Perhatikan 5 Aspek Penting ini Sebelum Menabung Uang




Menabung adalah menyisihkan sebagian uang yang tak terpakai dalam bentuk simpanan atau cadangan di tempat khusus yang digunakan untuk tujuan tertentu maupun kebutuhan mendadak.



Bagi sebagian orang menabung bukan hanya untuk menyisihkan uang sisa. Lebih dari itu, perilaku tersebut dilakukan sebagai kebiasaan yang mendarah daging. Sudah terbentuk sejak dari masa kecil. 




Tindakan menabung merupakan salah satu cara membentuk beberapa karakter dan akhlak mulia. Meliputi disiplin, kerja keras, mandiri, sabar, bersyukur, menahan diri, teliti, bertanggung jawab, hingga punya perencanaan matang.


Dengan punya tabungan yang terus meningkat jumlahnya, bertanda seorang telah matang melakukan pengelolaan keuangan. Lebih sempurna lagi tatkala diimbangi dengan kecerdasan mencari pendapatan atau penghasilan.


Bagi kalian yang ingin meningkatkan kualitas dan kuantitas tabungan, lebih baik pahami lima hal terkait menabung sebagai berikut:


Banjirembun.com
1. Tempat Menabung

Menyimpan uang bisa dilakukan di rumah pada sebuah alat yang disebut celengan atau pada media lain yang tak terduga. Dapat juga dilakukan di bank dalam bentuk tabungan konvensional yang dapat diambil sewaktu-waktu.


Bagi kalian yang masih sekolah, menabung dapat dilakukan di sekolah. Biasanya sistem tabungan itu akan dikelola oleh wali kelas serta bendahara sekolah. Simpanan tersebut bisa digunakan untuk menunjang biaya kebutuhan sekolah.


Selain itu menabung juga bisa dilakukan ke tetangga. Misalnya menabung sampah di "Bank Sampah" yang dikelola oleh tetangga. Sejatinya itu sama dengan menabung uang. Yakni, menjual sampah lalu hasilnya ditabung.


Pendidikan menabung uang untuk anak (sumber gambar)

Dari empat lokasi menabung di atas masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. Menabung di rumah godaan dari keluarga untuk mengambil lebih besar. Adapun di bank tabungan akan dikenai biaya administrasi.


Begitu pula menyimpan uang di sekolah. Biasanya hasil tabungan itu akan diberikan di akhir semester bahkan akhir tahun. Serta rawan terkena kasus "penggelapan" uang oleh oknum maupun oleh si anak sekolah itu sendiri.


Nah, untuk menabung sampah ke tetangga ini yang punya risiko kecil. Paling apes saat harga sampah lagi turun. Itu pun bukan suatu masalah besar. Sebab yang namanya sampah memang tak dibutuhkan. Itu sekaligus melatih kebersihan diri.


2. Menabung untuk hemat bukan menyiksa diri

Kendati demikian, bukan berarti dengan menabung seseorang harus jadi seorang yang pelit, perhitungan, maupun "menyakiti" diri sendiri. Terlebih lagi, melakukan tindakan yang melanggar hukum negara dan agama.

Banjir Embun
Seharusnya sebelum menabung, seseorang sudah memenuhi kewajiban sebagai hamba Tuhan dan warga negara. Serta tentu, telah pula memberi hak kebahagiaan pada dirinya sendiri.


Tak elok menyiksa diri dengan makan seadanya hingga badan mudah sakit. Hanya demi menyukseskan misi bisa beli smartphone, tiket konser jutaan, hingga sepeda motor idaman.


Para pengusaha mungkin lebih memilih "memutar" uang yang dimiliki untuk mengembangkan bisnisnya. Alih-alih menabung, bila pun ingin mengamankan uang maka dalam bentuk lain. Misalnya deposito, emas, atau properti.




3. Manfaat Menabung

Seperti disampaikan di atas, menabung itu baik untuk pembentukan akhlak. Menjadi pribadi yang bersahaja atau praktis (simpel). Tidak menghamburkan uang untuk hal yang tak semestinya. 



Dalam situasi terdesak seperti kena PHK, adanya krisis ekonomi, krisis jenis panganan tertentu, hingga pandemi tabungan yang besar dapat diandalkan. Di saat orang lain klimpungan sehingga jual aset, para penabung tetap tenang.


Dengan menabung secara tidak langsung mendidik diri pribadi menjadi manusia yang tak suka berhutang. Apalagi berutang untuk keperluan yang sebenarnya tak mendesak. Lebih baik uang disisihkan daripada mencicil utang.

