Hal Buruk yang Terjadi Setelah Deal Beli Rumah Subsidi

Banjirembun.com - Rumah subsidi memang hunian murah yang ditujukan pada Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Di mana, perumahan tersebut bisa dibeli secara mencicil maupun langsung lunas.


Harga miring rumah subsidi berbanding lurus dengan kualitas dan kuantitas. Baik itu terkait unit rumah yang dibeli maupun fasilitas dan layanan yang ada di perumahan tersebut. 


Kendati harus diakui sekarang ini jarang ditemui rumah subsidi yang bangunannya benar-benar buruk. Sebab, pemerintah bakal bertindak tegas terhadap developer yang nakal.


Sayangnya, meski ada perbaikan dibandingkan sebelumnya ternyata dari segi lain masih terdapat kekurangan. Misalnya permasalahan tentang keamanan, kenyamanan, fasilitas, hingga layanan.


Baca juga: Cara Mencari Rumah Harga Murah untuk Tempat Singgah Perjalanan


Bagi yang hendak membeli rumah subsidi di perumahan yang baru saja dimulai pelaksanaan proyek (penghuni masih sedikit) lebih baik berhati-hati. Jangan langsung ditinggali tatkala belum siap menanggung resikonya.


Pemukiman yang masih sepi sangat rawan pencurian. Siapapun bisa dicurigai. Mulai dari tetangga, kuli atau tukang bangunan yang sedang melanjutkan proyek, sampai warga di luar perumahan.


Terlebih saat rumah kalian tepat di sebelahnya ada proses pembangunan rumah. Suara bising alat pertukangan maupun suara mulut pekerja seringkali mengganggu ketenangan.

Ilustrasi proses pembangunan rumah subsidi 

Ditambah lagi umumnya rumah subsidi masih belum siap huni sepenuhnya. Bagian belakang rumah masih terbuka. Tanpa disertai pagar. Padahal di sanalah biasanya dapur berada.


Hal tersebut berarti pembeli harus merenovasi sendiri. Nah, parahnya biaya borongan yang ditentukan dari developer sangat mahal. Kalau sudah begitu menunda renovasi mesti dipertimbangkan. Bertahan dulu dengan kondisi seadanya.


Permasalahan lain yang jadi pengalaman buruk pembeli yaitu kelakuan developer yang egois. Saat belum dibayar mereka bermuka manis. Namun, setelah deal mereka jadi amnesia. Tidak lagi komunikatif.


Bakal sangat sulit ditanyai. Serta dimintai jalan keluar. Apalagi saat dikomplain akan semakin lamban responnya. Berharap banyak pada mereka ibarat mengharapkan petir di siang bolong.


Hal mengecewakan lagi yaitu ada biaya tambahan. Padahal di klausul PPJB (Perjanjian Pengikat Jual Beli) tidak ada. Misalnya peningkatan paket listrik prabayar dari 900 ke 1300 Kwh. 


Bagi yang mau beli rumah subsidi sebaiknya periksa instalasi atau jaringan listrik di perumahan tersebut sudah ada atau tidak. Bila belum maka masukkan ke klausul PPJB tentang waktu pasang dan jaminan tanpa biaya tambahan apapun.


Saran saja, sebelum memutuskan transaksi atau membayar lebih baik tanya-tanya dulu secara komplit dan gamblang. Jika marketing di kantor pemasaran dianggap mencurigakan maka datanglah ke kantor pusat.


Di kantor pusat di mana PT dari developer tersebut berada biasanya jauh lebih profesional. Terutama saat ditanyai lebih detail. Apalagi ketika manajemen perusahaan tersebut sudah berpengalaman.


Baca juga: Pengalaman Pribadi Beli Rumah Murah 150 Juta, Sangat Dekat Kota Malang


Itulah beberapa kelemahan dan kekurangan rumah subsidi setelah pembelian dilakukan. Pengalaman berharga yang didapat yaitu jangan hanya fokus pada awal. Yakni, sebelum deal bayar untuk mencegah penipuan. 


Melainkan pastikan pula bagaimana yang terjadi pasca pembelian. Supaya tak memunculkan kekecewaan di kemudian hari. Jangan terburu-buru beli sebelum semua bisa dipastikan secara gamblang.


Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kalian yang mau beli rumah subsidi.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Tanya Jawab Tentang Filsafat Pendidikan Islam dan Upaya Pembaruan Pendidikan Islam

Visi dan Misi dalam Bekerja

Pernah Lihat Angka 354 atau 313 di Warung? Itu Kode Angka Organisasi Keagamaan Indonesia

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece