Dua Keadaan yang Paling Berpotensi Terjadi Penularan COVID-19



Tak elok menganggap musibah pandemi telah usai. Bencana non alam ini diprediksi masih sangat panjang harus dilalui. Memang ada setitik terang terkait perkembangan vaksin dan obat anti virus Corona jenis baru. Namun, itu relatif jauh dari kata berhasil.



Sebagian besar pemimpin negara dan ilmuwan belum berani memastikan ada jalan keluar. Tak ada yang mengatakan tahun ini vaksin bisa diedarkan secara massal di seluruh dunia. Bahkan, sebagian dari mereka pesimis vaksin bisa ditemukan.


Situasi di atas memaksa manusia harus terus hidup di bawah bayang-bayang virus. Diharuskan merubah perilaku. Dari pola hidup normal menuju pola hidup baru. Dari kebebasan dengan sedikit batasan menjadi hidup serba ketat, teratur, dan tersekat.


Oleh sebab itu, kewaspadaan merupakan hal penting. Salah satunya harus tahu tentang dua keadaan berikut yang paling berpeluang menjadi pusat penularan Covid-19.


1. Keadaan Pertama

Keadaan pertama ini menunjukkan peluang adanya jumlah atau konsentrasi besar suatu tempat dihinggapi virus. Jumlah virus di sekitar yang terlalu besar ini tidak mampu ditangkal oleh daya tahan tubuh. Akhirnya orang yang terpapar jatuh sakit.


Dalam situasi tersebut biasanya seseorang berada di ruang tertutup. Tak ada fentilasi atau sirkulasi udara yang memadai kecuali lewat AC. Suhunya sangat lembab bahkan cenderung dingin. Semakin sempit dan ramai ruangan maka semakin membahayakan.


Kondisi di atas merupakan hal yang sangat disenangi virus SARS-CoV-2. Ia akan bertahan lama untuk "hidup" sambil menunggu inang atau tempat hinggap yaitu manusia. Di dalam tubuh manusia itulah virus Corana jenis memperbanyak diri.


2. Keadaan Kedua
Banjirembun.com
Keadaan Kedua ini menunjukkan peluang terjadinya "serangan" virus berkali-kali, sering, atau dalam frekuensi tinggi. Jumlah virus yang mengancam di sekitar mungkin tidak terlalu besar. Namun, karena terlalu sering terpapar akhirnya tumbang juga.


Dalam situasi tersebut biasanya seseorang berada di keramaian (walau bukan tempat tertutup). Serta terlalu sering kontak dengan orang-orang yang sudah terpapar virus SARS-CoV-2. Baik itu di rumah (keluarga) maupun di luar (teman kerja).


Meski sudah mematuhi protokol terbaru pencegahan COVID-19 tapi bila terlalu sering berhubungan dengan orang yang terinfeksi maka potensi tertular tetap tinggi. Akan tetapi itu bukan berarti harus menjauhi korban. Cukup saling pengertian untuk melaksanakan protokol secara ketat.


Keadaan Mana yang Paling Bahaya?

Dua keadaan di atas sama-sama berpotensi jadi ancaman. Namun, keadaan yang harus sangat diwaspadai ialah yang pertama. Terlebih lagi bila itu dikombinasikan dengan yang kedua. Malah makin berbahaya bagi ketahanan tubuh dalam menangkal virus.
Banjir Embun
Jumlah virus SARS-CoV-2 yang terdeteksi mikroskop (sumber gambar)


Sebagus apapun keadaan tubuh, bila ia terpapar virus corona dengan jumlah besar dalam waktu 10 hingga 30 menit saja maka badan bakal menyerah. Baik itu virus yang melayang di udara maupun yang menempel di tubuh orang lain dan benda keras.


Oleh sebab itu, untuk memperkecil intensitas virus di sekitar lebih baik ruangan jangan ditutup rapat. Harus ada sirkulasi udara yang teramat cukup. Paling tidak ada hembusan angin yang masuk dan keluar lewat jendela. Agar virus cepat "menguap" lalu "mati".


Daerah Perkotaan Lebih Besar Potensi Penularannya

Daerah perkotaan baik itu kota besar maupun kecil, senyampang itu pemukiman padat dan ramai manusia akan memiliki potensi bahaya lebih tinggi. Terlebih lagi daerah yang penduduknya tidak memiliki kesadaran diri untuk menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.


Adapun daerah pedesaan atau kampung lebih kecil tingkat bahayanya disebabkan karena masih banyak area luas. Sebut saja seperti kebun, sawah, pekarangan, halaman rumah luas, dan lain-lain. Keadaan itu bisa membuat angin terbang bebas membawa virus-virus.


Kendati demikian, itu bukan berarti orang desa bisa leha-leha. Sebab, sifat di atas hanya menunjukkan "keringanan" ancaman terhadap potensi serangan virus. Bukan menghilangkan virus sama sekali. Oleh sebab itu, menerapkan protokol juga tetap wajib dilakukan.



Disclaimer: Tulisan ini hanyalah opini. Didasarkan pada hasil membaca artikel ilmiah, berita, dan kabar terbaru tentang penyebaran penyakit COVID-19. Oleh sebab itu, postingan ini tidak dapat dijadikan rujukan yang pasti. Hanya sebagai pembanding untuk meningkatkan kewaspadaan. Carilah info yang pasti pada media massa terpercaya atau pada dokter kesayangan kalian untuk lebih lanjut.




Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)