Jangan berprasangka buruk pada Tuhan. Jangan gunakan logika manusia untuk memahami kehendak Tuhan. Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba. Itulah sejumlah kalimat yang aku terima selama ini. Baik dari lisan insan secara langsung di depan mataku maupun video di media sosial. Tentu, medsos itu termasuk YouTube.
Nyatanya, jujurly aku masih bingung mengapa Tuhan selalu menyulitkanku dalam upaya merajut kisah cinta dengan cewek yang bikin terpana. Diri ini selalu mengalami kegagalan dalam menjalin hubungan dengan beberapa orang yang paling kucintai. Dan di cerita kali ini pun sepertinya akan sama. Chindo yang aku usahain kini bakal tak berlanjut.
Dia adalah gadis manis. Usia muda. Baru lulus kuliah. Saat aku tanya kenapa mau hubungan dekat denganku, jawabannya "Ya, karena nyaman." Katanya aku juga punya aura misterius. Dia ngaku awalnya cuma penasaran saat mau kenalan denganku yang akhirnya kok terasa ada daya saling ikat tak kasat mata.
Aku dengan dia jarang bertemu. Sekali bertemu pun karena ada kegiatan sama yaitu olahraga jalan kaki di CFD. Betul, aku dan dia kenal di momen khusus setiap Ahad pagi tersebut. Di mana, pertama jumpa aku tak sengaja nyenggol lengannya saat berjalan cepat. Aku langsung minta maaf. Lalu, responnya hanya senyum tipis.
Beberapa menit berlalu ternyata kita bertemu lagi. Giliran aku kasih senyum padanya. Aku terpaksa senyum padanya demi melatih diri. Tanpa peduli respon dia bagaimana. Ternyata, dia balas senyum. Akhirnya aku beranikan untuk kenalan dengannya diawali basa-basi "Baru pertama ya di sini?"
Bersyukur basa-basi itu disambutnya penuh lembut. Gayung bersambut di Ahad pagi beberapa pekan selanjutnya kami selalu bertemu. Awalnya sih cukup banyak ngobrol, tetapi makin ke sini kami lebih sering jalan kaki bersampingan sejajar saling menyeimbangkan ritme jalan dibanding berkata-kata. Pun, saat CFD ditiadakan karena salah satunya libur lebaran, kami pilih olahraga di atas trotoar pada sepanjang jalan tengah kota tanpa banyak kata.
Kami memiliki banyak kesamaan. Hal yang membedakan adalah agama, kultur keluarga, dan kemapanan ekonomi. Aku punya penghasilan yang stabil, tetapi tentu kalah jauh dibandingkan dia. Bagaimana tidak? Meski baru lulus kuliah dia sudah biasa mengelola bisnis keluarga. Namun, aku tak minder dengan hal tersebut.
Jika dia dan keluarganya menyambutku maka tentu bakal aku perjuangkan mati-matian demi kebahagiaan kita berdua. Sayangnya, orang tua dia tak mendukung. Alasan klasik berupa beda agama. Ibu aku sendiri pun tak rela membiarkan aku menikah dengan Chindo. Bahkan, di kala aku mampu mengajak dia mualaf pun ibu tetap tak rida.
Sungguh ini adalah patah hati yang paling retak aku alami. Kalau dulu aku gagal menjalin hubungan dengan cewek tercinta karena kenaifanku sendiri dan kebingungan mau ngapain, sekarang aku terhambat karena faktor eksternal. Meski dia tampak enggak mau renggang begitu saja, nyatanya kini berada dalam kondisi status quo.
Buat apa terus berhubungan kalau akhirnya gagal menikah? Itu pikiran dariku. Beda dengan dia yang tampaknya lebih optimis dengan semboyan "Jalani aja dulu." Baginya tetap menjaga hubungan adalah bentuk ikhtiar. Sebaliknya, bagiku itu adalah spekulasi yang berisiko besar.
Akhirnya, dua pertarungan cara pandang di atas belum ada titik temu. Hubungan kami masih menggantung. Biarkan waktu dan kesendirian yang mendidik kami. Agar kami benar-benar berpikir jernih bagaimana langkah ke depan selanjutnya.
(*)
![]() |
| Ilustrasi simbol jatuh cinta (sumber gambar Pixabay.com) |





Terima kasih telah membaca tulisan kami berjudul "Di Kota ini Aku Kenal Chindo Manis, tapi sepertinya Tuhan Berkendak Beda"
Posting Komentar
Berkomentar dengan bijak adalah ciri manusia bermartabat. Terima kasih atas kunjungannya di *Banjir Embun*