4 Cara Mengkapitalisasi Gelar Sarjana dan Profesi


Lulusan sarjana di zaman sekarang ini sungguh teramat banyak. Kendati demikian, ternyata antara warga usia 18 tahun ke atas yang kuliah dengan yang tak pernah perbandingannya masih teramat jauh. Sayangnya, lulusan yang tergolong "tak" banyak itu bisa terserap kerja formal.
Banjirembun.com

Mayoritas sarjana sekarang ini bekerja tak sesuai dengan kualifikasi ijazah. Lulusan teknik kimia perguruan tinggi ternama tidak serta merta langsung diterima kerja pada pabrik. Begitu pula lulusan teknik mesin, pendidikan (guru), ekonomi, dan masih banyak jurusan lain yang bernasib sama.


Masih mending tatkala walau tak diterima pada perusahaan, perkantoran, atau lembaga punya usaha sendiri sesuai bidang kuliah. Misalnya jurusan informatika membuka jasa instalasi komputer, jurusan pendidikan buka les privat atau lembaga les, dan jurusan ekonomi membuka usaha dagang mandiri.


Kenyataannya, lebih banyak lulusan sarjana yang bekerja atau berwirausaha tak sesuai dengan keilmuan program studi saat kuliah. Kalaupun bekerja sesuai dengan bidangnya, tapi gajinnya tak terlalu besar. Teramat pas-pasan untuk diterima. Fenomena itu sering terjadi pada sarjana pendidikan (guru).


Kadang, orang memilih menjadi guru selain mendambakan tunjangan sertifikasi Guru yang cukup menjanjikan juga demi mendapatkan martabat. Sebagaimana diketahui profesi guru, walau sekarang sudah mengalami penurunan nilai kehormatan, masih dinilai bermartabat dan "tanpa jasa".


Begitu pula dengan gelar sarjana dari jurusan pendidikan. Jauh lebih bernilai "moral", sosial, ketulusan, kesopanan, keteladanan, dan sifat-sifat baik lain. Sebagai calon seorang pendidik banyak yang menilai mereka orang yang jujur, integritas, amanah, dan cerdas saat diajak kerja sama (bisnis).


Langkah Menguangkan Gelar Sarjana dan Profesi Guru

Bagi beberapa orang ijazah tidak ada gunanya selain hanya memberi gelar dan bukti pernah berpendidikan. Bagi sebagian lain ijazah bisa menjadi aset berharga untuk mencari uang. Walau seringkali antara bidang ilmu di ijazah dengan cara mengkapitalisasinya tidak sinkron.


Tentu orang yang pernah lulus kuliah dan sekolah akan berbeda dengan orang yang tidak lulus atau malah tidak pernah sama sekali. Orang berpendidikan pasti memiliki nilai tambah. Minimal memiliki ijazah, gelar, atau bahkan mungkin profesi terhormat. Itu semua bisa untuk membangun citra diri.


Sebenarnya, ijazah bisa dikapitaliasi sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan pundi-pundi uang. Terlebih lagi bila orang tersebut kreatif, ulet, dan fokus pada usaha atau karirnya. Baik itu dengan cara bekerja secara mandiri (wiraswasta) maupun bekerja pada orang lain.

Ilustrasi uang hasil kapitalisasi gelar dan profesi (sumber gambar)


Gelar dan profesi bisa jadi alat untuk membangun kepercayaan calon pelanggan, mitra (klien), maupun jadi daya saing pada kompetitor. Terlebih ketika lokasi berprofesi sudah jelas, transparan, dan memiliki nilai tambah. Misalnya seperti sekolah, kampus, kantor yayasan berbasis agama, dll.


Berikut ini cara mengkapitalisasi gelar sarjaa dan profesi

1. Jadi YouTuber

YouTuber yang punya gelar sarjana dan punya profesi tetap tentu memiliki nilai tawar lebih tinggi di mata penontonnya. Terlebih ketika dibandingkan dengan YouTuber baru yang masih pengangguran. Di mana, ia hanya menggantungkan penghasilan pada akun YouTube-nya.


Lebih-lebih lagi tema atau topik bahasan yang disampaikan pada video YouTube sesuai dengan bidang pendidikannya. Tentu penonton tambah semakin yakin karena apa yang disampaikan telah dipelajari sebelumnya pada perkuliahan. Atau setidaknya sesuai dengan profesi yang sedang digeluti.


2. Jadi Blogger

Ada yang mengatakan menjadi Blogger itu sulit. Mungkin mudah saja menampilkan iklan di blog sehingga bisa mendatangkan uang. Namun, untuk mendapatkan penghasilan besar tiap bulannya tidak mudah. Apalagi jika blog tersebut dikelola oleh orang tak jelas makin lebih berat.


Seperti halnya YouTube, seharusnya seorang kreator harus menampilkan jati diri. Tidak hanya muka tapi juga gelar maupun profesinya. Dengan begitu para pengunjung bakal tahu apakah blog tersebut dikelola oleh orang tepat dan tidak asal-asalan.


Gelar sarjana dan status profesi yang digeluti juga dapat ditampilkan saat promosi blog. Supaya makin banyak yang berkunjung lebih baik yakinkan para calon pembaca lebih dulu. Tunjukkan jati diri kalian saat promosi blog. Itu dapat menjadi nilai tambah dan pertimbangan positif.


3. Jadi Usahawan Mandiri

Menjadi makelar, penjual, atau penawar jasa dan produk lainnya tidak ada salahnya membuat kartu nama. Dalam kartu nama itu cantumkan gelar dan profesi lain. Dalam akun media sosial khusus untuk bisnis kalian juga dapat membubuhkan keduanya. Dengan begitu calon pembeli atau pengguna jasa kalian itu lebih percaya.


Kalian dapat ikut grup media sosial yang sesuai dengan profesi. Di sana kalian juga dapat mempromosikan jasa atau layanan yang kalian geluti. Dijamin tidak ada yang mengeluarkan kalian dari grup itu. Senyampang apa yang kalian tawarkan itu wajar dan tidak dilakukan sering.


4. Mendapat Beasiswa dan Bantuan

Kalian yang baru lulus S1 tapi belum punya pekerjaan yang lebih menjanjikan tak ada salahnya mengajukan beasiswa. Misalnya seorang guru mengajukan beasiswa S2 pada kantor Dinas Pendidikan Daerah ataupun pusat. Itu seringkali bisa dilakukan ketika ada pengumuman peluang beasiswa.


Selain dari itu, kalian juga dapat mengajukan beasiswa full maupun tidak pada pemerintah daerah. Sebab daerah pasti punya anggaran sosial salah satunya untuk beasiswa bagi putra dan putri asli daerah. Begitu pula perusahaan besar pasti punya dana CSR (Coroporate Social Responsibility).


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Kumpulan Group WhatsApp Berbagai Komunitas Koleksi *Banjir Embun*

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)