3 Pengalaman Pribadi Saat Tanya-tanya Malah Ketemu Broker atau Makelar Dadakan

Banjirembun.com - Terkadang saat bertanya pada orang tak dikenal untuk mendapatkan jawaban bukannya solusi yang diberi. Malahan orang tersebut ikut campur dalam urusan yang terkait dengan apa yang ditanyakan padanya.


Mendadak menjadi makelar atau broker tatkala ditanya menyangkut lokasi kantor marketing, penjual, maupun pembeli. Tentu saja tujuannya agar dia mendapat kecipratan untung dari transaksi yang terjadi.


Sebagaimana 3 kisah saya pribadi berikut ini tentang proses rencana penjualan dan pembelian yang ditunggangi blantik (pialang):


1. Menjual Sepeda Motor

Saya punya sepeda motor Supra X 125 R yang mulai sering dipakai dari tahun 2012 hingga 2018. Berhubung setelah menikah domisili menetap di Malang tapi mengajarnya di Kediri, alhasil saya pulang pergi pakai motor tersebut.


Rasanya sungguh capek. Bikin punggung pegal-pegal. Akhirnya pada tahun 2018 saya putuskan menjual agar bisa beli motor "laki" merk Honda CB150 VERZA. Harga baru "fresh" turun dari dealer sangat murah. Cuma 20,1 juta.


Baca juga: 3 Kelemahan Honda CB150 Verza untuk Traveling Jarak Jauh


Akibat kebelet pengen beli motor bertangki luar yang terletak di depan itu saya putuskan menjual motor lama. Seratus persen hasil penjualan untuk beli yang baru. Tentu menjualnya di Kediri lantaran plat nomor dari sana. Singkat cerita saya menuju Pare, Kabupaten Kediri.


Saat di sana dengan polosnya saya berhenti di Pasar Sapi. Lantas bertanya pada orang di sekitar terkait lokasi tempat jual beli motor. Bukannya diarahkan, orang itu justru mengajak dan meminta saya membuntutinya.


Tentu sudah tertebak arahnya menuju "show room" mini sepeda motor. Pada saat itu transaksi tidak dapat menemukan angka yang disepakati. Namun, dia pantang menyerah. Meminta saya mengikutinya ke tempat lain.


Tibalah di bengkel dan toko suku cadang sepeda motor ukuran kecil. Berbeda dengan sebelumnya, di tempat ini transaksi yang alot terjadi. Pemilik usaha tersebut jago mengambil hati saya. Akan tetapi untungnya saya berunding dulu dengan istri lewat telepon.


Dalam diskusi itu istri memberikan saran patokan harga yang dijual masih terpaut lumayan jauh dari harga pasar. Oleh sebab itu, menurutnya lebih baik jangan terpancing untuk setuju. Akhirnya, saya cari lokasi lain.


Saya pamit pada makelar dadakan tersebut. Saya ucapkan terima kasih ke dia. Kemudian saya bilang kepadanya akan cari pembeli lain secara mandiri. Kemudian melakukan perjanjian bertiga tidak akan kembali lagi ke sini untuk jual beli motor.


2. Membeli Rumah

Ketika pengalaman pertama kali melangkahkan kaki mencari rumah, saya langsung menuju lokasi perumahan. Tidak disertai broker. Sayangnya, di sana tidak ada tulisan apapun tentang kantor pemasaran. Saya sudah usaha mencarinya.


Alhasil, saya putuskan bertanya ke warga setempat yang sudah menghuni. Setelah diberi jawaban tentang ciri-ciri dan nama orang, saya menuju ke yang bersangkutan. Ternyata dia mandor tukang di sana. 


Belum juga obrolan berlangsung lama, sejenak kemudian orang yang saya tanyai menghampiri kami. Dengan antusias dia memberi tahu mandor bahwa saya sedang mencari rumah. Sontak saja mandor itu mencueki. Lalu mengajak saya ke kantor marketing.

(Sumber gambar)


Kantor pemasarannya berkesan asal-asalan. Lokasi tidak strategis, tak terawat, serta tampilannya persis seperti rumah warga lain. Kendati seperti itu, berhubung masih pertama dan masih bersemangat saya abaikan kejanggalan tersebut.


Singkat cerita, di lain hari saya menuju ke sana lagi untuk bertemu marketingnya langsung. Inti dari semua percakapan yang saya lakukan dengan orang-orang di sana ternyata mandor tadi juga akan dapat bagian (fee) saat saya deal beli rumah.


Untungnya saya tidak jadi beli di sana karena beberapa alasan. Salah satunya saya masih ingin mencari lokasi perumahan lain untuk perbandingan. Lebih lengkapnya silakan baca Pengalaman Pribadi Beli Rumah Murah 150 Juta, Sangat Dekat Kota Malang.


3. Membeli Tanaman Hias Aglaonema

Saat masih awal pernikahan dulu saya punya tabungan 32-an juta. Dikumpulkan sedari tahun 2012 hingga nikah. Sengaja saya tabung memang untuk kebutuhan rumah tangga. Sekaligus kelak mencoba usaha secara mandiri.


Perlu diketahui, saya orangnya perhitungan. Termasuk pada diri sendiri. Orang lain mungkin mengira saya miskin tanpa punya tabungan. Padahal jumlah tabungan yang terkumpul dari pemberian orang tua maupun hasil jerih payah sendiri tergolong lumayan untuk orang kampung seperti saya.


Saya memutuskan bisnis aglaonema gara-gara tertarik dengan bapak kos tempat domisili saat saya kuliah di malang (sebelum nikah). Beliau memberi wawasan terkait tanaman tersebut. Terutama tentang harga, masa tumbuh, hingga cara perawatan.


Pendek kata, pada akhirnya saya mengikuti komunitas atau grup media sosial aglaonema kota Malang. Di sana, saya berinteraksi online dengan salah satu penjual. Saya cari aglaonema bibit mahal. Masih kecil tapi harga perpohon 1,2 juta.


Umumnya pedagang jarang sekali yang mau jual aglaonema kelas "mahal" di usia muda. Tentu mereka lebih pilih merawat dulu untuk dijual saat umur matang. Kalau perlu dijadikan indukan saja sehingga yang dijual anak-anaknya.


Berhubung saya terlalu semangat tanpa pikir panjang langsung sepakat beli. Ternyata, penjual tersebut cuma perantara. Dia mengambil barang dari petani kemudian dioperkan ke saya. Mungkin dia dapat laba bersih 200 ribu.



Itulah pengalaman saya menghadapi makelar dadakan. Profesi blantik bukanlah hal rendah, hina, atau penuh dosa. Pekerjaan apapun asal dilakukan secara jujur, profesional, dan tanpa memaksa merupakan hal terhormat.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)