5 Penyebab Runtuhnya Kesultanan Turki Ottoman

Banjirembun.com - Zaman keemasan suatu bangsa, negara, atau kerajaan senantiasa silih berganti di dunia ini. Dulu peradaban kuno seperti Mesir, Yunani, Mesopotamia, Babilonia, serta yang lain pernah menguasai bumi. Singkat cerita sekarang ini peradaban barat seperti eropa, amerika, rusia, dan bangsa kulit putih lainnya yang menduduki posisi di atas angin.


Begitu pula kesultanan-kesultanan Islam di timur tengah dan sekitarnya. Umat Islam pernah mengukir sejarah keemasan dari segala aspek kehidupan. Meliputi politik, ekonomi, seni, arsitek, hingga ilmu pengetahuan teknologi lain. Salah satu kesultanan populer milik kaum Muslim yaitu Turki Ottoman yang tragisnya menjadi batas akhir masa kekhalifahan.

Keruntuhan Turki Ottoman disebabkan oleh banyak penyebab. Baik itu faktor dari dalam maupun dari luar. Padahal dulu pada tahun 1500-an kerajaan tersebut pernah mempunyai kekuatan militer dan ekonomi terbesar di bumi. Pencapaian itu tentu juga disokong oleh pencapaian-pencapaian di bidang lainnya sehingga satu sama lain saling terkait dan menyokong.


Jatuhnya Turki Ottoman atau juga disebut Kesultanan Ustmaniyah ditandai dengan kekalahan mereka dalam Perang Dunia I yang bersekutu dengan Jerman. Pada tahun 03 Maret 1924 kerajaan itu jatuh lantaran dibubarkan oleh Majelis Nasional Agung pada sidang yang telah dilaksanakan sejak Februari 1924. Dengan begitu sekarang Turki menjadi negara sekuler.

Standar kekaisaran Turki Ottoman (sumber gambar)

Berikut ini faktor-faktor hancurnya Turki Ustmani tanpa sisa:


1. Meninggalkan Ilmu Pengetahuan

Hampir semua peradaban yang maju dan unggul pasti dibarengi oleh semangat mayoritas penduduknya mencintai ilmu pengetahuan. Mereka menjalankan hidup bukan untuk bertahan dengan makan dan minum. Lebih dari itu juga peduli pada pengembangan ilmu pengetahuan demi adaptasi dan menghadapi tantangan-tantangan baru yang pasti terjadi.


Kenyataannya warga bangsa Turki Ottoman jauh dari kata peduli pada literasi. Jangankan mengkaji atau memperkaya bacaan buku, presentase yang bisa membaca saja tidak lebih dari 15%. Tak ayal profesi-profesi dan ahli dalam bidang kesehatan, juru tulis, guru umum, insinyur, militer terlatih, hingga yang lainnya sangat minim. Entah itu karena "kesengajaan" atau memang adanya fanatik buta.

2. Salah dalam Berpihak

Dalam pergaulan dunia suatu bangsa seharusnya netral dan independen. Kalaupun mesti berpihak seyogyanya memilih kubu yang tepat. Bubarnya Turki Usmani salah satu faktor penentunya yaitu kekalahan dalam Perang Dunia I. Seandainya dulu Turki tidak memihak negara mana pun pasti cerita akan berbeda. Sebab saat itu tidak ada hal mendesak untuk ikut peperangan.


3. Terlalu Agraris

Bangsa agraris identik dengan pertanian atau masalah pangan. Bahkan mungkin ekonominya bertumpu dalam bidang tersebut. Turki pada saat itu tidak memiliki pabrik-pabrik seperti halnya bangsa lain. Padahal pada saat itu era revolusi industri sedang gencar-gencarnya. Namun, kesultanan Turki tak bergeming dengan perubahan dunia yang kian nyata.


4. Negara Lain Sengaja Melemahkan

Semenjak renaisains terjadi, bangsa-bangsa mulai sadar bahwa ilmu pengetahuan itu penting. Mereka mulai memisahkan antara agama dengan ilmu maupun agama dengan politik yang sangat marak terjadi. Banyak negara-negara yang gerah pada sistem negara kerajaan. Apalagi yang berbasis agama. Mereka mulai menyukai sistem demokratis dengan negara berbentuk republik atau serikat.


Wajar banyak negara yang berambisi ingin meruntuhkan Kesultanan Turki Ottoman. Selain sistem kerajaan dianggap kolot, alasan lain yaitu kalau tidak dibinasakan ke depannya akan menjadi musuh kuat. Lebih dari itu negara-negara eropa seperti inggris dan perancis sangat tertarik merebut negara-negara yang dikuasai Usmani. Mereka ingin menjajah untuk merampas kekuasaan dan kekayaan alam.


5. Perpecahan dari Dalam

Turki Ottoman merupakan kesultanan yang terdiri dari multi etnis, bahasa, letak geografis, dan kepentingan. Tentu untuk menjaga kesatuan tidaklah mudah. Wilayahnya meliputi Mesir, Yunani, Bulgaria, Yordania, Hongaria, Lebanon, Palestina, Rumania, Suriah, sebagian Arab Saudi, dan beberapa lokasi lain. Ironis, sebagian dari wilayah-wilayah itu memberontak dan memerdekakan diri. Sebagian lagi diserahkan pada Eropa.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)