3 Cara Salah Kaprah Ingin Menjadi Manusia Produktif

Selama ini produktivitas disalahpami sebagai bentuk kegiatan atau aktivitas yang terlihat kasat mata. Padahal, orang dikatakan produktif apabila ia mampu memproduksi sesuatu sesuai target secara optimal. Semakin cerdas dalam berproses akan semakin membuat tubuh tidak cepat lelah.


Sejatinya, menjadi orang produktif bukan berarti harus kerja berlebihan. Menyiksa diri mengerjakan sesuatu yang bikin capek fisik dan pikiran. Walau hasil yang dicapai begitu gemilang, itu tak sebanding dengan "kerusakan" tubuh dan otak. Kalau tidak saat muda, di hari tua bakal sakit-sakitan.

Menjadi produktif bisa dilakukan menggunakan kerja cerdas. Yakni, bertindak senyaman dan sebahagia mungkin sehingga dapat dinikmati prosesnya. Akan tetapi menghasilkan produk atau karya lebih banyak serta berkualitas. Bisa dikatakan, produktif yaitu melakukan sesuatu dengan keren dan dapat bikin "wow".


Sayangnya masih ada saja orang yang menjadi manusia produktif tapi dilakukan secara salah. Setidaknya ada 3 hal yang mereka lakukan sehingga bukannya menjadi bahagia malah memperoleh ketidakakberkahan.


1. Mengutamakan Kecepatan

Manusia bukanlah robot maupun komputer yang dapat mengerjakan sesuatu dengan cepat secara terus-menerus. Bagaimanapun, raga dan jiwa mereka mempunyai batas kejenuhan. Tatkala terus dipaksa untuk bekerja secepat mungkin barangkali tentu dapat berisiko dalam jangka panjang.


Tergesa-gesa dan bekerja cepat bukanlah cara terbaik untuk menunjukkan sebuah produktifitas. Melainkan bekerja secara efektif serta tenang yang akan membuat seseorang jadi terlatih. Lebih baik dalam bekerja dilakukan dengan tenang dan fokus. Tak perlu memamerkan kecepatan, tapi perlihatkan ketelitian maupun ketepatan.


2. Bekerja Lebih Lama

Menjadi produktif tidak harus melakukan pekerjaan dengan lama. Misalnya, sering berlembur di kala yang lain sudah istirahat. Cara meningkatkan produktifitas seperti itu sungguh melelahkan. Mendingan bekerjalah yang wajar tapi dilakukan penuh "sadar" dan kebahagiaan. Dari pada memaksakan diri.


Jangan sampai terkecoh pada penilaian orang. Sebab kebanyakan orang menilai sesuatu dari kulit atau bingkisan. Lebih menghargai bentuk dan apa yang nampak. Padahal yang terpenting dalam hidup itu adalah seberapa keindahan yang dapat dinikmati dalam sebuah aktivitas. Lakukan dengan santai tapi tetap terus jalan, sambil memperbaiki kekurangan dan evaluasi diri di tengah-tengah istirahat.


3. Menerima Banyak Pekerjaan

Dulu orang dikatakan tidak sukses karena dianggap malas-malasan. Namun, sekarang ini tak sedikit orang yang tak bahagia lantaran terlalu banyak yang dikerjakan. Baik satu jenis pekerjaan dengan jumlah (kuantitas) super banyak maupun pekerjaan yang tidak berat (sedikit) tapi jenis pekerjaan yang dilakukan variasi (multitasking).

Ilustrasi sedang multitasking (sumber gambar)

Multitasking adalah melakukan sejumlah jenis kegiatan dengan sekaligus dalam waktu berdekatan atau justru bersamaan. Perilaku tersebut merupakan tindakan buruk. Baik itu ditinjau dari pandangan psikologi maupun kesehatan medis. Bahkan, menurut penelitian multitasking justru menurunkan produktifitas sebesar 40%.


Fokus menuntaskan satu pekerjaan tanpa memikirkan pekerjaan lain hingga benar-benar selesai jauh lebih bagus daripada rakus mengerjakan banyak tugas dalam satu waktu. Beberapa efek buruk multitasking ialah konsentrasi mudah pecah, waktu yang dibutuhkan lebih lama, timbul tekanan mental, hingga merusak batang otak.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Pernah Lihat Angka 354 atau 313 di Warung? Itu Kode Angka Organisasi Keagamaan Indonesia

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Tanya Jawab Tentang Filsafat Pendidikan Islam dan Upaya Pembaruan Pendidikan Islam

Visi dan Misi dalam Bekerja

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece