Jangan Asal Makan, Sebab Makanan Sangat Berpengaruh Besar pada Perubahan DNA atau Genetik Anak Cucu

Banjirembun.com - Dirimu adalah apa yang kamu makan. Ungkapan seperti itu sangatlah benar. Ternyata pola makan tidak cuma berpengaruh pada kondisi kesehatan jiwa dan raga pelaku pribadi. Lebih dari itu bakal diturunkan pada generasi penerusnya. Tentu hal itu terjadi saat dilakukan dalam jangka lama dan berlebihan.


Berdasar penelitian menunjukkan pola makan orang tua jadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi terhadap kondisi genetika keturunan yang dihasilkan. Asupan makanan yang masuk dalam tubuh mampu mengubah DNA. Lebih tepat berubahnya lingkungan DNA atau epigenetik. Nahasnya perubahan itu bakal diturunkan pada anak dan cucunya.

Perubahan tersebut baru akan nampak nyata setelah generasi kedua. Yakni, dari nenek ke cucunya. Potensi itu jauh lebih besar ketika pola makan tak sehat  dilakukan selama masa kehamilan. Misalnya memakan banyak gula dan kalori. Hal itu bakal membuat keturunan (terutama pada cucu) mereka berisiko menderita diabetes empat kali lipat.


Barangkali saat ini seorang ibu dan ayah mengumbar dan bebas makan secara tak sehat. Mungkin saja tidak berdampak langsung pada mereka lantaran gen (DNA) dari leluhur sangat berkualitas. Akan tetapi yang menanggung itu adalah anak cucunya nanti. Berbagai potensi penyakit kadiovaskuler, gangguan hormon, hingga kacaunya metabolisme dapat terjadi.


Di sini dapat dijadikan pelajaran bahwa untuk memperoleh generasi unggul tidak cuma faktor belajar, motivasi, atau pendidikan yang berkualitas. Melainkan pula mesti diperhatikan bahwa DNA mereka dalam kondisi sempurna. Sebagaimana diketahui bahwa DNA di tubuh selalu mengalami perubahan. Menyesuaikan pada apa yang dimakan individu.


Setiap makanan tertentu masuk membuat gen melakukan respon tertentu. Respon itu berbeda menyesuaikan dengan jenis makanan dan kondisi tubuh pelakunya. Dengan kata lain gen berinteraksi dengan makanan dan lingkungan sekitar. Keduanya saling berpengaruh secara langsung atau pun tidak. Dengan cacatan, makanan bagi satu orang sehat tapi tak berlaku bagi yang lain.


Temuan ilmuwan membuktikan bahwa gaya hidup dan faktor lingkungan (suhu, debu, cuaca, kelembaban, paparan radiasi, paparan kimia, dan lain-lain) mempengaruhi genetika. Sebut saja seperti kandungan nutrisi dan antioksidan mampu mengomptimalkan bagaimana sel-sel tubuh memperbaiki DNA yang rusak. Di mana, kerusakan DNA itu tentu juga dipengaruhi oleh makanan dan lingkungan.

Ilustrasi kerusakan DNA (sumber gambar)

Itulah sebabnya setiap orang memiliki kondisi tubuh berbeda. Ada yang mempan berobat pakai obat herbal alami dari kebun. Ada yang sering makan tapi tak mudah gemuk. Ada yang mengonsumsi panganan tertentu meski sedikit menimbulkan reaksi negatif di tubuhnya. Begitu pula sebaliknya. Ternyata itu semua ditentukan oleh gen (bawaan) yang berbeda-beda di tubuh manusia.


Mulai sekarang kalian menjadi tahu kenapa daging kambing bagi masyarakat Arab tidak menyebabkan darah tinggi maupun gejala penyakit lain. Jawabannya binatang kambing menjadi bagian budaya Arab. Susu kambing sejak dulu jadi minuman sehari-hari. Apalagi dagingnya. DNA mereka "kebal" pada kambing.


Kegagalan Diet Disebabkan DNA yang Beda

Dengan demikian tak perlu heran tatkala terjadi kegagalan dalam diet. Padahal pola hidup, pola makan, dan pola tidur sudah sama dengan orang yang berhasil diet. Itu semua ditentukan oleh DNA. Sebab jenis genetika yang berbeda pada dua orang dapat merespons makanan yang sama dengan hasil dan efek beda. Termasuk makanan sayuran tertentu yang dianggap sehat.


Diet tertentu justru dapat meningkatkan kerusakan hati pada seseorang akibat terjadi peningkatan lemak. Diet karbo mungkin buat seseorang cocok. Namun, bagi yang lain dapat menimbulkan lesu dan tingkat lemak tubuh tinggi karena terlalu banyak makan daging meski tampilan tubuh kurus. Intinya, tidak ada diet yang paling cocok dan baik untuk semua orang.


Alhasil, muncul sebuah teori yaitu keberhasilan diet ditentukan oleh apa saja yang nenek moyang mereka makan. Dengan demikian, tradisi dan kebiasaan makan orang tua dan leluhur tak ada salahnya untuk dilanjutkan. Lebih jauh untuk wacana masa depan kelak, supaya tahu potensi penyakit dan jenis diet apa yang cocok ada baiknya dilakukan tes genetik.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)