Alasan Baik dan Buruk Seseorang Memutuskan Berpenampilan Islami

Banjirembun.com - Seseorang berpenampilan apapun itu merupakan hak mereka. Asal tidak melanggar norma atau kearifan lokal di sekitar. Itu suatu hal yang sah-sah saja. Termasuk memutuskan berpenampilan Islami. Apapun tujuannya tak boleh dilarang.


Hal yang perlu diperhatikan bahwa penampilan yang ditunjukkan tanpa maksud menyinggung umat agama lain. Misalnya orang Islam berpenampilan layaknya biarawati untuk muslimah atau berbusana persis seperti pendeta untuk pria Islam.

Jangan kaget tatkala tiba-tiba banyak orang yang berpenampilan Islami menjelang pilkada, saat bulan ramadan, atau karena ingin membuat konten video komersial. Sebab banyak alasan orang ingin tampil Islami. Termasuk niat buruk.


Berikut ini alasan mengapa seseorang memutuskan berpenampilan islami.


1. Hijrah

Niat hijrah yang tulus karena ingin menggapai rida Allah SWT merupakan salah satu tujuan baik dari orang mau berubah menjadi Islami. Berhijrah dari kesesatan menuju ketaatan. Pindah dari Islam yang setengah-setangah menjadi kaffah.


Salah satu indikator seseorang berhijrah tentu diawali dari berubahnya tampilan, baru kemudian perilaku (akhlak), lantas diperkuat dengan aqidah. Jangan heran banyak pihak yang baru hijrah punya akhlak dan aqidah masih sangat lemah.


2. Personal Branding

Personal branding adalah upaya memasarkan diri guna diakui, dikenali, hingga difanatiki oleh banyak orang. Lebih lanjut tentang hal itu silakan buka tulisan kami "Pentingnya Personal Branding untuk Kesuksesan Pribadi dan Karir Pegawai".


Dengan berpenampilan Islami proyek atau misi personal branding jadi lebih mudah. Terutama ketika sasaran yang dibidik masyarakat muslim taat. Dengan itu produk, dagangan, jasa, atau konten yang dia buat bakal diterima mereka.

Ilustrasi busana umat Islam (sumber gambar pixabay)


3. Riya'

Jika personal branding target akhirnya adalah untuk keuntungan finansial maka riya' titik tujunya yaitu unjuk diri, ingin dipuji, dan mendapat posisi di mata orang lain. Keduanya merupakan hal beda. Tak boleh disamakan.


Personal branding dapat dilakukan oleh siapapun. Baik itu oleh muslim taat dan beriman kuat maupun oleh muslim abal-abal dan munafik. Sedang riya' sudah jelas dilakukan atas dasar tidak ada rasa ikhlas untuk mendapat rida Allah SWT.

4. Tekanan Pekerjaan

Ketika dapat kontrak kerja sinetron, pembawa acara, atau yang semacamnya di televisi individu biasanya rela memakai hijab. Tentu setelah acara tersebut selesai jilbab yang dipakai bakal dicopot lagi. Semua itu tidak lebih karena tuntutan kerja.


Fenomena buka tutup "kelambu" itu tak cuma di dunia hiburan layar kaca. Para penjual takjil atau panganan kala ramadan pada sore hari juga banyak yang tampil Islami. Memaki kupyah (peci), gamis, kerudung, atau yang semacamnya.


5. Kewajiban Sekolah dan Kampus

Bagi yang sekolah berbasis agama Islam tentu semua santri atau peserta didik putri diwajibkan berjilbab. Kadang untuk putranya diwajibkan pula berkopyah. Begitu pula di universitas atau kampus berhaluan keagamaan Islam.


Sayangnya, terkadang pakaian Islami itu cuma dikenakan saat di area lembaga pendidikan atau lingkungan sekitar. Namun, tatkala di rumah atau kost jilbab itu dilepas. Setidak-tidaknya setelah lulus baru tidak lagi memakai jilbab.


6. Pengaruh atau Tuntutan Hidup Bermasyarakat

Lingkungan masyarakat lagi semarak menggerakkan kegiatan agama. Misalnya seperti yasinan, sholawatan, tahlilan, pengajian, atau sejenisnya. Tentu penampilan mereka jauh lebih Islami. Bahkan berpengaruh pada kehidupan sehari-hari.


Sebagai makhluk sosial terkadang individu merasa malu, serba tak enak, serta tak nyaman kalau jadi berbeda sendiri. Tetangga lain tampil Islami dan melakukan kegiatan keagamaan. Oleh sebab itu, ia ikut-ikutan supaya tak dikucilkan.


7. Mengelabui, Menipu, dan Berbuat Jahat

Orang yang melakukan bom bunuh diri seperti teroris, penipu, atau penjahat kadang mengenakan busana muslim. Alasannya tentu untuk mengelabui calon korbannya. Supaya target mudah percaya dan merasa aman di sisi mereka.


Pernah ada kasus penipu naik mobil mengenakan pakaian khas Islam. Umumnya sering digunakan oleh para kyai atau ulama saat berceramah. Modusnya bertanya-tanya pada korban lantas merampas tas korban saat lengah.


Komentar

Baca juga postingan berikut:

Link Grup WA Terbaru 2020

Visi dan Misi dalam Bekerja

Ratusan Stiker WhatsApp Lucu, Konyol, dan Menarik

Kumpulan Group WhatsApp Berbagai Komunitas Koleksi *Banjir Embun*

Contoh Visi dan Misi Pribadi