Sadar Diri untuk Pergi Ketika Tak Diinginkan, Lalu Jadilah Kepompong




Tak perlu menunggu komunitas di sekitar mengusir secara terang-terangan. Cukup dengan tatapan dan sikap mereka yang ogah-ogahan jadi pertanda kamu tak diinginkan. Contohnya lambat merespon saat diajak komunikasi.



Sayangnya, kamu kadang tidak sadar sedang ditolak. Malah tetap berusaha bersama mereka. Memaafkan segala sikap tersebut padamu. Terus berusaha mendekati dan ingin bersama. Serta mengira semua sedang baik-baik saja.


Salah satu tanda kelompok orang tak menghendakimu yaitu mempersulit jalanmu. Mereka kompak mengucilkanmu dan meninggalkanmu sendiri di kala mereka senang. Kamu dianggap sebagai kotoran di tengah-tengah mereka.


Ketika kamu bertanya pada salah satu darinya akan dijawab dengan asal-asalan. Begitu pula saat minta tolong. Jangankan membantu, Kamu justru disesatkan. Hal itu bisa terjadi di perkumpulan manapun. Bahkan di keluarga.


Kadang kamu tak tahu alasan mengapa kamu tak diterima. Bisa jadi itu memang salahmu karena telah menyakiti mereka. Sebaliknya, mereka bertingkah seperti itu bertujuan ingin menyakiti dan menyingkirkanmu.


Sudahlah, jangan picik dan naif. Dunia ini teramat luas sekadar untuk mempertahankan pihak yang tak suka padamu. Masih ada orang, ruang, kota, hingga provinsi lain yang siap menerimamu.



Banjir Embun
Tak mungkin semua orang maupun tempat menolakmu mentah-mentah. Pasti ada yang menerimamu apa adanya. Tulus tanpa modus. Bahkan mengajak dan mengajarimu menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Tinggalkan gangguan pada ingatan masa lalu. Terus melangkah dan berproses. Tak perlu hirau pada sesuatu yang membuatmu merasa dikucilkan. Sebab masih ada yang lain, yang lebih baik dari itu semua.


Banjir Embun
Jadilah Kepompong untuk Berubah Lebih Baik

Orang yang meninggalkan di kala namamu rusak karena kekhilafanmu, berarti dia bukan manusia baik. Sebab hanya menerima enak darimu, tapi tak mau membantu membuatmu kembali jadi baik.


Teman seperti itu hanyalah sampah. Seberapapun mengasyikkan dia saat dulu bersamamu tetaplah hakikatnya sampah. Hanya menerima wangimu tapi tak mau ikut membersihkan ketika busuk melandamu.


Kalau sudah begitu, lebih baik kamu menyepi dulu. Entah ke mana atau bersama siapa, yang pasti tempat itu bisa membuatmu jadi orang lebih baik. Misalnya pondok pesantren, komunitas hijrah, tempat kerja, dan semacamnya.


Pergi dari rumah. Pamit baik-baik. Bulatkan tekat dan tetapkan target tak akan pulang sebelum minimal 1 hingga 2 tahun. Bawa bekal seadanya. Tentukan lokasi yang menjadi tujuan berlabuh untuk jadi kawah candradimuka.


Gembleng diri kalian di sana. Supaya menjadi pribadi yang berkarakter sempurna. Yakni, beberapa di antaranya memiliki sikap disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, semangat, komunikatif, dan sebagainya.


Tak boleh sempitkan hati. Pun tak boleh takut lapar atau mengalami kesulitan hidup. Sebab itulah cara terbaik untuk membersihkan kesalahamu. Serta bagus untuk melepaskan dirimu dari masa lalu.




Merantau merupakan salah satu cara terbaik untuk merubah segalanya. Entah itu kepribadian, nasib, maupun melupakan masa lalu. Ia juga mampu membuatmu mengarungi hal baru yang bahkan belum terpikirkan sebelumnya.


Menjadi kepompong untuk berubah lebih baik (sumber gambar)



Pergi dari tempat lahir dan besar dapat menjadi cara terbaik untuk jadi kepompong. Mengurung diri dari masa lalu demi merubah menjadi manusia baru. Dengan begitu, hidup akan jauh lebih menyenangkan.


Tingkatkan kualitas diri dari segi religius (rohani) maupun ketrampilan dunia. Jadi pribadi yang baru. Tentu memang itu tidak mudah. Butuh keberanian. Bagi pecundang akan takut untuk melawati. Bahkan untuk hanya membayangkannya.






Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)