5 Ciri Individu Sedang Terkena Sindrom "Rumput Tetangga Lebih Hijau"

Banjirembun.com - Sindrom adalah gabungan dari sejumlah tanda atau gejala yang muncul bersamaan disertai dengan membentuk pola tertentu secara tak normal sehingga dapat diartikan sebagai keanehan atau keganjilan.


Adapun pengertian dari ungkapan "Rumput tetangga lebih hijau" ialah  cara pandang berpikir dan berkeyakinan tentang selalu ada kesempurnaan serta kualitas terbaik yang ada di tempat lain.


Baca juga: Arti dan Asal-usul Peribahasa "Rumput Tetangga Lebih Hijau"


Seseorang yang terkena sindrom rumput tetangga lebih hijau akan fokus terhadap keunggulan dan keindahan milik orang lain, ketimbang punya sendiri. Tanpa diselidiki dulu bagaimana kondisi di baliknya.


Padahal, sangat mungkin sejatinya yang tersedia di sekitar, bebas dipakai, dan mudah dikuasai berstatus milik pribadi itu jauh lebih unggul. Berhubung ada rasa penasaran atau penyebab lain, akhirnya tergoda milik tetangga.


Guna mengetahui siapapun, termasuk sebagai bahan evaluasi diri tengah terjangkit sindrom "rumput tetangga jauh lebih hijau daripada rumput sendiri" atau tidak, amat disarankan pahami 5 keadaan kejiwaan berikut:


1. Lengah Memahami Tentang Realitas Kehidupan

Kenyataan kehidupan, terkait hiasan maupun "kotoran" yang ada di dalamnya,  sangatlah beragam. Sayangnya, seseorang barangkali lupa atau tak menyadari lantaran lengah bahwa setiap manusia mempunyai "jatah" masing-masing.


Setiap insan mempunyai kecerdasan, bakat, minat, sampai orientasi masa depan yang berbeda-beda. Apa saja itu yang melekat pada individu, sudah pasti cocok dan terbaik untuknya. Oleh sebab itu, alih-alih tergoda "rumput hijau tetangga" malah eloknya memupuk potensi dalam diri.


Nah, ketika potensi atau sesuatu yang bikin menggiurkan tersebut dialihkan kepada orang lain dampaknya belum tentu baik. Dalam artian, "rumput hijau" yang diidamkan itu tatkala berhasil direbut atau setidaknya ditiru bakal berisiko buruk terhadap jiwa dan raganya.


2. Mulai Timbul Rasa Rendah Diri

Rendah diri salah satunya disebabkan setelah melihat sesuatu yang dianggap luar biasa di luar diri. Sebaliknya, diakibatkan sering terjadi kegagalan dan kesalahan pada diri sendiri berujung kondisi jiwa berubah sensitif. Bahkan, timbul sifat pesimis-melankolis.


Alhasil, gampang down dan minder alias jatuh mental saat melihat sedikit saja bagian dari setitik kemuliaan yang dimiliki orang lain. Hatinya seketika runtuh atau bisa pula takjub, walau cuma memperhatikan sesuatu yang kecil dan remeh yang dipunyai "tetangga".


3. Digerogoti Sifat Iri atau Dengki

Ketertarikan pada rumput hijau milik tetangga bukan melulu diekspresikan dengan memberi pujian atau pun apresiasi tertentu. Malah, yang dilakukan yaitu menjelek-jelekkan dan menjatuhkan "nilai" dari sesuatu yang dipunyai orang lain itu.

Ilustrasi rumput tetangga yang hijau (sumber gambar koleksi pribadi)

Bisa dikata, perilaku yang dipicu oleh sindrom rumput tetangga lebih hijau mayoritas berakibat negatif. Jarang sekali peribahasa "rumput tetangga lebih hijau" berkonotasi positif. Misalnya, membuat orang menjadi makin termotivasi dan terinsipirasi.


Baca juga: Pengen Seperti Dia Boleh, Tapi Iri Hati atau Malah Ngrecokin Jangan


4. Terbuai Fokus ke Hasil Daripada Proses

Hasil memang sangat penting. Namun, jauh amat berharga lagi proses yang dijalani. Sebab, hasil bisa "dicurangi" dan dibeli. Sedangkan, proses merupakan sebuah pengalaman berharga yang belum tentu bisa dirasakan dan dinikmati oleh banyak orang.


Ketika mengetahui kenyataan di balik hijaunya rumput tetangga lebih hijau, boleh jadi justru bikin tersanjung. Di mana, terwujudnya hasil yang bagus itu konsekuensi dari perjuangan dan pengorbanan panjang. Tak hanya dilakukan satu malam langsung hijau begitu saja.


5. Bermental Gemar Mengeluh, Menuntut, dan Serakah

Akhlak buruk berupa kerap berkeluh kesah, menuntut, dan tamak juga menjadi ciri-ciri sedang terkena sindrom "rumput tetangga lebih hijau." Bukannya bersyukur terhadap apa-apa yang telah dimiliki, yang terjadi malah terus-menerus haus ingin "minum" milik pihak lain.


Percayalah, semua manusia memiliki masalah dan tantangan yang menghadang. Begitu pula, seluruhnya juga mempunyai peluang dan "keajaiban" yang tak boleh disamakan. Orang lain saja tidak mengeluh dan menuntut. Lantas, kenapa memutuskan merasa paling "menderita".


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Pernah Lihat Angka 354 atau 313 di Warung? Itu Kode Angka Organisasi Keagamaan Indonesia