Banjiembun.com
Perilaku menabung juga dapat membentuk orang untuk menjadi pribadi yang menghargai uang. Ia tidak akan meremehkan uang sekecil apapun. Bahkan dalam banyak kasus menabung dapat membuat orang semangat kerja.


Bagi penabung ia lebih memilih memperbanyak pemasukan daripada pengeluaran. Dengan begitu ia akan terpacu untuk bekerja keras. Menabung baginya bukan lagi sebuah rutinitas menjemukan. Justru, jadi kebutuhan dan gaya hidup.


4. Tujuan Menabung


Tujuan menabung itu sangat banyak. Ada yang bertujuan untuk mengamankan uang dari pencurian. Serta terdapat juga maksud untuk "menyembunyikan" uang dari anggota keluarga lain. Itu juga tidak salah tergantung tujuan akhirnya.


Secara rinci berikut tujuan menabung:

a. Tabungan berjangka yang dikhususkan untuk tujuan tertentu. Akibatnya, tak dapat ditarik sewaktu-waktu dengan mudah. Meliputi tabungan ibadah haji, tabungan pendidikan, hingga tabungan "arisan" untuk suguhan hari raya (dikelola tetangga). 


b. Cadangan untuk kebutuhan mendesak. Siapapun pasti  tak ingin mengalami hal tak terduga berupa musibah. Apalagi bila itu merogoh kantong agak dalam. Sayangnya, setiap manusia yang hidup hingga menua semuanya pernah mengalami.


c. Mengatur sirkulasi keluar masuknya uang. Dengan menabung seseorang lebih jeli untuk memanajemen keuangan. Tahu mana kebutuhan primer (pokok atau prioritas) serta mana yang sekunder dan pelengkap. 


d. Perencanaan dan persiapan masa depan. Ada ungkapan "Apa gunanya berangan-angan untuk masa depan bila tak punya tabungan." Itu adalah peringatan keras bagi siapapun yang punya cita-cita panjang.


e. Sebagai alat investasi. Menabung merupakan bentuk investasi paling rendah risikonya. Tujuan untuk investasi tentu untuk mendapat keuntungan. Salah satu keuntungan yang didapat dari tabungan adalah bunga atau bagi hasil dari pihak bank. Serta yang paling penting keuntungan non materi. Yakni, kerukunan dan kebersamaan dengan tetangga (sesama) untuk tabungan arisan dan tabungan sampah.



5. Cara Menabung

Dalam menabung seseorang punya cara masing-masing. Mulai dari yang unik, kuno, hingga yang termodern. Itu sesuai dengan perkembangan alam pikir mereka yang dipadu dengan ingatan masa anak-anak.


Ada orang yang menyimpan uang di tempat yang tak terduga. Bahkan keluarganya sendiri tak tahu. Misalnya di lubang besi penyangga tangga rumah. Di bawah lantai yang ubinnya telah dimodifikasi. Serta tempat tak terduga lain.


Bagi sebagian yang lain. Cara menabung memang harus dipaksakan. Misalnya melakukan potongan otomatis dari setiap gaji yang didapat. Lantas mengunci tabungan itu hingga sampai waktu tertentu.


Tak hanya itu, kadang seseorang punya banyak tabungan di berbagai bank. Beberapa di antaranya punya fungsi masing-masing. Misalnya Bank A khusus untuk tabungan pribadi (ada minimal batas bawah yang harus dipertahankan).


Di Bank B khusus tabungan untuk urusan operasional atau modal yang digunakan waktu tertentu. Kemudian di Bank C khusus untuk simpanan jangka panjang (ada batas maksimal yang harus dicapai untuk digunakan tujuan tertentu).


Adapun untuk kaum milineal maupun angkatan sepuh yang tak gagap teknologi lebih memilih menggunakan aplikasi dompet elektronik. Selain untuk simpanan jangka pendek, sebenarnya e-wallet itu juga bisa untuk masa depan.




Bagi pengusaha, menabung tidak harus diwujudkan dalam angka atau nominal uang. Itu bisa dilakukan dalam bentuk instrumen investasi yang paling aman. Misalnya membeli logam mulia (emas) dan properti (rumah, apartemen, dan tanah).


Di saat yang tepat, aset yang jadi investasi itu akan dicairkan dalam bentuk uang. Lalu uang tersebut digunakan untuk membiayai pendidikan anak atau yang lainnya. Itu secara tidak langsung juga bagian dari bentuk menabung.


Namun demikian, ada juga yang membedakan antara tabungan dengan investasi. Tabungan itu simpanan yang berbentuk uang yang bisa digunakan kapan saja. Adapun investasi bisa berupa apapun, asal itu bisa menambah kekayaan dalam jumlah banyak dan waktu singkat.





Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)