Waspada Tapi Jangan Fobia, WHO Bilang Penyebaran Virus SARS-CoV-2 Bisa Lewat Udara, Tinja, dan Hewan




Prediksi kami bahwa kelak virus SARS-Cov-2 dapat menyebar lewat udara ternyata tepat. Untuk mengetahui ulasan lengkap kami tentang COVID-19, silakan baca tulisan-tulisan kami tentang Covid-19 dan Corona.


Virus yang jadi biang kladi penyakit COVID-19 di atas memang tak tergolong amat mematikan. Terutama bagi para manusia yang punya imun super. Serta ketika intesitas (kadar) terpapar virusnya tidak banyak dan tak sering (lama).


Akan tetapi virus tersebut sangat mengganggu. Orang yang terjangkit lalu sakit bila pun lolos dari maut, dia harus berjuang keras dulu. Salah satunya mengalami sesak nafas yang menyakitkan. Serta kadang harus dirawat lama.


Hal yang paling membahayakan dari virus ini adalah tingkat penyebarannya yang tinggi. Tak hanya lewat droplet (percikan pernafasan) yang menempel di benda, tapi juga bisa melayang di udara dalam waktu setidaknya 3 jam. 




Pergerakan partikel yang membawa virus (biasanya droplet mikro/nano dengan ukuran kurang dari 5 mikron) juga bisa melayang lebih jauh. Tentu siapapun akan dengan mudah menghirupnya. Lalu bila sedang naas ia akan terpapar.

Ilustrasi paduan suara (sumber gambar)



Kasus di Washington, Amerika pada paduan suara salah satu orang dicurigai telah menularkan 45 orang lainnya di regu itu. Setelah mereka melakukan nyanyi bersama dalam paduan suara.


Pernyataan tersebut dikuatkan WHO (Badan Kesehatan Dunia). Hal itu didasarkan pada temuan awal di lapangan oleh mitra kerja sama mereka yaitu para ilmuwan. Tentu itu berimplikasi harus berubahnya strategi pencegahan.


Salah satu cara sementara yang paling baik untuk menghindari virus adalah jauhi tempat tertutup. Ruang tanpa ventilasi walaupun itu ber-AC sangat rentan virus bergerak leluasa di dalamnya. Sebab virus itu suka udara lembab.


Tak ada angin dan tak ada sinar matahari membuat virus bertahan "hidup" lebih lama. Serta tetap memiliki kekuatan yang cukup untuk masuk lalu menginveksi manusia. Terlebih bila tempat tertutup itu sangat ramai.


Tak hanya menular lewat udara, menurut mereka penularan juga bisa lewat transmisi fecal-oral. Artinya penularan virus yang berasal dari tinja lalu masuk ke mulut. Misalnya saat cebok, tangan tidak dibersihkan sesuai protokol kesehatan.


Mereka juga menemukan kasus penularan virus dari hewan ke manusia. Namun, semua temuan di atas masih benar-benar bisa berkembang. Serta perlu beberapa bukti lain yang harus dihimpun lalu ditafsirkan lebih lanjut.


Tidak boleh senang dulu. Sebaliknya pula tak boleh paranoid. Sebab kemungkinan penularan lewat udara (airborne transmission) memang nyata adanya. Pun ada kemungkinan hanya pada kasus-kasus tertentu.


Meski sekali lagi kami tekankan seperti di atas, orang yang terpapar virus belum tentu jatuh sakit. Banyak faktor dan kasus yang masih perlu dipelajari. Sebab, setiap satu kasus berlaku di satu tempat, tapi belum tentu di tempat lain.




Sumber: 

https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200708181346-134-522449/who-sebut-penyebaran-virus-corona-bisa-lewat-udara


https://www.bbc.com/indonesia/majalah-53344413






Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)