Trik Broker, Agen, Makelar, atau Sales dalam Menghadapi 5 Karakter Konsumen Seperti ini

Banjirembun.com - Broker, agen, makelar, atau sales adalah orang yang menjadi perantara serta penyalur produk dagangan tertentu yang tidak mempunyai hak milik atas barang tersebut. Dalam bahasa jawa istilah tersebut sama halnya dengan blantik. Di mana, mereka umumnya mengambil keuntungan berupa persenan dari penjual. Ada pula yang mendapat gaji bulanan bagi yang berada di bawah naungan kantor usaha.


Bagi makelar pemula tentu akan kaget tatkala tidak menyadari bahwa tipe atau karakter konsumen sangat banyak. Ada yang memudahkan broker maupun sales marketing, tapi terdapat pula yang menyusahkan. Bagaimanapun kondisi calon pembeli, setiap agen tidak boleh pilih-pilih dan memberlakukan secara tidak sama. Setiap pelanggan punya keinginan yang beda. Oleh sebab itu, pahami dulu karakter mereka.

Seorang agen biasanya ikut membantu menjualkan dagangan tertentu berupa rumah, tanah, kendaraan, komestik, produk kesehatan, hingga alat olah raga. Apapun bentuk barang jualannya, membina hubungan baik dengan pelanggan dalam jangka panjang amat dianjurkan. Oleh sebab itu, salah satu hal penting yang harus diketahui broker yaitu konsumen yang sedang dihadapi tipe kepribadiannya seperti apa.


Secara lengkap berikut cara mediator menghadapi 5 karakter konsumen yang seperti di bawah ini:


1. Lugu dan Belum Pengalaman

Calon konsumen yang masih lugu, polos, dan belum punya pengalaman banyak dalam jual beli maupun terkait spesifikasi produk yang ingin dibeli tak boleh dianggap enteng. Begitu juga jangan "dituduh" pasti tidak punya uang banyak. Orang yang kelihatannya belum paham terkait produk yang ingin dibeli bisa jadi di kemudian hari dia aktif mencari tahu tentangnya. Baik melalui informasi orang lain maupun cari di internet.


Baca: Dilarang Pelit Demi Hemat Kuota Internet untuk 5 Hal ini, Dijamin Hidup Jadi Berubah


Kalau konsumen tipe ini bertanya-tanya tidak perlu segan menjawab. Hindari perasaan khawatir bahwa setelah menjawab semua pertanyaan secara gamblang ternyata tetap tidak mau beli. Anggap saja itu sebagai sedekah ilmu untuknya. Percayalah, kalaupun dia tak jadi beli setidaknya nama kalian tidak akan mendapat catatan negatif darinya. Ingat, seorang broker jangan sekali-kali mendapat cela walau dari satu orang.


2. Penuh Penasaran dan Antusias

Saat berjumpa dengan tipe pembeli yang penuh penasaran dan antusias lantaran merasa sudah menemukan apa yang dicari-cari selama ini hal yang dilakukan hindari terburu-buru. Pahami psikis atau kejiwaan pelanggan. Biarkan dia menikmati dan memuaskan diri dulu. Setelah mereda, baru adakan pendekatan batin. Jangan pula terkecoh meyakini penuh bahwa dia akan membeli barang yang kalian tawarkan. Ada faktor lain yang perlu diperhatikan.


Seorang sales marketing mesti tahu kapan saat "berburu", kapan waktu untuk menemani, sampai kapan saatnya menembak. Tak boleh mengejar-ngejar konsumen dikarenakan takut kehilangan dia atau pindah ke agen lain. Kalau sudah rizqi pasti dia akan fanatik lantas memilih kalian sebagai perantara. Sebaliknya, jika konsumen sudah tidak nyaman di awal maka bisa saja dia akan menghindar.


3. Pintar dan Banyak Pengalaman

Tipe pembeli yang pintar dan banyak pengalaman bagi sebagian agen mungkin sangat menjengkelkan. Merasa seakan agen jadi bahan "permainan" dan cuma ingin "ngetes" semata, sejauh mana kejujuran dan pengetahuan penyalur dagangan tersebut. Cara menghadapinya yaitu kalian jangan banyak bicara dan terlihat menguasai pembicaraan. Biarkan calon konsumen tersebut bicara panjang lebar sepuasnya.

Setelah merasa lega bicara hal memungkinkan dia akan memutuskan untuk beli. Bukan semata-mata karena barang atau produk yang kalian tawarkan layak dibeli. Lebih dari itu, konsumen merasa puas atas pelayanan dan sikap dari kalian. Dengan demikian, hal yang patut diperhatikan ialah perlakuan broker sangat menentukan konsumen apakah memutuskan jadi beli atau tidak usah.


4. Penyuka Kejujuran

Karakter pembeli yang suka kejujuran umumnya menyukai agen yang profesional, berintegritas, serius, disiplin, dan totalitas. Tentu untuk mengetahui seorang sales jujur atau tidak, konsumen sudah memiliki modal pengetahuan dan ilmu-ilmu terkait produk yang ingin dibeli. Langkah menghadapi konsumen seperti ini adalah jangan terlalu ikuti alur pertanyaan darinya. Wajib berhati-hati dalam berbicara. Salah-salah bisa terpancing berakibat masuk ke lubang jebakan.


Misalnya ada orang yang ingin beli mobil second. Sebenarnya dia sudah tahu harga pasaran jenis kendaraan tersebut. Namun, dia tetap ingin bertanya "Harga pasaran mobil ini berapa?". Jangan ikuti arah pembicaraannya. Jawablah "Saya tidak berani menjawab karena saya tidak pernah menjual mobil seperti ini (tahun dan tipe sama) di kota ini. Tapi, kalau yang tahunnya beda saya pernah menjual dengan harga segini". Bila dia mendebat maka tunjukkan bukti transaksi sebelumnya itu.

Ilustrasi makelar mobil bekas (sumber gambar)

5. Penyuka Informasi Lengkap dan Utuh

Rasa nyaman dan enjoy dari konsumen ditentukan tidak cuma muncul dari cara berkomunikasi dan kualitas layanan dari broker. Melainkan pula ada yang baru "puas" ketika diberi informasi terkait produknya secara lengkap dan utuh. Jawablah pertanyaan-pertanyaan dari konsumen secara ramah dan memuaskan. Jangan ada hal-hal yang disembunyikan. Hal tersebut akan berakibat fatal tatkala pembeli di kemudian hari tahu sendiri ternyata ada sesuatu yang ditutupi.


Perlu ditekankan, setiap jawaban terhadap pertanyaan tidak harus diutarakan selengkap-lengkapnya dan detail. Ungkapkan hal-hal pokok yang ingin diketahui pembeli. Enggak perlu menyampaikan apa-apa yang memang tak perlu diberitahukan. Apalagi hal tersebut masih bersifat persepsi dan relatif. Contohnya, seorang agen properti tidak serta-merta mengungkapkan bahwa situasi jalan di sekitar macet. Sebab, keadaan macet juga ada waktunya. Serta kadang tingkat macetnya ternyata masih dapat ditoleransi.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Pernah Lihat Angka 354 atau 313 di Warung? Itu Kode Angka Organisasi Keagamaan Indonesia