Ternyata Istilah "Cuan" Bukan dari Bahasa Mandarin, ini Penjelasannya




Cuan merupakan salah satu bahasa masyarakat negeri Tiongkok. Yakni, disebut sebagai bahasa Hokkien atau bahasa Hokkian. Ia setidaknya dituturkan oleh sekitar 50 juta orang. Hampir semua penduduk Hongkong, Macau, dan Taiwan juga menggunakan bahasa itu.



Bahasa Mandarin sangat berbeda dengan bahasa Hokkian. Ia lebih dekat dengan bahasa Kantonis daripada Hokkien. Bisa dikatakan bahasa Hokkian merupakan "bahasa daerah" di Tiongkok. Hanya dipertuturkan di sebagian wilayah tenggara Negeri Tirai Bambu.


Singkatnya, bahasa Mandarin dengan Hokkian merupakan dua hal yang sangat berbeda sama sekali. Seperti halnya bahasa Sunda dengan bahasa Indonesia, keduanya sangat mudah dibedakan. Selain itu, posisinya juga beda. Di mana, Mandarin diakui sebagai bahasa nasional China.




Orang Indonesia keturunan Tionghoa juga menggunakan bahasa Hokkian. Meski pelafalannya dipandang lebih sulit dari bahasa Mandarin, ternyata tak sedikit yang menuturkannya di sini. Meskipun demikian, ditegaskan bahwa tidak semua warga keturunan bisa bahasa itu.

Banjirembun.com
Hal penting yang perlu diketahui juga adalah istilah gocap, gopek, koko, cece, kamsia, gua/guelu, dan seterusnya itu termasuk bahasa Hokkian. Bukan bahasa mandarin yang menjadi salah satu bahasa yang biasanya diajarkan pada anak Bahasa atau bimbel bahasa asing.

Pelestarian arsitektur leluhur oleh komunitas Hokkian di Singapura (sumber gambar)

Tak hanya di Indonesia, para perantau dari suku Hokkian juga menggunakan bahasa itu di Malaysia, Singapura, Taiwan, serta daerah lain di mana mereka menetap. Sebagian mereka mempertahankan bahasa ibu untuk dialog sehari-hari.


Arti Cuan

Kata cuan berasa dari bahasa Hok-kian. Artinya untung atau keuntungan. Itu merupakan bahasa "pasaran" dari salah satu suku yang berada di negeri Panda. Adapun lafal Chuan (船) dalam bahasa Mandarin berarti kapal feri, perahu, sampan, atau semacamnya.




Istilah cuan yang memiliki arti untung itu belum diserap ke dalam bahasa Indonesia. Tidak seperti halnya kata "kepo", "camsia" hingga "cengli" yang ternyata sudah muncul di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dalam jaringan (daring/online) versi terbaru.

Banjir Embun
Diksi cuan telah menjadi daya tarik bagi pegiat dunia marketing, periklanan, hingga jurnalis media massa. Ada sejumlah merek dagang yang menggunakan istilah itu. Tak jarang pula para pembuat berita maupun artikel menyisipkan kata itu di judul.


Awalnya cuan seringkali digunakan para pebisnis, trader, maupun investor sektor non riil. Seperti forex (perdagangan mata uang asing), saham, reksadana, deposito, dan lain-lain. Kata tersebut digunakan untuk menggambarkan investor yang mengalami keuntungan besar.


Baca: Kelebihan dan Kelemahan Deposito serta Cara Menghitung Bunganya


Kini kata cuan ketika diucapkan bagaikan sihir yang merasuki kuping pendengarnya. Ada yang bilang ia sangat keren ketika dilafalkan. Campur aduk antar lucu, unik, elegan, serta memanjakan gendang telinga. Ia menjelma menjadi bahasa gaul harian.


Cuan tidak hanya punya arti  "untung" semata. Lebih dari itu juga menunjukkan suatu keadaan. Yakni, keadaan memperoleh manfaat atas apa yang telah diperjuangkan. Tidak hanya bersifat materi atau yang dapat dihitung tapi juga manfaat nilai kehidupan.






Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)