Stunting Berbeda dengan Kerdil atau Cebol, Bunda Jangan Meremehkannya Agar Tak Menyesal

Stunting adalah kondisi tubuh pendek yang disebabkan oleh adanya gangguan pada masa pertumbuhan karena kurangnya asupan gizi atau mengonsumsi makanan yang tak sesuai dengan kebutuhan gizi. Pemicu stunting pada anak bisa dimulai sejak masa dalam kandungan (janin) karena ibu hamil gizinya tak cukup hingga anak berusia 2 tahun.

Banjirembun.com

Saat mulai kehamilan hingga anak berusia sekitar 2 tahun merupakan masa krusial. Ibu yang mengandung dan menyusui harus menjaga pola asupan makan. Saat anak lahir juga harus terjamin ASI setidaknya selama 6 bulan pertama. Tidak memberi makanan dan minuman pada anak dengan pola sembarangan. Harus ada takaran dan waktunya.

Stunting yang sudah terlanjur pada waktu anak beranjak dari usia 2 tahun sangat sulit diatasi. Sebab usia sebelum dua tahun dan masa hamil merupakan masa pertumbuhan emas si anak. Pada saat itu sel-sel dalam tubuh terutama pada otak mengalami penambahan jumlah yang pesat. Mengabaikan masa tersebut berarti bersiaplah anak gagal dalam bertumbuh.


Stunting berbeda dengan kerdil atau cebol. Pada anak stunting kondisi tubuhnya lebih pendek dan kalah berat dari rata-rata sebayanya. Meski demikian tidak ada kelainan bentuk tubuh maupun proporsinya. Adapun kerdil atau cebol proporsinya tidak imbang. Biasanya dipicu dari gangguan gen, faktor keturunan, atau adanya gangguan hormon.


Di Indonesia pada tahun 2019 tercatat setidaknya 30% balitanya mengalami stunting. Hal itu terjadi mayoritas karena pendidikan tentang kesehatan dan kesejahteraan ekonomi masih belum tersentuh. Banyak orang Indonesia mengira serta meremahkan bahwa masalah stunting merupakan hal wajar dan tak perlu dikhawatirkan.

Ilustrasi anak mengalami stunting (sumber gambar)

Stunting atau tubuh pendek dapat diatasi dan dicegah. Bila menengok puluhan tahun lalu orang jepang dikenal berpostur tubuh pendek. Kini hal sebaliknya terjadi. Tinggi rata-rata orang jepang telah mengalami kenaikan yang signifikan. Hal itu terjadi lantaran kesadaran dan pendidikan masyarakat tentang kesehatan dan ekonominya telah berkembang pesat.


Stunting Bakal Menghancurkan Masa Depan Gemilang Anak

Harus diakui ada orang yang berpawakan pendek tapi punya kecerdasan luar biasa sehingga berjasa pada umat manusia. Namun itu jumlahnya kecil. Masih banyak generasi terkena stunting yang "terhambat" punya karir dan jalan hidup gemilang. Seharunya mereka jadi manusia hebat. Akan tetapi karena stunting ia jadi terhambat untuk melesat.


Dampak anak yang mengalami stunting bersifat permanen, tak dapat diperbaiki, atau berlangsung selamanya. Tidak hanya mengalami penurunan kecerdasan. Anak yang stunting bakal mengalami "penderitaan" hidup hingga ia tua. Sistem imunitas tubuh tidak optimal sehingga mudah sakit. Serta risiko terkena sakit jantung, stroke, kanker, dan penyakit tak menular lainnya makin tinggi. 

Masalah stunting masih jadi momok bagi masa depan bangsa Indonesia. Sebab stunting tidak hanya bepengaruh pada tinggi tubuh tapi juga ukuran otak. Akibatnya anak akan mengalami keterlambatan dalam perkembangan kognitif, psikomotir, bahkan afektif. Sulit diajak berpikir dan belajar dengan hasil yang memadai. 


Tiga puluh persen sebuah negara generasinya mengalami gejalan stunting yang parah akan membuat negara tersebut menanggung bebat berat. Sebab sebagian generasi yang dibilang cukup banyak itu tak dapat diharapkan berperan dalam pembangunan. Alih-alih memajukan bangsa, mengurusi diri dan keluarganya saja masih keteteran.


Efek mengalami stunting tidak hanya pada kesehatan dan ukuran tinggi tubuh. Lebih dari itu dapat berpengaruh pada psikologis (kejiwaan) penyandangnya. Dengan begitu tentu mengancam masa depan cerah si anak. Anak stunting bisanya di kemudian hari menjadi manusia yang minder dan tersingkir dari komunitas.


Selain masalah-masalah di atas yang jadi dampak stunting, paling tidak ada 5 akibat lain yang dialami anak di kemudian hari ketika mengalami stunting.


1. Sulit mendapatkan jodoh ideal secara fisik. Tanpa maksud merendahkan orang bertubuh pendek, umumnya orang lebih tertarik pada lawan jenis yang punya tinggi badan ideal.


2. Orang berpostur pendek tidak dapat untuk berkarir di bidang yang mewajibkan adanya postur ideal tubuh. Menjadi TNI, Polisi, pramugari, atlet basket, dan masih banyak jenis profesi lain yang mewajibkan pelamarnya punya tubuh tinggi.


3. Tak bisa diandalkan berprestasi dalam bidang kemampuan fisik dan olah raga. Hal ini tak perlu dijelaskan. Kalian sudah dapat melihat sendiri bagaimana tinggi badan para olahragawan maupun kegiatan yang butuh sentuhan fisik ekstra.


4. Menjadi pribadi yang tidak percaya diri. Ukuran tinggi yang tak memadai membuat penyandangnya jadi minder. Mereka akhirnya tidak akan punya impian tinggi, mudah putus asa, dan cenderung menyendiri.


5. Terkena gangguan kondisi suasana hati. Manusia boleh berpura-pura bahagia dan menikmati hidup. Namun, kenyataannya hatinya hancur lebur tersayat. Apa yang diidamkan tak tercapai. Apa yang diiperjuangkan teramat sulit diraih. Itu semua tidak lain karena menyandang stunting.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Pernah Lihat Angka 354 atau 313 di Warung? Itu Kode Angka Organisasi Keagamaan Indonesia

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Tanya Jawab Tentang Filsafat Pendidikan Islam dan Upaya Pembaruan Pendidikan Islam

Visi dan Misi dalam Bekerja

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece