Menerjemahkan al Quran Tak Sesederhana Memaknai Lantunan Azan Seperti di Televisi

Banjirembun.com - Bagi yang belum pernah belajar bahasa al Quran secara benar dan tuntas tak boleh serampangan menerjemahkannya. Menganggap bahasa Quran sesederhana seperti makna lantunan azan yang terasji di layar TV saat Maghrib tiba.



Kunjungi situs terbaik 2021 yaitu www.banjirembun.com

Bahasa Arab yang dipakai pada al Quran merupakan pilihan, unggul, dan bernilai tinggi. Hanya orang-orang yang pakar atau ahli di bidang tersebut yang punya otoritas menerjemahkan. Tentu ia juga mesti ahli bahasa lokal.

Sebuah kesalahan teramat fatal ketika menerjemahkan al Quran ke bahasa jawa dilandaskan dari terjemahan bahasa Indonesia. Artinya, translite yang dilakukan bukan dari bahasa Quran ke Jawa tetapi dari terjemahan bahasa Indonesia.


Fenomena akhir-akhir ini banyak ustadz abal-abal. Mengaku dirinya ustadz tapi membaca al Quran saja tidak benar. Bahkan masih kalah dengan bacaan santri pemula di pondok pesantren. Cuma mengandalkan semangat dan nekat.


Untuk berdakwah dan mensyiarkan agama Islam melalui berceramah tidaklah cukup mengandalkan pandai bicara, berorasi, dan kelihaian mempengaruhi massa. Seorang penceramah mesti menguasai ilmu-ilmu tentang al Quran.


Kalau memang tidak mampu, mendingan dakwah dan syiar Islam dilakukan dengan cara lain. Bukan dengan berceramah. Melainkan dengan cara bersedekah, membuat konten video motivasi Islami, hingga berperilaku atau berakhlak islami.


Alasan tidak boleh sembarang orang dibebaskan mengajarkan kandungan al Quran pada pihak lain.


1. Seorang penerjemah al Quran mesti fasih dan benar tajwidnya dalam membaca al Quran. Jangan berharap mampu mengkaji makna al Quran secara sempurna sebelum bisa melatunkan Quran.


2. Definisi al Quran itu jelas. Yakni, kitab Suci berbahasa arab yang setiap hurufnya sudah ditetapkan susunannya dan tidak boleh dirubah walau satu huruf sekalipun. Jadi, al Quran yang ada terjemahan bahasa lain itu bukanlah al Quran.


3. Sebuah buku atau kitab yang hanya berisi terjemahan seluruh isi al Quran (misal terjemahan bahasa Indonesia) tanpa ada bahasa Quran, itu bukanlah al Quran. Bukan pula al Quran terjemahan. Cuma bacaan tentang terjemahannya.


4. Orang yang hanya membaca terjemahan al Quran tanpa membaca bahasa al Quran tidak akan mendapat pahala. Sedang orang yang membaca al Quran disertai berusaha menghayati maknanya bakal mendapat pahala dobel.


5. Untuk mendalami al Quran diperlukan pendalaman terhadap pembahasan ulumul Quran, penguasaan bahasa arab, nahwu saraf, hingga tajwid. 

Komentar

Baca juga postingan berikut:

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Kumpulan Group WhatsApp Berbagai Komunitas Koleksi *Banjir Embun*

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Contoh Visi dan Misi Pribadi

PENELITIAN KEPUSTAKAAN (LIBRARY RESEARCH)