Inilah Penyebab-penyebab Saya Terkena Gejala Autoimun

Banjirembun.com - Sebagai pengidap gejala autoimun saya dihantui rasa bersalah atas kecerobohan dan ketidakpedulian dalam menjaga pola hidup di masa lalu. Berakibat pada kondisi sekarang yang sangat mengganggu aktivitas. Tidak seproduktif dulu lagi.


Semenjak terserang gejala autoimun paling parah seumur hidup baru-baru ini menjadikan saya terancam lumpuh, buta, dan hilang nyawa. Beruntung alhamdulillah, gejala tak makin parah. Maksimal "cuma" membuat saya tak bisa mengendarai sepeda motor.


Makin ke sini gejala makin berkurang. Semoga bisa segera aktivitas seperti semula. Allah SWT masih memberikan saya kesempatan. Lebih lengkap silakan baca "Pengalaman Pribadi Menjinakkan Gejala Autoimun yang Terparah dalam Hidup".


Secara detail berikut ini beberapa sebab saya bisa kena autoimun:


1. Faktor genetik. Saya memiliki keluarga yang pernah memiliki gejala penyakit mirip autoimun. Jenis penyakit tersebut sepertinya multiple sclerosis. Menyebabkan lumpuh. Barangkali faktor gen pada kasus autoimun saya tidak terlalu dominan. Sebab, setelah saya pikir panjang ternyata pola makan saya juga salah. Selain itu, tak begitu banyak pula keluarga besar yang mengalami gejala-gejala aneh seperti saya saat usia 30-an.


2. Setelah menikah tahun 2017 lalu berat badan saya meningkat hingga mencapai 115 Kg. Hal itu disebabkan saya tiap malam sering makan nasi goreng, mie ayam, martabak manis, tahu telor, dan lain-lain. Sebagaimana diketahui bahwa gula, telur, gluten, tepung-tepungan, serta micin pada makanan tersebut menjadi salah satu di antara penyebab autoimun.


Baca juga: Penyebab-penyebab Penyakit Autoimun


3. Setelah pandemi muncul di awal tahun 2020 saya memutuskan mengurangi berat badan. Saya melakukan diet. Diet ekstrim mulai saya lakukan di sekitar November 2021. Singkat cerita,  cara diet saya ternyata salah. Saya banyak menggunakan tomat, garam, terong, cabai, jagung, kacang-kacangan, dan lain-lain. Jumlahnya tidak kira-kira. Dalam satu hari bisa menghabiskan banyak. Misalnya untuk tomat 3-5 butir sehari bahkan kadang lebih. Terkadang tomat saya kukus dulu.


Baca juga: 5 Manfaat Mengukus Tomat Sebelum Disambal


4. Berjemur di bawah sinar matahari siang bolong antara jam 10 pagi sampai 2 siang. Durasi lebih dari 20 menit. Itu saya lakukan ketika paranoid atau takut berlebihan pada fenomena wabah di bulan Juli 2020. Maksud hati ingin hemat dan praktis tanpa suplemen vitamin D justru ternyata berbahaya. 


5. Konsumsi MSG (micin) berlebihan. Sebelum pandemi terjadi, saya sudah terbiasa makan lalapan ayam goreng krispi. Sambalnya sangat enak. Wajar saya curiga itu dikasih perasa kimia buatan. Tak cukup demikian, pada satu momen saya pernah makan soto Lamongan. Butiran putih di atas meja saya kira garam. Saya ambil banyak. Terasa tidak asin terus saya tambah lagi. Besoknya badan terasa ada gejala aneh di tubuh. Itu barangkali micin bukan garam. 


6. Penggunaan disinfektan dan antiseptik berlebihan. Selama pendemi sudah menghabiskan 7 liter lebih disinfektan untuk saya gunakan sendiri. Dulu di awal saat belum paham, saya terbiasa semprotkan di tangan. Padahal disinfektan umumnya khusus untuk benda mati. Selain itu sedikit-sedikit main semprot. Sebagian tentu terhirup ke hidung.


7. Konsumsi garam berlebihan. Istri saya kalau masak kerapkali terlalu asin. Saya memang suka garam. Namun, tingkat asin masakannya memang sangat berlebihan. 

Garam (sumber gambar)

8. Sabun cuci piring. Istri kalau mencuci piring amat sering menyisakan sabun cuci di piring tempat saya makan. Bahkan dalam kasus tertentu saya temui saat mengaduk makanan di piring warna hijau ketara jelas. Itu sabun cuci cair merk terkenal.


9. Makanan gosong. Istri ketika masak tahu atau gorengan lain sering gosong. Kadang hampir gosong semua. Terkadang cuma satu sisi bagian.


10. Penggunaan antibiotik. Waktu kecil saya pernah muntah-muntah tiada henti. Lantas diberi antibiotik suntik. Begitu pula tatkala sakit flu biasa saya kadang diberi antibiotik dosis kecil.


11. Konsumsi obat-obatan. Setiap tahun hampir dipastikan saya dua kali ke mantri (perawat pria) yang buka praktik, dokter, atau puskesmas. Tiap pancaroba tiba sering terserang flu. Mungkin saya didiagnosa alergi sehingga diberi obat-obatan. Salah satunya obat anti alergi.


12. Begadang dan kurang tidur. Dulu sebelum gejala pertama autoimun muncul saya sering begadang. Sehari tidur cuma 4-6 jam. Itu pun kadang dicicil. Malam 3-4 jam. Siang dan sore masing-masing sekira setengah jam. Betah melek bukan untuk hiburan main game atau menonton video. Melainkan cari uang secara online. Membuat konten dan lain-lain. Masa-masa itu saya "ketagihan" cari duit, sebab hasilnya besar.


Saya sudah menulis sejumlah artikel tentang autoimun di website Banjir Embun ini. Terutama di akhir bulan Maret 2022. Silakan kalian baca supaya dapat manfaat. Ada banyak hal penting yang bisa ditemukan di sana. Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan. Aamiin. 


Disclaimer: Sejumlah poin yang saya sebutkan di atas mungkin bukan penyebab pasti saya terkena gejala autoimun. Masih terdapat faktor lain yang berpeluang dan ikut peran jadi penyebabnya yang luput dari pengetahuan saya. Akan tetapi, paling tidak itu semua yang disebutkan patut dicurigai berkontribusi memunculkan penyakit autoimun. Setidaknya kombinasi dari semua tak boleh diabaikan. 


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Kumpulan Group WhatsApp Berbagai Komunitas Koleksi *Banjir Embun*

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)