada. Para pengusaha besar, artis terkenal, hingga pejabat teras. Sungguh kalau dipaksakan tampil apa adanya terjadilah interaksi yang kikuk dan kaku.


Penceramah yang tampil all out di hadapan orang tepat tak akan menimbulkan fitnah dan rasa dengki. Sedang saat bersama para anak muda yang mulai merintis karir, pengurus yayasan Islam, takmir Masjid, atau para pejuang Islam lainnya tentu ceritanya beda. Lebih baik tonjolkan kewibawaan.

Ilustrasi perilaku orang kaya yang buruk (sumber gambar The Guardian)

Inilah peradaban kaleng. Saat menghadapi orang yang tampil seperti bukan orang kaya bakal sewot, menyepelekan, merendahkan, atau seenaknya sendiri. Giliran ada orang dikira berduit matanya langsung biru. Fenomena seperti itu mudah ditemui pada karyawan toko yang bermental babu.


Baca juga: 5 Sikap Karyawan Toko ini Menunjukkan Mental Babu


Masyarakat awam yang tak paham agama memang begitu. Menilai orang bukan dari seberapa tinggi ilmu dan adab (akhlak). Melainkan melihat dari apa yang menempel. Menilai dari apa yang dipunya. Sanggup tidak beli barang-barang tertentu yang tak mampu dimiliki sembarang orang.


Mulai sekarang tak perlu usil mengusik strategi syiar dan dakwah tokoh agama. Bila semua harus disamakan maka siapa lagi yang akan mencerahkan golongan strata sosial menengah atas agar mendekat ke agama. Beri kesempatan bagi pendakwah untuk mengembangkan langkahnya.

Komentar

Baca juga postingan berikut:

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Pernah Lihat Angka 354 atau 313 di Warung? Itu Kode Angka Organisasi Keagamaan Indonesia