5 Bentuk Kedurhakaan Orang Tua pada Anak, Salah Satunya Memfitnah

Banjirembun.com - Kedudukan orang tua dibanding anaknya sampai kapan pun tak akan dapat berubah. Jangankan bergeser atau bertukar "nasib", setara pun tidak mungkin pernah terjadi. Sejahat-jahatnya perlakuan orang tua, sang anak tetap wajib berbakti kepada mereka. Asal bakti dalam bentuk memberi, ketaatan, hingga rasa hormat tersebut bukan terkait masalah pelanggaran agama maupun pidana.


Siapa bilang semua orang tua "beres" dalam mengasuh anaknya. Nyatanya, tak sedikit anak-anak telah terzalimi dan "didurhakai" oleh orang tua sendiri. Sayangnya, selama ini label durhaka cuma berlaku pada anak. Semestinya gelar yang setara dengan itu juga dapat diberikan pada orang tua. Itu dilakukan tatkala mereka telah berbuat lalim, keji, dan biadab pada anaknya.

Lantas seperti apa saja bentuk kedurhakaan orang tua pada anaknya? Berikut ini penjelasan lebih detailnya:


1. Memfitnah

Pasti siapapun yang lahir serta berada di bawah asuhan orang tua yang "benar" akan terperanjat tentang kenyataan bahwa orang tua ada yang memfitnah anaknya. Bila memang lebih ingin diringankan konotasinya maka menggunakan bahasa lebih halus dari fitnah yaitu menuduh. Menuduh anaknya minta-minta warisan atau minta uang dengan cara memaksa lantas diceritakan pada anak lain. 


Memfitnah telah boros dan selalu minta-minta uang dari orang tua. Padahal walau boros pun itu uangnya sendiri. Bukan hasil "ngemis" dari orang tua. Belum lagi memfitnah salah satu anaknya sudah iri pada saudara kandung yang lain. Padahal yang terjadi si anak cuma ingin meminta keadilan dan kesetaraan karena selama ini telah dizalimi orang tua. Namun, malah dituduh sedang iri.


Si anak minta kejelasan dan kepastian tentang pembagian harta yang dihibahkan oleh orang tua pada seluruh anaknya seperti apa. Akan tetapi orang tua malah "membelokkan" atau membolak-balikkan omongan bahwa si anak minta-minta warisan. Padahal tujuan si anak seperti itu supaya anak (saudara kandung) yang lain jangan iri dan dengki. Biar gamblang seperti apa pembagian harta dari orang tua.


2. Adu Domba Antar Anak

Orang tua yang beradab dan berpikir dewasa tentu tak akan membiarkan anak satu dengan yang lain bertengkar. Apalagi terkesan sengaja membuat anak yang satu iri dengan yang lain. Membicarakan keburukan anak supaya saling memusuhi. Dengan cara membolak-balikan perkataan sehingga timbul bias, ambigu, multitafsir, dan keruwetan. Tanpa memberi nasihat dan pengertian tentang fakta-fakta dan kronologi yang terjadi.


Orang tua tidak pernah mempertemukan anak-anak mereka dalam satu forum untuk berbicara bersama. Kendati kelihatannya satu rumah yang terjadi pembicaraannya sendiri-sendiri. Bukan membicarakan masalah serius maupun saling curah pendapatan. Menyampaikan uneg-uneg supaya tidak ada lagi yang "buram" dan saling curiga. Itulah akibat orang tua otoriter yang dialognya dilakukan satu arah dari orang tua ke anak.

Ilustrasi perlakuan buruk orang tua pada anak (sumber gambar)


3. Pilih Kasih yang Berlebihan

Orang tua yang condong pada salah satu anaknya dibanding anak yang lain sangatlah wajar. Ada alasan dan kesan tersendiri mengapa orang tua lebih "tertarik" pada anak tertentu saja. Namun, ketika tidak berbuat adil sehingga sudah keterlaluan pilih kasihnya itulah kebejatan namanya. Terlebih pilih kasihnya bukan cuma urusan harta dan kasih sayang. Melainkan pula soal kebebasan si anak dalam memilih tujuan hidup.


4. Mengumbar Keburukan Anak

Semua manusia pasti punya dosa. Tak ada manusia tanpa dosa di dunia ini. Semestinya yang namanya dosa disimpan rapat-rapat bukannya malah mengumbar. Orang tua yang bercerita pada orang lain lantas lebih-lebih disertai menbambahi dan mendramatisir tentang perbuatan si anak itu sungguh keterlaluan. Padahal kenyataannya tidak demikian. Meski ada benarnya tapi tak dijelaskan secara utuh seperti apa kronologi, sebab-akibat, hubungan dengan kasus lain, hingga motif-motif anak melakukan hal tersebut.


5. Tidak Mengarahkan Hidup Anak

Bukannya mengarahkan hidup si anak yang terjadi justru orang tua krecoki alias merusuhi kehidupan anak. Terbukti setelah nikah yang seharusnya mendukung terciptanya kedamaian rumah tangga anaknya yang ada hanya bikin runyam. Belum lagi saat masa pertumbuhan dan perkembangan anak yang tidak didukung potensinya. Bakat dan minatnya dihambat dan dihalangi. Dijerumuskan pada bidang lain di luar kemampuan anak. 


Perilaku buruk lain yaitu membohongi si anak dan mengajari serta menjerumuskan anak untuk berbohong atau berkata tidak benar. Misalnya memberitahu anak bahwa kakaknya sedang menempuh S2 di Malaysia padahal yang terjadi cuma jadi TKI di sana. Hal itu supaya si anak yang dibohongi tidak menceritakan hal sebenarnya pada para tetangga. Hal buruk lain adalah memberi harapan palsu pada anak. Diberi janji atau dijanjikan sesuatu terkait masa depan (misalnya dijanjikan diberi garapan sawah/ladang) tapi nyatanya tidak diberi padahal mampu untuk menunaikannya.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Kumpulan Group WhatsApp Berbagai Komunitas Koleksi *Banjir Embun*

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)