Kisah Teladan Ustadz Changyi Ho, Bikin Haru dan Takjub




Komunitas mahasiswa di kampus ternama sedang mengadakan lomba pidato, kuis, azan, hingga pentas seni bertemakan Islam. Peserta acara tersebut ditujukan untuk siswa-siswa SMA dalam skala nasional.



Kegiatan itu diikuti sejumlah lembaga pendidikan jenjang menengah. Mulai dari madrasah, sekolah pesantren, maupun sekolah umum. Mereka semua bersaing ketat untuk memborong piala. Paling tidak, satu saja sudah cukup.


Hadirlah rombongan peserta dari salah satu sekolah berbasis pesantren. Mereka ditemani oleh guru pembimbing yang bernama Ustadz Changyi Ho. Beliau sosok guru yang dikenal pengertian, baik hati, dan bijaksana.


Kebetulan pesantren tempat mengabdi Ustadz Changyi terdapat semua tingkat pendidikan. Mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA, dan Perguruan tinggi. Beliau pernah mengajar semuanya, kecuali di PAUD dan universitas.




Tiba di saat momen menggetarkan terjadi. Salah satu mahasiswa yang jadi panitia kegiatan itu secara tak sengaja melihat Ustadz Changyi. Dengan seketika ia langsung merunduk sambil mencium tangan putih beliau.


"Masih ingatkah dengan saya Ustadz?"


Sambil mengawasi siswa yang sedang "menata diri" di tempat lomba beliau menjawab "Maaf, ini siapa ya? Sepertinya kita pernah bertemu."


Mahasiswa ganteng itu terheran-heran dalam hati. Kemudian berujar "Mohon maaf, apakah Ustadz benaran tidak ingat saya?"

Banjirembun.com
Ustadz Changyi mencoba mengingat-ingat. Sebelum lisan beliau menebak, mahasiswa itu langsung mengutarakan kenangan masa lalu.


"Saya Lian Syazwan, santrinya Ustadz yang dulu pernah mencuri cincin akik mahal milik teman sekelas di SD pesantren. Cincin itu milik orang tuanya yang dibawa ke sekolah untuk ditunjukkan ke teman-teman."


Sekolah SD di Pondok pesantren itu hanya dikhususkan untuk laki-laki. Jumlah siswa perkelasnya juga dibatasi. Satu kelas maksimal dihuni oleh 25 anak. Serta wajib memakai kopiah. Baik itu dalam kelas maupun saat jam istirahat.


Pengajar atau Ustadz yang memberi ilmu di kelas untuk mata pelajaran tertentu juga kerap berganti-ganti. Hal itu dilakukan agar santri bisa bertambah dan terbuka wawasannya sejak dini. Salah satunya ialah Ustadz Changyi.


Mendengar pengakuan jujur anak itu, Ustadz Changyi mulai memperhatikan dan serius berdialog dengannya.


"Saat itu pemilik batu akik menangis, lantas Ustadz menyuruh kami semua berdiri, untuk diadakan penggeledahan."


Ilustrasi cincin batu akik (sumber gambar)

"Ketika itu saya berprasangka buruk, pasti Ustadz akan mempermalukan saya di hadapan santri dan Ustadz lain. Saya takut jadi bahan olokan hingga dijuluki pencuri. Saya berfikir itu akan jadi akhir dari segalanya."




Sesekali Ustadz Changyi menyela. Salah satunya dengan bertanya "Lalu saat itu apa yang terjadi?"

Banji Embun
"Bapak saat itu meminta kami semua berdiri mengarah tembok. Lantas semua mata kami harus ditutup rapat dengan sarung yang diambilkan oleh ketua kelas di kamar asrama."


"Saya makin terkoyak, buat apa semua siswa dikumpulkan dengan ditutup mata, apakah mata saya nanti bakal tetap tertutup lalu yang lainnya dibuka saat cincin akik sudah ketemu di saku saya? Saya mencoba pasrah."


"Satu persatu Ustadz memeriksa dengan merogoh semua kantong celana santri. Tiba pada giliran saya Ustadz mengambil cincin itu. Tanpa sepatah kata pun, lantas Ustadz melanjutkan mengeledah sampai santri terakhir."


"Setelah usai, Ustadz memerintahkan kami semua membuka penutup mata dan kembali lagi ke tempat duduk. Saya masih khawatir Ustadz akan mengumumkan siapa pencurinya."


"Ustadz tunjukkan dan berikan cincin akik berharga itu pada pemiliknya, tanpa mengucapkan nama saya sebagai pengambil."


Semenjak peristiwa itu, santri yang sekarang menjadi mahasiswa semester 6, tidak pernah mendengar ada teman atau Ustadz lain yang menyinggung masalah pencurian. Kasus itu menjadi gelap. Saking rapatnya tersimpan seakan menguap.


Ustadz Changyi menegaskan sesuatu yang makin membuat mahasiswa itu heran.


"Mohon maaf saya tidak tahu kalau itu adalah Mas Lian yang telah mengambilnya."


Anak muda itu seakan tidak terima. Dengan nada yang masih halus dan sopan ia bertanya "Bagaimana Ustadz tidak tahu? Apakah Ustadz pura-pura tidak tahu agar tidak menyakiti hati saya?"


Ustadz itu memaparkan penjelasan yang tak akan diduga oleh siapapun.


"Benar saya tidak mengetahui siapa pengambil akik itu. Saat menggeledah, saya sengaja menutup rapat mata. Supaya tak mengenali pelakunya."


"Saya tak mau kecewa pada satu santri pun, karena saya tetap terus ingin mencintai santri-santri saya meskipun sayang baru mengajarnya di kelas satu kali."





TAMAT


Disclaimer: Cerita hasil ubahan dari kisah yang disebarkan melalui media sosial. Sebagian besar redaksi (susunan kata/tulisan) telah diperbarui. Namun demikian terkait masalah nilai, pesan moral, serta ide pokok cerita tetap mengacu pada kisah yang telah beredar luas tersebut. Bagi pihak siapapun yang merasa dirugikan atas tulisan ini silakan layangkan keberatan tersebut ke email kami di: hak_cipta@banjirembun.com


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)