5 Jatidiri Netizen Memalukan yang Suka Berkomentar Pedas dan Kasar di Media Sosial

Tak sedikit netizen ditemui memberi komentar kasar dan pedas pada media sosial. Baik itu whatsapp, insagram, facebook, maupun yang lain. Ada yang mengeluarkan perkataan tanpa sensor maupun basa-basi sehingga langsung mengena.

Banjirembun.com

Seringkali kata-kata yang dikeluarkan bertujuan untuk merendahkan orang yang posting. Serta bisa juga ditujukan hanya menanggapi konten postingan. Sebab berita, kabar, atau objek di konten mengandung hal tabu atau tak pantas.

Seandainya pemilik akun media sosial yang sering mendapat komentar pedas tahu jati dirinya nitizen seperti apa, pasti mereka bakal bijaksana. Tidak langsung terpancing marah. Apalagi sampai menyerak balik warganet nakal itu.


Lalu seperti bagaimana jati diri pada netizen sebenarnya? Simak baik-baik ulasan di bawah.


1. Pengangguran

Orang yang punya pekerjaan bermanfaat dan tahu apa hal-hal yang baik untuknya pasti tak akan bicara sembarangan. Bukan karena hanya tak punya waktu untuk itu. Melainkan pula pikiran dan tenaganya sudah habis untuk hal lain.


Orang pengangguran punya waktu, tenaga, dan pikiran yang sangat luang. Ia bingung mau melakukan apa. Tak pelak hal iseng dan mungkin dirasa menantang adrenalin dilakukan. Tanpa pikir panjang langsung menulis kata-kata pedas.

Ilustrasi netizen sedang perang komentar kasar di medsos (sumber gambar)


2. Masalah Kejiwaan

Para psikopat yang tak bisa melampiaskan sakit jiwanya itu di dunia nyata bakal ditumpahkan pada medisa sosial. Ciri utama psikopati ialah antisosial dan egosentris. Ia lebih fokus pada diri sendiri tanpa ada rasa peduli pada kehidupan sosial.


Ia merasa bangga, senang, atau puas ketika hal-hal konyol berhasil ia salurkan pada orang lain. Bisa dengan hanya mencaci, meneror, mengintimidasi, atau yang semacamnya. Tanpa peduli orang lain itu bakal tersakiti fisik dan jiwanya.


3. Pengecut

Mau menyampaikan unek-unek atau perasaan terpendam secara langsung tatap muka tak berani. Akhirnya ia luapkan dalam bentuk tulisan di komentar. Bukannya dengan kata-kata sopan, justru hinaan dan olokan yang keluar.


Ketika diajak ketemuan tidak mau. Padahal lokasinya cukup berdekatan. Tatkala dilaporkan ke polisi hal yang terjadi ia menangis sesenggukan, memelas, dan memohon ampunan. Penyesalan memang selalu di akhir.


4. Fanatisme Buta

Orang fanatik sulit diobati. Mau diberi saran, nasehat, atau info yang benar tidak mudah diterima. Alih-alih berdiam dan jaga emosi, yang terjadi melakukan serangan frontal. Melontarkan kata-kata kasar demi melindungi yang difanatiki.


Umumnya orang fanatik itu bakal lebih marah dan tergugah untuk melawan tatkala sesuatu yang difanatiki direndahkan. Bahkan lebih marah daripada saat dirinya sendiri disakiti. Alhasil, saking emosionalnya logika merangkai kata jadi rusak.


5. Pengguna Baru Medsos

Tidak cuma mudah terpancing menyebarkan berita hoaks. Pengguna medsos yang baru memulai biasanya sedang mengalami uforia. Ia merasa kaget, senang, heran, dan takjub dengan gemerlapnya dunia media sosial.


Bukannya mengikuti hal-hal baik di media sosial. Malah ia mudah terbawa hal-hal jeleknya. Salah satunya sangat sering mengutarakan komentar sarkastik. Tidak hanya menyindir tapi lebih cenderung menghina atau menjatuhkan.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Hutangmu Menunjukkan Seberapa Besar Harga Dirimu

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Ngeri! Indonesia Punya DENHARIN, Pasukan Elit dari Terelit yang Ditakuti Dunia

Pernah Dengar Istilah "Kotak Pandora"? Inilah Kisah di Baliknya

Visi dan Misi dalam Bekerja