5 Hal yang Menyebabkan Idealisme dan Ideologi Mahasiswa Runtuh Berantakan Setelah Lulus Kuliah

Banjirembun.com - Cara berpikir dan arah pergerakan mahasiswa di Indonesia cenderung frontal. Tanpa disertai rem pengendali yang pakem. Akibatnya, terjadi kebebasan bersuara melalui tulisan dan demonstrasi yang bablas tanpa pembatas. Kecuali, seluruhnya itu hanya akan sanggup dihentikan oleh kejenuhan, keegoisan, dan fanatisme shadow yang "tersembunyi" rapat di kegelapan dalam hati.


Itulah penyebab utama terjadinya kelayuan maupun keruntuhan idealisme serta ideologi mahasiswa saat masih di bangku kuliah. Mereka yang awalnya bagaikan harimau lapar, tiba-tiba jadi kucing manis seperti hello kitty yang takut pada majikannya. Salah satu penyebabnya tentu ada fanatisme "bawaan". Yakni, kefanatikan yang diturunkan oleh orang tua mereka. Baik itu fanatisme suku, partai politik, hingga cara pandang dalam beragama.


Nah, sesudah lulus kuliah pun seorang mahasiswa bisa serta merta berubah corak atau cetak biru alam pikirannya. Ketika masih jadi mahasiswa lagaknya sok pintar, merasa lebih hebat ketimbang pejabat, serta seakan-akan mampu hidup mandiri tanpa bantuan orang tua maupun kucuran beasiswa dari pemerintah. Berkoar-koar tanpa malu membawa-bawa nama rakyat, kebenaran, serta keadilan sebagai alat menyerang.


Baca juga: Jangan Mengaku Hidup Mandiri Kalau Masih Kepikiran 3 Hal Berikut


Padahal, andai boleh disingkap lebih mendalam, sebagian mereka hanya pengangguran yang butuh ruang dan fasilitas beraktivitas. Ada pula yang enggan menjalani perkuliahan tatap muka, lantas menjadikan "profesi" sebagai aktivis mahasiswa yang dijalani jadi tempat melarikan diri dari kenyataan. Sebut saja menghindari tugas-tugas mata kuliah, tunggakan biaya kos-kosan, dan yang paling menggelikan supaya terbebas omelan orang tua karena jarang pulang kampung.


Berikut ini yang menyebabkan idealisme dan ideologi mahasiswa runtuh sesudah lulus kuliah:


1. Orang Tua

Cara mengekspresikan atau mengaktualisasikan dalam berbakti pada orang tua oleh tiap anak berbeda. Ada yang dicukupkan dengan mematuhi arahan mereka. Terdapat pula, yang hidup mandiri lepas diri lantaran malu terus-terusan menjadi beban hidup mereka. Lebih mencolok lagi, membahagiakan orang tua dengan cara memberikan gelimang harta atau setidaknya menghadiahi mereka berbagai prestasi bidang tertentu.


Seorang mahasiswa mungkin ketika hidup di kota posisinya bagaikan raja yang disegani teman dan juniornya. Akan tetapi, tatkala pulang ke kampung ternyata dia begitu penurut pada orang tuanya. Alhasil, segala bacaan buku "berkelas" mulai dari filsafat hingga sejarah tokoh dunia seolah-olah tiada guna ketika berhadapan dengan ortu. Istilah kata, "mendadak bodoh" di hadapan ibu bapaknya.


2. Realitas Masyarakat

Dunia kampus merupakan kepingan kecil dari realitas kehidupan yang luas. Apalagi, ternyata ketika perguruan tinggi wadah belajar tersebut lokasinya masih sekawasan dengan tempat tinggal (satu provinsi). Diperparah, kampus tersebut peserta didiknya homogen (satu warna). Akibatnya, semakin ciut keterbukaan wawasan dan pengetahuan tentang realitas masyarakat yang heterogen.


Benturan antara idealisme dengan keadaan di lapangan setelah lulus kuliah kerap terjadi. Apa-apa yang dipelajari di dunia akademis bukan serta-merta semua boleh diterapkan dalam pengabdian dan pekerjaan yang sedang dihadapi. Masih perlu disaring secara ketat sebelum semua yang diperoleh dari hasil pembelajaran formal diaplikasikan pada alam nyata.


3. Uang

Bukan dalam kondisi terlilit hutang saja maupun yang tengah terjatuh finansialnya yang rawan terperdaya uang. Bahkan, orang yang telah mapan keuangannya dan kaya raya juga amat berpeluang doyan duit. Penyebabnya, salah satunya sifat rakus alias tamak. Itu bisa terjadi pada siapa saja, termasuk lulusan perguruan tinggi yang dulu pernah jadi aktivis mahasiswa.


Baca juga: 5 Penyebab Orang Berduit Masih Doyan Memungut Recehan dan Kerja Mati-matian


Idealisme dan ideologi yang sekian lama dibanga-banggakan sendiri, begitu mudah dibeli dengan uang. Berubah sikap, sehingga melupakan teriakan-teriakan diri yang dulu pernah mereka dendangkan di muka rektorat, kantor pemerintahan, perusahaan, maupun di jalanan terbuka. Saat berstatus mahasiswa, sikapnya melawan keras korupsi. Nahasnya, kini faktanya ikut-ikutan KKN.

Ilustrasi mahasiswa yang lulus kuliah tapi tetap idealis (foto koleksi pribadi)

4. Pasangan

Cinta memang buta. Mampu membutakan semuanya. Termasuk ideologi dan idealisme. Lantaran, pasangan dalam naungan pernikahan itu mempunyai mazhab dan metode pemikiran yang beda, begitu gampang membikin siapa saja terseret arusnya. Atas nama cinta kepada pasangan dan anak-anaknya, rela menggadaikan komitmen dalam diri yang dulu pernah dipertahankan.


Lebih membagongkan lagi, bukan cuma menukar nilai jati diri serta prinsip hidup demi membahagiakan pasangan. Lulusan pendidikan tinggi tersebut bagaikan kerbau yang dicocok atau dicucuk hidungnya tatkala di depan pasangan. Apa saja yang dimintanya, berusaha dituruti. Walau itu ditempuh dengan cara membakar dan melukai diri. Betapa itu sangat aneh, lulusan perkuliahan tapi kehilangan akal waras.


5. Politik

Orientasi dan kecondongan pada aliran politik tertentu umumnya dipengaruhi oleh otoritas yang melekat pada individu. Sebut saja seperti orang tua, kakak kandung, pengasuh, tokoh (agama, adat, atau yang semacamnya), sampai komunitas yang sedang digemari. Semua itu, bisa mendekte seseorang untuk bersikap tertentu dalam berpolitik.


Hal yang bikin ngilu yaitu agar memperoleh uang membuat lulusan sarjana nekat, mengganti idealisme serta ideologinya. Alumni perguruan tinggi itu meninggalkan semua kata-kata mengharu biru ketika kuliah. Sebab, tatkala berkecimpung di politik pun ternyata juga berbuat semaunya. Menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan berupa jabatan tinggi dan harta melimpah.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Pernah Lihat Angka 354 atau 313 di Warung? Itu Kode Angka Organisasi Keagamaan Indonesia