5 Perbedaan Pokok Antara Bank Konvensional dengan Bank Syariah

Banjirembun.com - Di tahun ini marak isu terkait perbankan syariah. Apalagi adanya holding Bank Syariah Indonesia (BSI). Di mana, perusahaan perbankan tersebut merupakan induk dari gabungan 3 bank BUMN besar milik Indonesia. Meliputi BRI Syariah, BNI Syariah, dan Bank Syariah Mandiri.


Berdirinya BSI memiliki arti penting tersendiri. Salah satunya yaitu semangat kerja sama dan bersatu dalam melayani nasabah yang ingin terbebas dari riba. Itulah yang menjadi pembeda utama antara bank syariah dengan bank konvensional. Tidak cuma cari untung tapi juga tetap agamis.

Secara pelayanan dalam proses transaksi debet maupun kredit antara dua jenis bank di atas tidaklah beda. Akan tetapi dalam kasus lain banyak sekali dijumpai perbedaan mendasar antara kedua sistem perbankan itu. Secara lengkap berikut ini perbedaan-perbedaan bank konvensional dan syariah:


1. Nilai-nilai Dasar

Ideologi, pemahaman, atau ajaran utama pada bank konvensional bersifat bebas nilai. Maksudnya tak memperhatikan moralitas. Asal tetap taat hukum negara walau melanggar aturan agama tetap jalan terus. Mereka tak akan peduli keadaan nasabah bagaimana. Fokus utama mereka cari keuntungan.


Adapun bank syariah memiliki pandangan dan arah organisasi berbasis islam. Aspek-aspek halal dan haram wajib dijalankan. Sumber dana dari mana serta aliran dana untuk dipakai apa mesti jelas kehalalannya. Intinya nilai-nilai Islam menjadi nyawa utama dalam menerapkan sistem perbankan mulai dari hulu hingga hilir.


2. Hubungan dengan Nasabah

Pihak bank yang menerima uang tabungan dari nasabah akan menempatkan dirinya sebagai debitur (orang yang berhutang). Hutang tersebut ada riba (bunga). Sedangkan nasabah yang menyimpan uang disebut kreditur (orang yang menghutangi). Hubungan yang terjadi cuma hutang-piutang tidak lebih.

Bank Syariah Vs Bank Konvensional

Sedang Bank Syariah memiliki 4 pola hubungan. Pertama qard yaitu nasabah disebut pemegang ekuaitas (polanya mirip saham). Kedua murabbahah, istishna, dan salam yaitu hubungan antara penjual dan pembeli. Ketiga musyarakah dan mudharabah yaitu jalinan kemitraan. Keempat ijarah yaitu sewa menyewa.


3. Cara Mengambil Untung

Bank konvensional meraup keuntungan dari penetapan besar bunga yang didapat dari pihak-pihak yang berhutang pada bank. Di sisi berbeda, nasabah mengambil keuntungan dari bank selain mendapat keamanan simpanan dan fasilitas perbankan (seperti mobile banking) ialah mendapat bunga simpanan.


Hal lain terjadi pada bank Syariah. Dia tidak menggunakan istilah bunga lantaran dianggap riba. Namun ada sistem lain yang berupa bagi hasil, margin laba, dan biaya (fee). Keuntungan yang diperoleh selalu berubah. Tergantung dari kinerja usaha yang dilakukan di mana modalnya dari hutang di bank.


4. Dewan Pengawas

Bank konvensional tak mempunyai lembaga pengawas khusus. Kendati demikian mereka memiliki dewan komisaris yang perannya mirip dengan pengawas. Lebih lengkap silakan baca tulisan kami "Memahami Arti CEO, Komisaris, Direktur, dan General Manager pada Organisasi Perusahaan".


Sedangkan bank syariah memiliki lembaga khusus yang bernama Dewan Pengawas Syariah (DPS). Lembaga tersebut bertugas mengawasi aktivitas syariah supaya tetap sesuai dengan nilai-nilai dasar agama Islam. Bedanya komisaris dengan DPS adalah DPS cenderung fokus pada penegakan syariah.


5. Orientasi Duniawi dan Ukhrawi

Bank konvensional berorientasi pada profit semata. Mencapai keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Mengabaikan moralitas dan nilai agama. Lain halnya dengan bank syariah yang terikat pada sistem ekonomi Islam. Orientasinya tidak cuma kemenangan dunia tapi juga kesuksesan akhirat.

Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)