Aku Hanya Bertanggung Jawab Atas Jiwaku
Oleh: Aluna
Dalam hidup, kita sering merasa terbebani oleh kehidupan orang lain. Setiap kata, setiap sikap kecil yang kita lakukan, kadang terasa seperti bisa memicu gelombang besar—efek kupu-kupu yang tak terlihat. Kita takut salah, takut menimbulkan kerugian, atau bahkan berharap bisa membawa kebaikan yang luas.
Aku pernah berada di titik itu: terlalu khawatir apakah perilaku kecilku akan berdampak buruk pada seseorang, atau malah berharap efek positif besar menjalar hingga ke orang-orang di sekitarnya. Aku menyadari, energi batin yang terkuras itu justru meninggalkan ruang kosong dalam diriku sendiri.
Seiring waktu, aku belajar satu prinsip sederhana namun mendalam:
Aku hanya bertanggung jawab atas jiwaku.
Artinya, aku hadir untuk yang tulus, dan melepas yang bukan tugasku. Orang lain—dengan segala kerumitannya, luka-luka, dan harapan mereka—adalah tanggung jawab mereka sendiri. Aku tidak bisa, dan tidak seharusnya, memikul seluruh beban itu.
Melepas bukan berarti acuh
Dalam proses itu, kedamaian mulai hadir. Aku bisa fokus pada batinku sendiri, memulihkan energi, dan merawat hidupku dengan cara yang nyata. Saat aku berdamai dengan diriku, dampak positif yang ingin kubawa ke dunia muncul secara alami—bukan karena aku memaksanya, tapi karena ketulusan yang terpancar dari jiwaku sendiri.
Efek Kupu-Kupu yang Sehat
Dengan begitu, aku tetap hadir, tapi tidak terseret drama yang bukan tugasku. Aku menjaga energi, jiwaku, dan kasih yang tulus tetap hidup. Damai hadir bukan karena orang lain berubah, tetapi karena aku memelihara ketenangan di dalam diri sendiri.





Terima kasih telah membaca tulisan kami berjudul "Aku Hanya Bertanggung Jawab Atas Jiwaku"
Posting Komentar
Berkomentar dengan bijak adalah ciri manusia bermartabat. Terima kasih atas kunjungannya di *Banjir Embun*