Arti Ngabuburit, Ternyata Berasal dari Bahasa Daerah di Indonesia

Banjirembun.com - Istilah ngabuburit amat mudah didengar oleh banyak orang di media sosial, televisi, hingga di dunia nyata saat interaksi sehari-hari di bulan Ramadan. Entah bagaimana ungkapan tersebut begitu populer. Seakan tanpa menyebutnya terasa kurang afdol.


Penerimaan dan antusiasme mayoritas warga Indonesia terhadap istilah ngabuburit amat wajar. Sebab ungkapan tersebut sangat mudah diucapkan. Enak didengar dan dirasakan. Cocok untuk semua kalangan umur, taraf ekonomi, maupun kebudayaan.


Ternyata kata ngabuburit berasal dari bahasa daerah Sunda. Ada yang mengatakan istilah tersebut merupakan singkatan kata. Di mana, kepanjangan ngabuburit yaitu ngalantung ngadagoan burit. Artinya bersantai sambil menunggu waktu sore atau petang.


Hingga kini penyebutan ngabuburit sebagi tradisi menunggu berbuka puasa di kala sore belum terserap secara resmi ke dalam bahasa Indonesia. Terbukti ketika dicari di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tidak ditemukan. Adapun kata dasarnya burit di sana memiliki makna jauh beda.


Kata burit dalam KBBI memiliki arti "(bagian) belakang; buntut; dubur; punggung". Dari sini dapat dipahami bahwa istilah ngabuburit bukan kata baku. Bahkan, bisa dibilang sebagai bahasa gaul. Sebab di bahasa Sunda sendiri kata tersebut sudah dimodifikasi.


Menurut versi lain, burit dalam bahasa Sunda punya arti "sore hari". Lantas kata dasar tersebut mendapat awalan nga. Kemudian ditegaskan dengan repetisi (pengulangan pada kata, penggalan kata, atau imbuhan) bu menjadi nga-bu-burit.


Ngabuburit adalah kata kerja. Yakni, perbuatan mengisi waktu untuk menunggu petang tiba. Imbuhan nga- inilah yang menegaskan sebagi bentuk kerja. Meski burit menunjukkan keterangan waktu, bukanlah kesalahan tatkala dirubah jadi kata kerja. Itulah uniknya bahasa Sunda. 


Sayangnya, ngabuburit lebih sering diidentikan sebagi kegiatan santai. Melakukan hiburan dan liburan di sore hari. Sebut saja seperti duduk di tempat nongkrong, belanja takjil, pergi ke mall, dan lain-lain. Padahal mengaji, membaca buku, mendengar ceramah, atau semacamnya juga boleh disebut ngabuburit.


Ilustrasi mengaji di sore hari (sumber gambar)


Dari sini dapat dipahami bahwa penggunaan bahasa bersifat dinamis. Sangat mudah berubah sesuai dengan tradisi manusia sebagai pengguna. Tak perlu heran sebuah bahasa di komunitas tertentu akan mengalami perubahan. Bahkan punah dan tak digunakan lagi.

Komentar

Baca juga postingan berikut:

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Pernah Lihat Angka 354 atau 313 di Warung? Itu Kode Angka Organisasi Keagamaan Indonesia