5 Alasan Penting Mengapa Setelah Makan Tak Boleh Rebahan

Rebahan, telentang, tiduran, atau berbaring setelah makan merupakan kebiasaan buruk. Tak hanya menimbulkan rasa tak sedap dipandang oleh orang lain karena terkesan orang malas, tapi juga merugikan kesehatan. Sungguh patut diwaspadai.

Banjirembun.com

Umumnya setelah melakukan makan, orang bakal duduk-duduk dulu. Ada yang sambil minum teh, kopi, atau kadang ditemani hisapan sebatang rokok. Kalau ada teman makan bersama di samping sangat mungkin akan mengobrol bersama.

Orang lapar cenderung mudah emosi dan sulit konsentrasi. Tatkala tiba-tiba kenyang perasaan jadi lega. Tubuh perlu waktu untuk "memahaminya". Hal tersebut seperti halnya setiba bangun tidur. Otak dan tubuh butuh menyesuaikan dulu pada kondisi baru.


Rasa nyaman itulah yang menimbulkan rasa kantuk. Akibatnya dorongan untuk berbaring makin tinggi. Apalagi ketika setelah makan langsung saja pergi ke kamar. Tanpa ada kursi. Maunya duduk di kasur. Ternyata spontan membuat gerakan baring.


Sesekali merabahkan tubuh setelah makan tidak bakal mengganggu kesehatan. Namun, saat jadi kebiasaan hal tersebut dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan. Mulai dari yang ringan hingga parah.


1. Gangguan Tidur di Malam Hari

Hubungan antara kebiasaan tidur setelah makan dengan insomnia tak bisa dipandang remeh. Tidur (dalam arti sebenarnya) setelah makan pagi, siang, atau sore membuat kalian sulit tidur di malam hari. Tentunya terjadi pergeseran waktu tidur.


Efek yang sama sangat mungkin terjadi walau hanya tiduran (berbaring) saja setelah makan. Terutama hal itu jadi kebiasaan. Tiduran walau tanpa memejamkan mata membuat badan terasa rileks. Tubuh dalam "mode" istirahat seperti tidur.


2. Peningkatan Berat Badan

Orang yang tidur atau bahkan hanya rebahan meningkatkan potensi meningkatnya berat badan. Obesitas bisa terjadi lantaran metabolisme tubuh saat istirahat melambat. Itu secara refleks juga mengurangi kinerja sistem pencernaan dalam menyerap makanan.

Ilustrasi makan sebelum tidur (sumber gambar)


Banyak ahli diet menyarankan untuk tidak makan berat di malam hari. Salah satu alasan pentingnya ialah mencegah kebiasaan tidur sesudah makan. Normalnya, beberapa waktu setelah makan orang harus melakukan aktivitas. Agar kalori (lemak) dalam makanan dibakar.

3. Masalah Lambung

Di bagian atas lambung ada katup. Katup tersebut yang mengontrol "hubungan" antara lambung dengan saluran ke kerongkokan ataupun mulut. Makan dalam jumlah banyak, apalagi langsung tidur dapat meningkatkan dorongan di lambung sehingga menekan katup tersebut.


Hal lain yang terjadi minuman dan makanan yang dikonsumsi rentan kembali naik ke saluran kerongkongan. Apabila reaksi tersebut terjadi terus-menerus dapat menimbulkan gejala GERD atau penyakit asam lambung. Serta tak menutup kemungkinan dinding lambung terluka.


4. Kerusakan Paru-paru.

Penderita penyakit asam lambung (GERD) yang melakukan kebiasaan rebahan setelah makan dapat meningkatkan risiko masalah paru-paru. Penyakit tukak lambung menyebabkan cairan di lambung naik ke arah mulut. Perilaku tiduran setelah makan dapat memperparah.


Cairan asam (korosif) yang berbahaya dari lambung tersebut bisa saja paru-paru. Akibatnya kerusakan paru-paru serta daerah di sekitarnya yang terimbas seperti laring (pita suara). Gejala peradangan paru-paru, tenggorokan (sensasi terbakar) dan laring sangat mungkin terjadi.


5. Sembelit

Memang saat tidur sistem pencernaan masih bekerja secara aktif. Akan tetapi kinerjanya tak sebaik saat tubuh sedang beraktivitas. Posisi berbaring dapat menghambat proses alat pencernaan menyerap makanan. Efeknya perut buncit bisa terjadi.


Akibatnya sari-sari makanan yang kasar cukup tersisa banyak. Hal tersebut dapat memicu sulitnya buang air besar atau sembelit. Apalagi makanan yang disantap sebelumnya tidak berserat, berlemak, dan mengandung gula.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja