Jangan Salah Pilih Panutan, Inilah Kriteria Ustadz dan Ustadzah yang Patut Dijadikan Tuntunan

Banjirembun.com - Hampir semua individu pasti punya panutan dalam hidupnya. Setidak-tidaknya sosok yang diteladani itu adalah orang tua atau wali yang mengasuhnya. Begitu pula panutan dalam urusan agama. Mesti tepat dalam memilih penuntun tersebut.


Orang tua mungkin dapat dijadikan patokan dan pedoman dalam segi tertentu. Akan tetapi mereka hampir dipastikan tidak mampu mengatasi semua kebutuhan ilmu dan pengalaman anaknya. Sebab mereka punya keterbatasan.

Termasuk juga pada kasus belajar agama. Orang tua belum tentu bisa mengatasi kebutuhan akhirat anaknya tersebut. Oleh sebab itu, dalam urusan iman perlu diamanahkan pada guru agama atau ustadz. Agar tepat, cepat, dan kuat.


Jangan Salah Pilih Ustadz Sebagai Panutan dan Tuntutan

Belajar agama memang dapat dilakukan di mana pun, kapan pun, melalui media apa pun, hingga dengan cara bagaimana pun. Asal semua itu tidak melanggar pidana maupun perintah agama. Termasuk belajar di internet sekalipun.


Sayangnya, kerapkali masyarakat cuma mencukupkan belajar tentang Islam melalui internet, buku, atau televisi. Tanpa disertai dengan bertemu atau bertatap langsung pada ahli agama. Guna berdiskusi atau bertanya jawab.


Bagaimana pun keberadaan Ustadz sebagai guru agama wajib ada saat belajar agama. Sebab, bila ditemui masalah pelik yang tak dapat diselesaikan hanya lewat media teknologi maka keberadaan figur tokoh agama teramat membantu.


Tatkala seseorang ingin belajar agama seyogyanya pula tidak boleh sembarangan pilih ustadz. Jangan cari ustadz yang cuma pintar mengaji, mendalil, serta bertetorika. Carilah yang dapat mengantarkan pada kebahagiaan dunia dan akhirat.


Berikut ini kriteria ustadz dan ustadzah yang patut dijadikan tuntunan.


1. Mengajarkan Kedamaian

Ustadz yang mengajarkan ketenangan jiwa, perdamaian, dan hubungan sosial yang harmonis dapat dijadikan tuntunan. Sebaliknya siapapun yang mengajarkan untuk anarkis, brutal, dan main fisik tanpa alasan hukum yang jelas baiknya ditinggalkan.

2. Memantapkan Aqidah

Ustadz yang cuma mengajarkan cara beribadah yang sesuai dengan hukum Islam tanpa menanamkan aqidah yang benar juga tak layak jadi panutan. Aqidah merupakan pondasi dalam beragama. Aqidah yang rusak dapat membatalkan atau menghapus semua pahala ibadah yang dilakukan.


3. Menyeimbangkan Dunia dan Akhirat

Ustadz yang hanya mengajak fokus pada akhirat atau sebaliknya cenderung terlena pada dunia bukanlah sosok yang patut jadi pedoman. Menjadi muslim yang baik sepatutnya unggul di dunia maupun sukses di akhirat.

Ilustrasi sosok panutan (sumber foto pixabay)


4. Menyenangkan dan Tidak Menegangkan

Setelah umat Islam mengikuti pengajian atau ceramah ustadz seharusnya membuat mereka senang pada Islam. Memberi kabar menyenangkan dan meringankan. Bukan sebaliknya bikin tegang, gontok-gontokan, dan serba tidak nyaman.


5. Memberi Contoh Perilaku Islami

Ustadz dan ustadzah abal-abal (palsu) hanya ingin cari popularitas dan penghasilan besar. Mereka tidak punya yayasan Islam, pondok pesatren, atau lembaga sosial keagamaan lain. Perilaku sehari-hari jauh dari kata Islami.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Contoh Visi dan Misi Pribadi

Pernah Lihat Angka 354 atau 313 di Warung? Itu Kode Angka Organisasi Keagamaan Indonesia

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Tanya Jawab Tentang Filsafat Pendidikan Islam dan Upaya Pembaruan Pendidikan Islam

Visi dan Misi dalam Bekerja

Arti SHP dalam Serial Anime One Piece