Terbaru · Terpilih · Definisi · Inspirasi · Aktualisasi · Hiburan · Download · Menulis · Tips · Info · Akademis · Kesehatan · Medsos · Keuangan · Konseling · Kuliner · Properti · Puisi · Muhasabah · Satwa · Unik · Privacy Policy · Kontributor · Daftar Isi · Tentang Kami·

Profil A. Rifqi Amin pendiri *Banjir Embun*

Profil A. Rifqi Amin pendiri *Banjir Embun*
Ketik "A. Rifqi Amin" di Google untuk tahu profil beliau. Bisa pula, silakan klik foto A. Rifqi Amin di atas guna mengetahui biografi beliau.

Cintaku, Aku Rela Potong Jenggot Demi Kamu

 Meski kamu tak memaksa, bahkan enggak pernah berkata langsung meminta aku agar potong jenggot, tetap saja diri ini terdorong membersihkan rambut bawah dagu. Itu bukan demi menunjukkan cintaku padamu lalu aku berharap kamu juga buktikan balik cintamu padaku. Sebab, cinta bukanlah transaksi. Aku memotong jenggot murni ingin membahagiakanmu secara tulus.





Baca tulisan menarik lainnya:

Duhai Cinta, Ingatlah di Kafe itu tentang Kisah Aku dan Kamu Duduk Berlama

 Kamu pernah berkata entah bercanda atau beneran "Bagaimana kalau aku hamil saja biar orang tua kita setuju?" Aku langsung diam nge-freeze. Bukan karena tak setuju dengan ide itu. Toh bisa ngaku hamil padahal enggak hamil. Bukan pula setuju secara membabi buta demi tetap berhubungan bersamanya sampai menua.





Baca tulisan menarik lainnya:

Terima Kasih Cinta, Kamu Mau Aku Ajak Jalan Bersepeda Motor Lintas Provinsi

 Kita memang sama-sama ndablek alias keras kepala. Orang tuaku melarang berhubungan dengan cewek Chindo seperti kamu dan orang tuamu menyuruhmu fokus mengembangkan bisnis. Alih-alih mematuhi, justru kita tetap tegas bersepakat selalu bernyaman-nyaman ria. Cukup dengan langkah naik sepeda motor boncengan ratusan kilometer di pagi buta hingga siang bolong sudah bikin kita bahagia.





Baca tulisan menarik lainnya:

Puisi: Nyaman Bersamamu

 Puisi: Nyaman Bersamamu





Baca tulisan menarik lainnya:

Lebih Baik Terjebak Macet karena Masih ada Tujuan daripada Terjebak Rasa Nyaman tanpa Kepastian

 Baru saja aku menonton video short YouTube isinya tentang ucapan "Lebih baik terjebak macet karena masih ada tujuan daripada terjebak rasa nyaman tanpa kepastian." Kalimat panjang tersebut mampu bikin aku merasa perlu berpikir sejenak tentang bagaimana semestinya hubungan aku dengan dia yang sedang menggantung seperti sekarang. 





Baca tulisan menarik lainnya:

Kamu Terlalu Indah untuk Dilewatkan, Izinkan Aku Memperjuangkan Hubungan Kita Mati-matian

 Aku khawatir kisah perpisahan dengan orang tercinta yang sekarang masih diusahakan untuk tetap dijalani bakal menyisakan bara di bawah sekam hitam. Seperti kisah cinta pertama aku dulu di masa SMA. Kelihatannya dulu aku mampu simpan sendirian. Ternyata, setelah lulus sekolah pada tahun 2005 hingga waktu pertengahan nikah, tepatnya September 2022, akhirnya tak tertahan sehingga meletup begitu saja.





Baca tulisan menarik lainnya:

Cerita Kita Sulit Dicerna, tak lagi Sama Tujuan Hidupnya

 Tanpa berucap "Yuk kita jadian" atau "Aku cinta kamu" sudah bikin dia tahu bahwa aku mencintainya. Sebaliknya, tanpa dia genit dan minta kepastian-kejelasan dariku pun telah bikin aku yakin bahwa dia juga menyambut rasa cintaku tersebut. Kami berhubungan dengan mekanisme jalur interaksi hati dan ritme. Bukan dengan umbar kata-kata.





Baca tulisan menarik lainnya:

Di Kota ini Aku Kenal Chindo Manis, tapi sepertinya Tuhan Berkendak Beda

 Jangan berprasangka buruk pada Tuhan. Jangan gunakan logika manusia untuk memahami kehendak Tuhan. Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba. Itulah sejumlah kalimat yang aku terima selama ini. Baik dari lisan insan secara langsung di depan mataku maupun video di media sosial. Tentu, medsos itu termasuk YouTube.





Baca tulisan menarik lainnya: